Hantavirus menjadi isu serius di dunia kesehatan setelah terjadi insiden di kapal pesiar MV Hondius pada awal April 2026 saat berlayar di wilayah Afrika Barat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa tiga penumpang meninggal dan sejumlah lainnya menunjukkan gejala yang memerlukan tindakan isolasi. Kejadian ini mengingatkan banyak orang pada pandemi Covid-19 yang sebelumnya melanda, di mana penularan virus berlangsung sangat cepat dan menyebabkan banyak kematian.
Pakar Epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Laura Navika Yamani S.Si., M.Si., PhD, menjelaskan bahwa hantavirus biasanya tidak muncul secara tiba-tiba di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar. Ia berpendapat bahwa kemungkinan besar paparan awal virus ini terjadi sebelum perjalanan dimulai atau saat individu berada di lokasi yang menjadi habitat hewan pengerat sebagai reservoir. “Masa inkubasi hantavirus dapat berlangsung beberapa minggu. Sehingga kasus baru dapat muncul ketika individu sudah berpindah lokasi,” jelas Laura.
Pola Penularan Hantavirus
Laura menambahkan bahwa mobilitas antar negara dalam perjalanan laut dapat memperluas penyebaran kasus tanpa mengetahui lokasi infeksi awal. Ia juga menyatakan bahwa faktor lingkungan seperti perubahan iklim dan pergeseran habitat hewan turut berkontribusi terhadap penyebaran penyakit ini. “Aktivitas manusia di wilayah baru dan meningkatnya ekowisata memperbesar peluang kontak dengan sumber zoonosis yang sebelumnya terbatas di habitat tertentu,” ujarnya.
Hantavirus dapat menular melalui paparan partikel yang berasal dari urin, feses, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi. Penularan tidak hanya terjadi melalui kontak langsung, tetapi juga melalui inhalasi partikel yang terkontaminasi. Oleh karena itu, aktivitas di lingkungan dengan populasi hewan pengerat yang tinggi berisiko meningkatkan infeksi. Meskipun sebagian besar hantavirus tidak menular antar manusia, beberapa strain tertentu seperti Andes virus memiliki kemampuan terbatas untuk menular ke sesama manusia. Laura menekankan pentingnya investigasi epidemiologi dan analisis genomik untuk memahami pola penularan virus ini.
Gejala dan Penanganan Hantavirus
Menurut Laura, gejala awal infeksi hantavirus tidak spesifik, meliputi demam, kelelahan, dan gangguan gastrointestinal. Gejala ini dapat berkembang dengan cepat menjadi pneumonia berat, yang kemudian dapat berlanjut ke kondisi Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) hingga syok. Pasien yang memasuki fase ini memerlukan penanganan intensif di fasilitas kesehatan. Infeksi berat hantavirus atau Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) memiliki tingkat fatalitas yang cukup tinggi. “Pada kasus HPS, tingkat fatalitas dapat mencapai 30–50 persen. Terutama jika penanganan tidak dilakukan secara cepat,” ungkap Laura.
Ia merekomendasikan penerapan pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Laura juga menekankan pentingnya penguatan sanitasi, pemantauan gejala, dan komunikasi risiko yang efektif untuk mencegah penyebaran lebih lanjut. Dalam era mobilitas global yang semakin meningkat, kesiapsiagaan sistem kesehatan dan deteksi dini sangat diperlukan untuk mencegah lonjakan kasus serupa di masa mendatang.
Deteksi awal dan penguatan sistem surveilans kesehatan, termasuk surveilans genomik untuk memahami pola penyebaran virus, sangat penting untuk diimplementasikan.