Kesehatan

Pemahaman Mengenai Kanker Serviks pada Stadium Lanjut dan Gejalanya

Kanker serviks menjadi salah satu masalah kesehatan serius di Indonesia, dengan banyak kasus terdeteksi pada stadium lanjut. Pengetahuan tentang gejala dan faktor risiko sangat penting untuk deteksi d...

A
Ananta Prana
04 July 2026 22 pembaca
Ilustrasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/pepifoto)
Ilustrasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/pepifoto)

Setiap tahun, lebih dari 36.000 kasus baru kanker serviks teridentifikasi di Indonesia. Sayangnya, sekitar 70 persen dari kasus tersebut baru diketahui saat sudah berada di stadium lanjut, yang berpotensi meningkatkan angka kematian secara signifikan. Rendahnya tingkat deteksi dini menjadi salah satu penyebab utama tingginya angka kematian akibat kanker serviks.

Kanker serviks, atau kanker leher rahim, merupakan jenis keganasan sel yang terjadi pada serviks. Penyakit ini bermula dari mukosa di permukaan serviks yang tumbuh secara lokal dan dapat menyebar ke rahim, jaringan sekitar, dan organ panggul.

Kondisi Tubuh pada Stadium Lanjut

Kanker serviks sering kali dijuluki sebagai silent killer bagi perempuan. Penyakit ini biasanya tidak menunjukkan gejala pada tahap awal, sehingga banyak pengidap baru menyadari kondisinya saat kanker telah memasuki stadium lanjut. Menurut Prof Dr dr Yudi Mulyana Hidayat, SpOG, Subsp Onk, terdapat beberapa gejala yang dapat muncul saat kanker serviks sudah mencapai stadium 4. Salah satu gejala yang perlu diperhatikan adalah keputihan yang tidak normal.

"Keputihan itu ada yang bening. Tapi kalau keputihannya sudah berwarna, seperti putih atau kuning, apalagi sampai berbau, itu perlu diwaspadai. Jika keputihan berwarna putih atau kuning dan terdapat mikroorganisme, kita harus mengobatinya sesuai penyebabnya," ujarnya saat konferensi pers mengenai rekomendasi vaksin HPV.

Lebih lanjut, ia menambahkan, "Jika keputihan sudah berbau dan berwarna merah, itu bisa menjadi indikasi kanker." Selain keputihan, perdarahan saat berhubungan intim juga harus diwaspadai. Jika disertai nyeri, ini bisa menunjukkan bahwa kanker telah menyebar dari area mulut rahim.

Pada stadium lanjut, kanker serviks dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti keluarnya feses dari vagina atau kebocoran saluran kemih. Prof Yudi menjelaskan bahwa ini menunjukkan kanker telah menembus dinding antara rahim dan saluran pencernaan atau saluran kemih. "Jika kanker menyebar ke saluran kencing, itu sudah mencapai stadium 4A dan 4B," tambahnya.

Penyebab dan Faktor Risiko Kanker Serviks

Human Papillomavirus (HPV) adalah penyebab utama kanker serviks yang ditularkan melalui hubungan seksual. Terdapat 15 tipe HPV yang dapat menyebabkan kanker serviks, dengan tipe 16 dan 18 sebagai penyebab paling umum. Penularan HPV dapat terjadi melalui hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi, serta dari ibu yang terdiagnosis kanker serviks kepada bayinya.

Beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kanker serviks antara lain:

  1. Merokok: Kebiasaan ini dapat memperpanjang infeksi HPV pada perempuan, sehingga meningkatkan risiko kanker serviks.
  2. Banyak pasangan seksual: Memiliki banyak pasangan seksual atau pasangan yang juga berganti-ganti pasangan dapat meningkatkan risiko terinfeksi HPV.
  3. Aktivitas seksual dini: Memulai hubungan seksual pada usia muda meningkatkan kemungkinan terpapar HPV.
  4. Infeksi menular seksual lainnya: Memiliki infeksi seperti herpes, klamidia, atau HIV dapat meningkatkan risiko infeksi HPV.
  5. Sistem kekebalan tubuh lemah: Individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah lebih rentan terhadap infeksi HPV yang dapat berkembang menjadi kanker.
  6. Paparan obat pencegah keguguran: Wanita yang terpapar diethylstilbestrol (DES) saat dalam kandungan berisiko lebih tinggi terhadap kanker serviks.

Prof Yudi menekankan bahwa meskipun kanker serviks harus diwaspadai, penyakit ini masih bisa diatasi dengan langkah-langkah pencegahan yang tepat dan pemeriksaan rutin.

Pemeriksaan Kanker Serviks

Untuk mendeteksi kanker serviks, beberapa metode pemeriksaan dapat dilakukan, antara lain:

  1. Pemeriksaan Pap Smear: Mengambil sampel sel dari leher rahim untuk mendeteksi tanda-tanda kanker pada tahap awal.
  2. Tes HPV: Untuk mendeteksi keberadaan virus HPV pada leher rahim, menggunakan sampel yang sama dengan tes Pap atau mengambil sampel tambahan.
  3. Biopsi: Jika ada tanda mencurigakan, dokter dapat mengambil sampel kecil jaringan untuk analisis lebih lanjut.
  4. Skrining dengan IVA: Pemeriksaan dengan mengoleskan asam asetat pada leher rahim untuk melihat bercak putih yang menunjukkan sel kanker.

Pemeriksaan rutin sangat penting dalam upaya pencegahan kanker serviks sejak dini, dan Prof Yudi menegaskan bahwa penyakit ini tidak perlu ditakuti, tetapi harus diwaspadai dengan tindakan yang tepat.

Artikel Terkait