Pada Kamis, 30 Juli 2026, Arab Saudi mengumumkan pembentukan aliansi pertahanan maritim multilateral. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan keamanan di Selat Bab al-Mandab, Laut Merah, dan Teluk Aden, di tengah meningkatnya ancaman terhadap pelayaran internasional.
Koalisi yang terdiri dari 14 negara ini berfokus pada penguatan kerja sama dalam menjaga kebebasan navigasi, melindungi jalur perdagangan, serta memastikan kelancaran pasokan energi global. Kesepakatan pembentukan aliansi ini diambil dalam sebuah pertemuan yang diadakan oleh Kementerian Pertahanan Arab Saudi di Riyadh, yang dihadiri oleh delegasi dari 43 negara dan Uni Eropa. Arab Saudi berperan sebagai pendiri sekaligus lokasi markas besar aliansi tersebut.
Tujuan dan Fokus Aliansi
Anggota aliansi ini bersifat defensif, sehingga tingkat keterlibatan dalam operasi akan disesuaikan dengan kebijakan masing-masing negara. "Aliansi ini bertujuan meningkatkan keamanan maritim, melindungi kebebasan navigasi, serta mengamankan jalur perdagangan dan pasokan energi di Selat Bab al-Mandab, Laut Merah, dan Teluk Aden," demikian pernyataan dari Kementerian Pertahanan Arab Saudi.
Kegiatan yang akan dilakukan oleh koalisi ini mencakup koordinasi intelijen, latihan militer bersama, dan penguatan pertahanan laut, dengan tetap berpedoman pada hukum internasional serta Piagam PBB. Pembentukan aliansi ini muncul setelah kelompok Houthi di Yaman mengumumkan pembatasan akses maritim terhadap kapal-kapal yang terhubung dengan Arab Saudi.
Kondisi Keamanan dan Strategis Selat Bab al-Mandab
"Tidak ada penutupan Selat Bab al-Mandab. Pembatasan ini hanya menyasar kapal-kapal yang terkait dengan Arab Saudi," ungkap juru bicara Houthi, Mohammed Abdul Salam. Ketegangan semakin meningkat seiring dengan klaim serangan Houthi terhadap kapal tanker minyak dan ancaman terhadap fasilitas energi Arab Saudi, yang menciptakan risiko keamanan bagi kapal dagang yang melintas di Laut Merah.
Selat Bab al-Mandab merupakan jalur laut strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, dan menjadi rute utama untuk pengiriman minyak serta barang dagangan menuju Terusan Suez. "Perairan ini merupakan jalur utama bagi distribusi energi dan perdagangan internasional dari maupun menuju Terusan Suez," jelas seorang analis maritim. Gangguan pada jalur ini dapat mengganggu pasokan energi dunia, terutama saat arus perdagangan dialihkan dari Selat Hormuz. Dengan adanya aliansi baru ini, negara-negara anggota berharap agar kelancaran perdagangan dan pasokan energi global tetap terjaga.