Pendidikan

Pengalaman Rey, Remaja Samarinda dalam Pertukaran Pelajar di Alaska Melalui Program YES

Rey, pelajar asal Samarinda, Kalimantan Timur, baru saja menyelesaikan program pertukaran pelajar di Alaska, Amerika Serikat, selama sepuluh bulan. Ia terpilih dalam program Kennedy-Lugar Youth Exchan...

D
Dinda Mughni
10 June 2026 8 pembaca
kompas.com Sumber: kompas.com
Pengalaman Rey, Remaja Samarinda dalam Pertukaran Pelajar di Alaska Melalui Program YES
Sumber gambar: kompas.com

Muhammad Rafi Faris Fadillah, yang akrab disapa Rey, merupakan pelajar dari Samarinda, Kalimantan Timur, yang baru saja menyelesaikan masa tinggalnya di Alaska, Amerika Serikat. Selama sepuluh bulan, Rey mengikuti program pertukaran pelajar yang diadakan oleh Departemen Luar Negeri AS melalui Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (YES). Dalam program ini, peserta tidak memiliki pilihan untuk menentukan kota tempat tinggal, termasuk keluarga angkat yang akan mendampingi mereka di Amerika. Meskipun demikian, Rey sempat mencatat dalam formulir pendaftaran bahwa ia ingin merasakan pengalaman bermain salju.

Awalnya, Rey mengaku mengalami kesulitan beradaptasi dengan cuaca dingin di Juneau, tempat ia tinggal, yang dapat mencapai suhu -23 derajat Celsius. Untuk mengatasinya, ia mengenakan pakaian berlapis-lapis. "Terus by time itu tiba-tiba udah terasimilasi gitu, enggak tahu gimana. Ke sekolah pakai sweater doang dan itu host family aku yang kaget," ujar Rey saat diwawancarai di acara Reorientasi YES di Jakarta Pusat.

Kurikulum dan Pengalaman Belajar yang Berbeda

Rey menjelaskan bahwa di Juneau-Douglas High School, sekolah tempat ia belajar, terdapat mata pelajaran wajib seperti matematika, sains, sejarah, dan bahasa Inggris. Namun, sebagai siswa pertukaran, ia diberikan kebebasan untuk memilih mata pelajaran yang diminatinya. "Jadi aku enggak ada matematika setahun," ungkapnya dengan senang hati. Ia memilih untuk mengambil mata pelajaran yang sesuai dengan minatnya, seperti Creative Writing, Marine Biology, Drama, Educators Rising, Sociology, Psychology, dan English.

Meskipun Rey adalah pelajar pertukaran, ia tetap mengikuti ujian dan evaluasi di sekolah. "Aku ada ambil kelas Marine Biology. Itu menarik banget, kita ada nge-fillet salmon, bahkan kita cerita-cerita sama orang native di sana, dan juga melihat langsung gimana orang itu harvest (memanen) anjing laut. Itu menarik banget," tutur Rey. Ia menambahkan bahwa perburuan anjing laut di Alaska diatur secara ketat dan hanya diperbolehkan bagi penduduk asli untuk keperluan bertahan hidup dan kerajinan tangan.

Interaksi Sosial dan Keluarga Angkat

Rey juga mencatat bahwa sekolahnya memiliki banyak siswa dari latar belakang Filipina, sehingga ia sempat dianggap sebagai murid baru dan diajak berbicara dalam bahasa Tagalog. Ia merasa diterima dengan baik oleh teman-teman sekelasnya yang merupakan warga Amerika. "Mereka enggak nge-treat aku sebagai stranger, melainkan kayak udah anak baru aja gitu walaupun beda negara segala macam. Kita benar-benar hangout bareng, aku diajak ke mana-mana," ungkap Rey.

Keluarga angkat Rey sangat menyukai membaca, sehingga topik buku menjadi hal yang sering dibicarakan di rumah. Rey sering belajar sejarah bersama ayah angkatnya dan terlibat dalam berbagai kegiatan keluarga. Ia juga mencoba berbagai pengalaman baru, seperti bermain ski di salju dan menikmati baked salmon yang sering disiapkan oleh ayah angkatnya. Rey bahkan berkesempatan untuk menyaksikan fenomena alam aurora borealis.

Rey merasa bahwa program pertukaran pelajar ini telah meningkatkan banyak kemampuannya. "Di sekolah itu aku banyak banget penelitian segala macam, itu benar-benar ningkatin critical thinking aku dan juga lebih banyak public speaking. Ini benar-benar aku kayak dipersiapkan gitu," tambahnya. Ia juga mencatat bahwa fasilitas di sekolah di Amerika sangat mendukung kegiatan belajar, termasuk adanya laboratorium untuk kelas sains dan gym.

Dengan pengalaman berharga ini, Rey berencana untuk melanjutkan pendidikan S1 di Indonesia setelah kembali dari Alaska.

Artikel Terkait