PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) kini dipimpin oleh Ahmad Yani, seorang profesional berpengalaman di industri ini. Ahmad Yani diangkat sebagai Direktur Utama PGE pada bulan Januari 2026 melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Sebelum mencapai posisi ini, ia memiliki rekam jejak yang mengesankan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di PT Pertamina.
Selama dua dekade karirnya, Ahmad Yani menjalani berbagai penugasan di sektor hulu hingga hilir dalam industri geothermal, baik di lapangan Area PGE maupun di kantor pusat. Sebelum menjabat sebagai Direktur Utama, ia pernah menjabat sebagai Direktur Operasi dan memberikan kontribusi signifikan dalam menjaga keandalan operasi serta meningkatkan efisiensi pembangkitan. Di bawah kepemimpinannya, PGE berhasil mencapai produksi tertinggi sepanjang masa pada tahun 2025.
Inovasi dan Komitmen untuk Masa Depan
Selain fokus pada kinerja operasional, Ahmad juga berupaya mendorong pengembangan teknologi dan inovasi untuk meningkatkan efisiensi dalam industri panas bumi. Salah satu inisiatif yang diambil adalah pelaksanaan proyek percontohan hidrogen hijau di Ulubelu. Ahmad menegaskan komitmennya untuk melanjutkan kepemimpinan PGE dan menjaga kesinambungan visi strategis perusahaan.
“Melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan, saya berkomitmen memperkuat peran panas bumi sebagai tulang punggung transisi energi nasional. Di tengah momentum transformasi sektor energi yang semakin menguat, saat ini menjadi waktu yang tepat untuk mengakselerasi pengembangan panas bumi,” ungkap Ahmad. Ia menargetkan kapasitas terpasang mencapai 1 gigawatt (GW) dalam 2-3 tahun ke depan, dan meningkat menjadi 1,8 GW pada tahun 2033, didukung oleh potensi hingga 3 GW dari 10 WKP yang dikelola secara mandiri.
Kinerja Keuangan yang Meningkat
PGE mencatatkan kinerja keuangan yang positif pada kuartal I 2026, dengan laba bersih yang signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Laporan keuangan menunjukkan bahwa PGE berhasil membukukan laba bersih sebesar USD43,91 juta, meningkat dari USD31,37 juta pada tahun sebelumnya. Pendapatan usaha perusahaan juga tumbuh, mencapai USD116,55 juta, naik 14,8 persen dari USD101,50 juta pada kuartal I 2025.
Di sisi lain, beban pokok penjualan PGE pada kuartal I 2026 meningkat menjadi USD48,98 juta dibandingkan dengan USD42,82 juta pada periode sebelumnya. Meskipun demikian, laba bruto perusahaan mengalami kenaikan menjadi USD67,57 juta dari USD58,68 juta. PGE juga mencatat total aset sebesar USD3,05 miliar hingga 31 Maret 2026, meningkat dari USD3,03 miliar pada akhir 2025.
Ahmad Yani menyatakan bahwa proyek-proyek PGE yang masuk dalam Green Book 2026 Bappenas menunjukkan kesiapan untuk memasuki tahap pengembangan berikutnya. “Kami melihat kinerja positif yang dibukukan Perseroan semakin memperkuat kepercayaan berbagai investor terhadap prospek bisnis dan pengembangan proyek-proyek PGE,” tambahnya. Pencapaian ini diharapkan dapat membuka akses terhadap berbagai sumber pendanaan internasional dan meningkatkan daya tarik proyek-proyek PGE di mata calon mitra strategis dan lembaga pendanaan global.