PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), yang beroperasi di bidang nikel dan material baterai, mengumumkan pelaksanaan program buyback saham dengan total nilai maksimum mencapai Rp1,46 triliun. Jumlah tersebut setara dengan pembelian hingga 1,548 miliar lembar saham, yang akan dilaksanakan secara bertahap mulai dari 17 Juni hingga 16 September 2026.
Manajemen perusahaan menjelaskan bahwa tujuan utama dari program buyback ini bukanlah untuk mengubah arah bisnis, melainkan untuk menjaga stabilitas harga saham di tengah volatilitas pasar yang tinggi. Tindakan ini juga merujuk pada ketentuan yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan terkait pembelian kembali saham tanpa memerlukan persetujuan RUPS dalam kondisi pasar tertentu.
Dana Buyback dari Kas Internal
MBMA menegaskan bahwa seluruh dana untuk buyback akan diambil dari kas internal perusahaan, bukan dari pinjaman baru atau penambahan utang. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan memiliki likuiditas yang cukup baik untuk melakukan ekspansi sekaligus memberikan nilai kembali kepada pemegang saham.
Kinerja Keuangan yang Meningkat
Melihat laporan keuangan, MBMA mencatatkan laba bersih tahunan sebesar Rp487 miliar pada tahun 2025. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan Rp361 miliar pada tahun sebelumnya dan jauh lebih tinggi dibandingkan Rp106 miliar pada tahun 2023. Selain itu, laba per saham atau earnings per share (EPS) juga mengalami peningkatan menjadi 4,51 dari sebelumnya 3,34, yang berarti setiap lembar saham kini memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan tahun lalu.
Menariknya, manajemen memperkirakan bahwa buyback ini tidak akan menyebabkan perubahan signifikan terhadap laba per saham. EPS dasar diperkirakan hanya akan naik sedikit dari USD0,00027 menjadi USD0,00028 setelah program buyback selesai. Meskipun kenaikan tersebut terlihat kecil, hal ini menunjukkan bahwa buyback bukanlah sekadar upaya kosmetik untuk memperbaiki rasio keuangan perusahaan. Fokus utama tetap pada stabilitas harga saham agar lebih mencerminkan nilai fundamental bisnis MBMA yang terintegrasi dalam sektor pertambangan nikel dan mineral.
Dari segi kesehatan keuangan, MBMA berada dalam posisi yang cukup baik. Current ratio mencapai 1,62 kali, menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek masih terjaga. Debt to Equity Ratio berada di level 0,46 kali, sementara Long Term Debt to Equity hanya 0,35 kali, menunjukkan struktur permodalan yang masih konservatif.
Kemampuan perusahaan dalam membayar beban bunga juga cukup kuat, dengan interest coverage ratio mencapai 6,35 kali. Free cash flow kuartalan masih berada di area positif sebesar Rp85 miliar, memberikan ruang bagi perusahaan untuk melaksanakan buyback ini.
Investor sebaiknya tidak hanya melihat nominal buyback yang mencapai Rp1,46 triliun, tetapi juga menilai apakah perusahaan benar-benar memiliki kapasitas finansial untuk melaksanakannya. Dalam hal ini, MBMA menunjukkan keyakinan yang cukup solid.
Dengan laba yang terus meningkat, EPS yang lebih baik, struktur utang yang sehat, dan likuiditas yang memadai, MBMA memiliki fondasi yang kuat untuk melaksanakan aksi korporasi ini. Kini, pasar akan menguji apakah buyback perdana ini dapat menjadi titik balik yang mengembalikan kepercayaan investor terhadap salah satu pemain utama dalam rantai pasok industri baterai nasional. Jika fundamental terus membaik dan ekspansi bisnis berjalan sesuai rencana, maka buyback kali ini berpotensi menjadi lebih dari sekadar upaya untuk menjaga harga saham.