Nasional

Road to GFSR 2026 Dimulai, Indonesia Dorong Integrasi Kebijakan Iklim dan Bencana

Indonesia memulai rangkaian Road to The 3rd Global Forum for Sustainable Resilience (GFSR 2026) untuk mendorong integrasi kebijakan iklim dan pengurangan risiko bencana.

A
Agus Wigati
14 July 2026 24 pembaca
jpnn.com Sumber: jpnn.com
Road to GFSR 2026 Dimulai, Indonesia Dorong Integrasi Kebijakan Iklim & Bencana
Road to GFSR 2026 Dimulai, Indonesia Dorong Integrasi Kebijakan Iklim & Bencana

Dunia saat ini menghadapi tantangan besar untuk memastikan berbagai komitmen internasional tidak hanya berhenti pada kesepakatan, tetapi juga diterjemahkan menjadi kebijakan dan aksi nyata yang saling terhubung. Paris Agreement, Sendai Framework for Disaster Risk Reduction, dan Sustainable Development Goals telah memberikan arah bagi masyarakat global. Namun, pelaksanaan ketiga agenda tersebut sering kali berjalan secara terpisah sehingga hasilnya belum optimal.

"Tantangan global tidak dapat diselesaikan melalui pendekatan yang terfragmentasi," kata Senior Program Manager Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Kedutaan Besar Australia di Jakarta Riri Silalahi dalam keterangannya dikutip Senin (13/7).

Untuk mendorong penyelarasan agenda tersebut, Indonesia memulai rangkaian Road to The 3rd Global Forum for Sustainable Resilience (GFSR 2026) melalui Seminar Nasional “Menuju Resiliensi Berkelanjutan”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Program SIAP SIAGA atau Kemitraan Australia-Indonesia untuk Manajemen Risiko Bencana menjelang The 3rd GFSR 2026 pada 9–10 September 2026.

Seminar nasional ini mempertemukan perwakilan pemerintah, organisasi internasional, akademisi, mitra pembangunan, sektor swasta, dan masyarakat sipil untuk membahas penyelarasan agenda perubahan iklim, pengurangan risiko bencana, dan pembangunan berkelanjutan dalam satu kerangka ketahanan yang lebih terpadu.

Team Leader SIAP SIAGA Palladium Lucy Dickinson menyatakan bahwa komitmen global hanya akan bermakna apabila dapat diterjemahkan menjadi aksi yang saling terhubung. “Kemitraan internasional menjadi makin penting karena tantangan yang dihadapi juga makin kompleks,” ujar Lucy.

Sementara itu, Direktur Kerja Sama Multilateral dan Keuangan Berkelanjutan Kementerian Keuangan Boby Wahyu Hernawan menekankan pentingnya kebijakan yang baik disusun berdasarkan pengetahuan, pengalaman, dan dialog terbuka. “Policy dialogue seperti Road to GFSR menjadi penting untuk memastikan berbagai praktik baik, pembelajaran, dan tantangan implementasi dapat dirumuskan menjadi rekomendasi yang relevan, aplikatif, dan mampu memperkuat arah kebijakan nasional maupun global,” kata Boby.

Untuk menjembatani hasil dialog kebijakan dengan penerapannya di lapangan, The 3rd GFSR 2026 akan diselenggarakan bersamaan dengan The 5th Asia Disaster Management and Civil Protection Expo & Conference (ADEXCO) 2026. “Kembalinya GFSR dalam penyelenggaraan ADEXCO tahun ini memperkuat upaya kita untuk menghubungkan dialog kebijakan dengan implementasi di lapangan,” ujar Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Raditya Jati.

Melalui The 3rd GFSR 2026 dan The 5th ADEXCO 2026, Indonesia berupaya membangun ruang kolaborasi yang menghubungkan kebijakan, inovasi teknologi kebencanaan, dan praktik implementasi secara sistematis. Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya Indonesia untuk memperkuat perannya sebagai pusat kolaborasi, ketahanan, dan inovasi teknologi kebencanaan di tingkat global.

Artikel Terkait