Ekonomi

Rupiah Menguat di Awal Perdagangan, Sentuh Rp 18.170 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menguat pada pembukaan perdagangan Kamis pagi, didorong oleh pelemahan dolar AS setelah pernyataan dari The Fed.

A
Ananta Prana
29 October 2026 6 pembaca
Ade Rosman
Ade Rosman

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan penguatan saat dibuka pada Kamis pagi, 29 Oktober. Berdasarkan data dari Bloomberg, rupiah dibuka pada level 18.170 per US$, mengalami penguatan sebesar 14 poin atau sekitar 0,08% dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di angka 18.184 per US$.

Analis dari Doo Financial, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penguatan rupiah ini sejalan dengan pelemahan dolar AS yang terjadi setelah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang merupakan bagian dari Federal Reserve (The Fed) yang bertanggung jawab dalam merumuskan kebijakan moneter. Ia juga menambahkan bahwa pasar saat ini masih berfokus pada pergerakan ekuitas domestik. “Jika investor asing kembali mencatatkan net buy seperti pada Rabu, hal ini akan memberikan dukungan tambahan bagi rupiah,” ungkap Lukman.

Proyeksi Pergerakan Rupiah

Lukman memperkirakan bahwa pergerakan mata uang rupiah pada hari ini akan berada dalam kisaran 18.100 hingga 18.200 per US$. Data dari Bloomberg menunjukkan bahwa pada pukul 09.11 WIB, rupiah menguat ke level 18.134 per US$, yang berarti mengalami penguatan sebesar 36 poin atau sekitar 0,20% dari pembukaan pagi.

Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan keyakinannya bahwa nilai tukar rupiah tidak akan melewati angka 19.000 per dolar AS. Ia menilai bahwa kondisi ekonomi Indonesia masih stabil, sehingga optimis nilai tukar rupiah tidak akan semakin melemah. Airlangga juga menegaskan bahwa pemerintah akan terus memantau perkembangan ini. “Kami optimis dengan kondisi makroekonomi, ya,” kata Airlangga kepada wartawan di Jakarta.

Faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar

Bank Indonesia (BI) menilai bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih sejalan dengan pergerakan mata uang di kawasan. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa pergerakan rupiah dan mata uang di kawasan saat ini dipengaruhi oleh ketidakpastian yang muncul akibat konflik di Timur Tengah. Ketegangan geopolitik ini berdampak pada tingginya harga minyak dunia yang kini berada di atas US$ 115 per barel, yang pada gilirannya meningkatkan risiko fiskal di masa mendatang.

Erwin juga menyoroti bahwa ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga di AS semakin meningkat. “Sentimen risk-off yang memburuk mendorong penguatan dolar AS dan arus keluar dana dari pasar negara berkembang,” jelasnya. Hal ini juga terjadi bersamaan dengan kenaikan yield obligasi. Di sisi domestik, BI mencatat bahwa ada kekhawatiran mengenai potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI, serta meningkatnya kebutuhan valas domestik menjelang akhir bulan yang turut memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah.

“Secara bulanan, rupiah melemah sebesar 1,15%. Sementara itu, cadangan devisa tetap terjaga di angka USD 146,3 miliar pada akhir September 2026,” ungkap Erwin dalam keterangan resmi. Ia menambahkan bahwa BI akan terus berperan aktif di pasar untuk menjaga mekanisme pasar agar tetap berfungsi dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga sesuai dengan fundamentalnya. “Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan spot. BI juga membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder,” tutupnya.

Artikel Terkait