Pementasan teater berjudul Njonja Ati Soetji akan diadakan di Ciputra Artpreneur, Jakarta, pada tanggal 30 dan 31 Oktober 2026. Lakon ini mengisahkan perjalanan nyata Aw Tjoei Lan yang berjuang melawan praktik perdagangan manusia di Indonesia pada tahun 1930-an. Pertunjukan ini melibatkan sejumlah aktris terkenal seperti Joane Win, Maudy Koesnaedi, dan Tika Bravani, yang berperan dalam menyampaikan pesan kemanusiaan.
Kisah Perjuangan Perempuan Indonesia
Njonja Ati Soetji mengangkat kisah nyata dari Ibu Aw Tjoei Lan, yang dikenal karena dedikasinya dalam memberantas perdagangan perempuan dan anak-anak serta jaringan mucikari pada masa itu. Joane Win, yang memerankan karakter Njonja Aw Tjoei Lan, menjelaskan bahwa ide pementasan ini berawal dari perayaan 100 tahun Yayasan Hati Suci. Dari perayaan tersebut, muncul keinginan untuk memperkenalkan kembali sosok Aw Tjoei Lan kepada masyarakat, terutama generasi muda.
Joane menyatakan, "Generasi muda zaman sekarang juga harus tahu bahwa mereka juga mempunyai pahlawan Indonesia keturunan Tionghoa yang juga banyak jasanya kepada Indonesia, khususnya dalam kasus perdagangan manusia." Dia menekankan pentingnya mengenalkan kontribusi tokoh-tokoh Indonesia keturunan Tionghoa dalam sejarah perjuangan kemanusiaan di Tanah Air.
Persiapan dan Karakter yang Diperankan
Untuk mempersiapkan perannya, Joane bersama tim produksi melakukan riset mendalam dengan menelusuri dokumen-dokumen berbahasa Belanda dan mewawancarai salah satu cucu mendiang Njonja Aw. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai kehidupan sehari-hari, kepribadian, dan cara bicara tokoh tersebut.
Selain Joane, Maudy Koesnaedi juga berperan dalam pementasan ini sebagai Sayap Hitam, karakter antagonis fiktif. Maudy mengungkapkan bahwa peran ini merupakan pengalaman baru baginya dalam dunia seni peran. "Baru pertama kali ini dikasih kepercayaan mendapatkan peran antagonis dan aku menikmati sekali," ujarnya. Dia juga menambahkan bahwa ia harus beradaptasi dengan berbagai detail kostum dan gerakan panggung, termasuk penggunaan kuku panjang yang menjadi bagian dari penampilannya. "Tantangannya ini melakukan gerakan-gerakan dengan kuku panjang itu ternyata ribet ya, sulit gitu lho, mau copot, mau jatuh," tuturnya sambil tertawa.
Maudy juga melihat bahwa cerita yang diangkat dalam pementasan ini mengandung pesan penting tentang hati nurani dan akal budi dalam pengambilan keputusan. "Ketika kita menjadi manusia kita harus punya hati nurani dan akal budi, supaya kita bisa mempertanggungjawabkan keputusan-keputusan apa yang kita ambil di dalam hidup kita," pesannya.
Sementara itu, Tika Bravani berperan sebagai Nona Nevel, seorang staf pengajar di panti asuhan yang peduli terhadap anak-anak korban perdagangan manusia. Dengan mengangkat kisah sejarah dan konflik kemanusiaan, Njonja Ati Soetji diharapkan dapat memperkenalkan kembali perjuangan Aw Tjoei Lan kepada penonton dari berbagai generasi.