Ekonomi

Tiga Proyek Geothermal PGE Raih Pendanaan Global Senilai Rp7,6 Triliun

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) berhasil mendapatkan komitmen pendanaan internasional sebesar USD477,87 juta atau setara Rp7,6 triliun untuk tiga proyek geothermal strategisnya.

I
Indriani Atmaja
06 July 2026 35 pembaca
Wilayah kerja PGE (Foto: Dok.PGE)
Wilayah kerja PGE (Foto: Dok.PGE)

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) berhasil memperoleh komitmen pendanaan dari lembaga keuangan internasional dengan total nilai mencapai USD477,87 juta, yang setara dengan Rp7,6 triliun. Pendanaan ini diperoleh setelah proyek-proyek PGE resmi terdaftar dalam Green Book 2026, yaitu daftar rencana prioritas pinjaman luar negeri yang dikeluarkan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Keberhasilan proyek-proyek ini masuk dalam skema Green Book menunjukkan kesiapan teknis yang tinggi serta pengakuan global terhadap kinerja bisnis PGE. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat ekspansi energi bersih perusahaan, terutama setelah PGE mencatatkan lonjakan laba bersih kuartal pertama tahun 2026 sebesar 40 persen menjadi USD43,90 juta, didorong oleh peningkatan produksi listrik yang terus tumbuh positif.

Pentingnya Pengakuan Global

Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, menyatakan bahwa masuknya proyek-proyek PGE ke dalam Green Book 2026 Bappenas merupakan pengakuan atas kesiapan proyek untuk memasuki tahap pengembangan selanjutnya, di tengah meningkatnya permintaan energi bersih dan tantangan ketahanan energi global. Ia menambahkan bahwa pencapaian ini tidak hanya membuka akses terhadap berbagai sumber pendanaan internasional, tetapi juga meningkatkan daya tarik proyek di mata calon mitra strategis dan lembaga pendanaan global.

"Kami melihat kinerja positif yang dibukukan Perseroan semakin memperkuat kepercayaan berbagai investor terhadap prospek bisnis dan pengembangan proyek-proyek PGE," ungkap Ahmad Yani dalam keterangan resminya.

Rincian Proyek dan Pendanaan

Pendanaan internasional yang diperoleh mencakup tiga megaproyek unggulan PGE dengan skema pinjaman konsesional yang menawarkan suku bunga menarik serta tenor yang lebih panjang dibandingkan pasar komersial. Proyek tersebut terdiri dari PLTP Lumut Balai Unit Tiga dengan kapasitas 55 megawatt yang mendapatkan dana sebesar USD158,86 juta dari JICA, PLTP Lumut Balai Unit Empat dengan kapasitas 55 megawatt senilai USD148,97 juta dari JICA, dan PLTP Lahendong Unit Tujuh dan Delapan dengan kapasitas 50 megawatt yang didanai sebesar USD170,04 juta oleh World Bank.

Penggunaan pinjaman lunak ini diharapkan dapat menekan biaya modal secara signifikan, mendukung target operasional komersial pada tahun 2030 hingga 2032. Ahmad Yani juga menambahkan bahwa masuknya ketiga proyek ini berpotensi meningkatkan keekonomian proyek, memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi perusahaan dan para pemangku kepentingan.

Dengan suntikan dana asing ini, PGE semakin memperkuat peta jalan jangka panjang untuk meningkatkan kapasitas terpasang geothermal hingga mencapai tiga gigawatt di Indonesia. Proyek PLTP Lumut Balai Unit Tiga dan Empat di Sumatera Selatan serta ekspansi kapasitas PLTP Lahendong di Sulawesi Utara tidak hanya memperluas portofolio komersial, tetapi juga meningkatkan kontribusi pasokan listrik bersih regional dari 30 persen menjadi 40 persen, mendukung agenda transisi energi nasional.

Kinerja Keuangan yang Meningkat

PGE mencatatkan kinerja keuangan yang positif pada kuartal pertama tahun 2026, dengan laba bersih yang signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Berdasarkan laporan keuangan, PGE berhasil membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar USD43,91 juta, meningkat dari USD31,37 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Pendapatan PGE pada tiga bulan pertama 2026 mencapai USD116,55 juta, naik 14,8 persen dibandingkan dengan USD101,50 juta di kuartal pertama tahun 2025. Beban pokok penjualan juga mengalami kenaikan menjadi USD48,98 juta, sementara laba bruto tercatat meningkat menjadi USD67,57 juta dari USD58,68 juta sebelumnya.

Di sisi neraca, total aset PGE mencapai USD3,05 miliar per 31 Maret 2026, meningkat dibandingkan USD3,03 miliar pada akhir tahun 2025. Liabilitas PGE juga mengalami penurunan menjadi USD964,73 juta, sementara ekuitas perusahaan meningkat menjadi USD2,09 miliar dari USD2,04 miliar.

Ahmad Yani menekankan bahwa dengan meningkatnya kebutuhan energi bersih dan tantangan ketahanan energi global, pengakuan terhadap proyek-proyek PGE dalam Green Book 2026 Bappenas menjadi langkah penting untuk mempersiapkan tahap pengembangan berikutnya. Pencapaian ini diharapkan dapat meningkatkan daya tarik proyek di mata calon mitra strategis dan lembaga pendanaan global.

Artikel Terkait