Kemampuan literasi dan numerasi di kalangan siswa Indonesia di berbagai jenjang pendidikan saat ini dianggap masih memerlukan penguatan yang signifikan. Hal ini diperkuat oleh hasil skor Program for International Student Assessment (PISA) yang menunjukkan posisi Indonesia berada di kelompok belakang. Minhajul Ngabidin, Pembina Tim Kerja Peserta Didik dan Penguatan Karakter dari Direktorat SD Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), menyatakan bahwa tantangan ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan metode pembelajaran konvensional di dalam kelas.
Menurut Minhajul, memberikan materi secara tekstual kepada siswa dapat berdampak negatif terhadap psikologis mereka dalam belajar. "Karena kadang-kadang anak-anak kalau kemudian di-drill dengan penguatan materi, apalagi soal-soal, malah mereka enggak mood gitu. Jadi harus dicari ruang-ruang aktivitas kegiatan yang berbeda," ujarnya di Jakarta.
Alternatif Pembelajaran yang Menarik
Minhajul mendorong agar disediakan ruang untuk aktivitas alternatif yang bersifat kompetitif namun tetap kolaboratif, salah satunya melalui ajang cerdas cermat. Ia menekankan bahwa kompetisi yang diadakan tidak hanya berfokus pada kemampuan menghafal. Tantangan yang diberikan kepada siswa harus lebih mengedepankan kemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS). "Menurut saya, kegiatan cerdas cermat yang tidak cuma sekedar menguji hafalan anak sangat mendongkrak luar biasa kepada peningkatan literasi dan numerasi," jelasnya.
Pentingnya Membaca Sejak Dini
Ketika ditanya mengenai langkah strategis untuk memperbaiki skor PISA Indonesia, terutama di tingkat Sekolah Dasar (SD), Minhajul menyoroti pentingnya kemampuan dasar membaca dan menulis. Ia mengakui bahwa di lapangan, banyak pendidik menghadapi tantangan berat, di mana sejumlah siswa di kelas tinggi masih memiliki kemampuan membaca dan menulis yang kurang memadai. Oleh karena itu, menciptakan ekosistem yang mendukung sejak usia dini menjadi kunci utama. "Jadi bagaimana membuat kecintaan anak-anak menulis dan membaca itu sejak dini diupayakan. Itu yang fundamental sekali," kata Minhajul.
Namun, ia menekankan bahwa strategi ini harus dikemas dengan cara yang menarik agar anak-anak tidak merasa terbebani. Pemerintah dan sekolah diharapkan dapat memfasilitasi media atau akses literasi yang menjadikan aktivitas membaca dan menulis sebagai pengalaman yang menyenangkan. "Yang selebihnya tentu memberi media untuk anak-anak bisa mendapatkan akses yang mereka bisa melakukan aktivitas membaca dan menulis dan mereka gembira, fun gitu," tambahnya.