Jakarta - Dalam upaya meningkatkan mutu layanan kesehatan di Indonesia, pemanfaatan teknologi medis seperti kecerdasan buatan (AI) dan robotik menjadi fokus utama. Penerapan teknologi ini harus diimbangi dengan penguatan kompetensi tenaga medis, pemerataan akses, dan jaminan keselamatan pasien, serta disesuaikan dengan kebutuhan klinis untuk mendukung ketepatan penanganan dan hasil perawatan yang lebih baik.
Diskusi di Detikcom Leaders Forum
Hal ini menjadi tema utama dalam Detikcom Leaders Forum yang mengusung judul "Reimagining Healthcare, Strengthening Indonesia". Forum ini mempertemukan berbagai perspektif dari pemerintah, pengembang teknologi kesehatan, dan penyedia layanan kesehatan. Ketua Komite Nasional Teknologi Robotik Bidang Kesehatan, Ir Agus Tjahajana Wirakusumah, S.E., M.Sc., IPU, menjelaskan bahwa dalam prosedur bedah, teknologi robotik dapat membantu dokter melakukan tindakan melalui sayatan yang lebih kecil dibandingkan dengan metode bedah terbuka. Pendekatan ini diharapkan dapat mengurangi perdarahan dan mempercepat pemulihan pasien, meskipun teknologi tersebut tidak dapat menggantikan pengetahuan dan pertimbangan klinis dokter.
Agus menegaskan, "Alat itu hanya bisa dipakai pertama mempercepat, membuat lebih teliti, dan membuat kepastian yang lebih bisa diukur. Tetapi mengatakan yes or no dan menentukan keamanan dan sebagainya, itu adalah saya kira para spesialis itu." Ia juga menambahkan bahwa perkembangan AI dapat mengoptimalkan penggunaan teknologi robotik, tetapi tidak sepenuhnya menggantikan peran dokter, karena setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda.
Pentingnya Pelatihan Berkelanjutan
Agus mengungkapkan bahwa AI dapat membantu mengumpulkan dan membandingkan data operasi yang tersimpan dalam sistem berbasis cloud, yang dapat menjadi dasar bagi AI untuk memberikan rekomendasi tindakan medis. "Tapi itu juga tidak bisa 100%. Kalau dalam statistik, derajat kepastiannya itu mungkin cuma 89 persen. Sehingga sampai 10 persen sisanya dokter yang menentukan," tambahnya. Ia juga menekankan pentingnya pelatihan berkelanjutan bagi dokter yang menggunakan teknologi robotik, serta perlunya Indonesia mengembangkan pusat pelatihan untuk meningkatkan kemampuan tenaga medis tanpa harus mengirim mereka ke luar negeri.
Presiden Direktur Siloam International Hospitals, David Utama, menyatakan bahwa tantangan yang dihadapi, seperti keterbatasan jumlah dokter spesialis dan meningkatnya biaya layanan kesehatan, harus diatasi. Ia menjelaskan bahwa teknologi merupakan salah satu cara untuk mempercepat peningkatan kapabilitas layanan kesehatan di Indonesia. "Jadi untuk mengatasi tantangan ini, satu-satunya cara bagi Siloam untuk melakukan leapfrog saat ini adalah melalui teknologi," ungkap David.
Siloam telah memulai pengembangan fondasi AI yang dikenal sebagai Enterprise AI Foundation, yang bertujuan untuk mengintegrasikan data pasien dan mendukung standar penanganan yang konsisten di seluruh jaringan rumah sakit. Pengembangan ini sejalan dengan transformasi Next Gen Siloam melalui konsep Hospital of the Future, yang memanfaatkan teknologi dan data untuk meningkatkan kompetensi tenaga medis dan keselamatan pasien.
Regulasi dan Tantangan dalam Penerapan AI
Dirjen Kesehatan Lanjutan Kemenkes RI, dr Azhar Jaya, menekankan bahwa AI tidak bisa dihindari dalam dunia kesehatan. Teknologi ini membantu dokter dalam membuat diagnosis yang lebih akurat dan mendukung tugas administratif, namun penerapannya harus tetap diawasi oleh dokter. Ia menekankan pentingnya pengaturan pemerintah terkait teknologi AI yang masuk ke Indonesia untuk mencegah potensi bias.
Azhar juga menyoroti perlunya pusat pelatihan dan laboratorium untuk mendukung pelatihan dokter dalam penggunaan teknologi robotik. "Jadi melihat dokter pakai robotik itu nggak langsung tuh. Latihan dulu pakai binatang, latihan dulu di luar segala macam," jelasnya. Ia menambahkan bahwa tantangan utama yang harus segera diatasi adalah keterbatasan sumber daya manusia di sektor kesehatan, yang masih belum mencukupi dan distribusinya tidak merata.
Dengan peningkatan kompetensi tenaga medis, evaluasi teknologi, serta kolaborasi antara pemerintah dan penyedia layanan kesehatan, diharapkan kualitas pelayanan dan keselamatan pasien dapat ditingkatkan, sehingga masyarakat semakin percaya terhadap layanan kesehatan dalam negeri.