Nasional

Trump Menegaskan AS Masih Memiliki Cukup Amunisi untuk Menyerang Iran

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menolak klaim bahwa negara tersebut telah kehabisan amunisi untuk melanjutkan serangan terhadap Iran, menyatakan bahwa persediaan amunisi mereka lebih dari cuku...

V
Vina Maharani
27 July 2026 20 pembaca
Trump Bantah AS Kehabisan Amunisi untuk Gempur Iran
Trump Bantah AS Kehabisan Amunisi untuk Gempur Iran

Presiden AS, Donald Trump, membantah informasi yang menyebutkan bahwa negara yang dipimpinnya telah kehabisan amunisi untuk melanjutkan serangan terhadap Iran. Dalam pernyataannya kepada Wall Street Journal pada Minggu (26/7/2026), Trump menyatakan, "Kita memiliki amunisi jauh lebih banyak daripada siapa pun di dunia dan jauh lebih banyak daripada yang kita butuhkan."

Rencana Serangan Terhadap Iran

Trump juga menunjukkan bahwa ia masih memiliki niat untuk melanjutkan serangan terhadap Iran. Hal ini terlihat dari dua gambar yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI) yang ia unggah di akun Truth Social miliknya. Gambar pertama menunjukkan pasukan AS yang menyerang kapal tanker minyak berbendera Iran, sementara gambar kedua memperlihatkan serangan udara oleh militer AS di Pulau Kharg, yang merupakan pusat ekspor dan impor minyak Iran. Dalam unggahannya, Trump menulis, "Ini sudah menjadi kapal tanker minyak kita sekarang. Tidak ada mesin. Serangan terhadap (Pulau) Kharg!"

Perubahan Strategi dan Negosiasi

Sebelumnya, terdapat laporan bahwa Trump telah membatalkan rencananya untuk meningkatkan serangan terhadap Iran. Seorang pejabat AS yang tidak ingin disebutkan namanya mengungkapkan bahwa keputusan tersebut diambil karena Washington sudah kehabisan stok rudal untuk menghadapi serangan balasan dari Iran. Akibatnya, Trump memutuskan untuk menghentikan serangan terhadap Teheran pada Jumat (24/7/2026).

Menurut Steven Cheung, Direktur Komunikasi Gedung Putih, Trump kini lebih memilih untuk melanjutkan negosiasi dengan Iran, karena ia percaya bahwa pendekatan tersebut lebih efektif untuk meredakan ketegangan dibandingkan dengan tindakan agresi militer. Negosiasi antara Washington dan Teheran telah lama terhenti setelah kedua negara kembali berkonflik pada 11 Juli lalu. Cheung menjelaskan, “(Donald) Trump konsisten dalam mengatakan bahwa ia lebih menyukai solusi diplomatik. Namun, ia tetap mempertimbangkan semua opsi jika Iran terus melakukan aktivitas teroris di Selat Hormuz atau terhadap sekutu. Namun, akan lebih bijaksana bagi Iran untuk berupaya mencapai kesepakatan melalui negosiasi. Jika tidak, mereka tahu apa yang akan terjadi.”

Saat ini, ketegangan antara AS dan Iran tampaknya mereda, dengan AS sepakat untuk menahan serangan lebih lanjut. Di sisi lain, Iran juga setuju untuk menghentikan serangan balasan. Kesepakatan ini diumumkan oleh seorang pejabat senior Iran yang tidak disebutkan namanya pada Minggu (26/7/2026). Pejabat tersebut menyatakan, “Posisi Iran tetap serangan dibalas serangan. Jika serangan (AS) berhenti, Iran juga akan menghentikan operasinya. Pesan itu telah disampaikan kepada AS. Namun, ada lebih banyak skeptisisme daripada optimisme tentang penghentian serangan. Pandangan yang berlaku adalah bahwa jeda tersebut bersifat taktis dan bukan tulus.”

Penurunan ketegangan antara AS dan Iran memberikan harapan akan keberlanjutan upaya perdamaian antara kedua negara. Diharapkan Washington dan Teheran dapat kembali ke meja perundingan untuk mencapai perdamaian yang abadi, mengingat dampak buruk yang ditimbulkan oleh konflik berkepanjangan bagi kedua belah pihak.

Artikel Terkait