Pendidikan

Universitas di China Hapus 12.200 Program Studi, Fokus pada Teknologi

Dalam lima tahun terakhir, universitas-universitas di China telah menutup 12.200 program studi yang dianggap tidak relevan dan menggantinya dengan program baru yang lebih berorientasi teknologi, terma...

A
Agus Wigati
16 June 2026 11 pembaca
kompas.com Sumber: kompas.com
Universitas di China Hapus 12.200 Program Studi, Fokus pada Teknologi
Sumber gambar: kompas.com

Universitas di China telah melakukan perubahan signifikan dalam kurun waktu lima tahun terakhir dengan menghapus sebanyak 12.200 program studi yang dinilai ketinggalan zaman. Langkah ini diambil untuk menggantikan program-program tersebut dengan yang lebih fokus pada teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI). Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya untuk menyelaraskan pendidikan tinggi dengan tujuan pembangunan nasional, seperti yang dilaporkan oleh South China Morning Post pada Selasa (16/6/2026).

Data dari Kementerian Pendidikan China menunjukkan bahwa antara tahun 2021 hingga 2025, sebanyak 12.200 program gelar sarjana telah ditangguhkan, sementara 10.200 program baru diperkenalkan. Hal ini menunjukkan bahwa lebih dari 30 persen program di universitas di China mengalami penyesuaian. Upaya ini juga bertujuan untuk menjadikan China sebagai pemimpin global dalam berbagai industri berteknologi tinggi dan mengatasi masalah pengangguran yang serius di kalangan lulusan muda.

Penutupan dan Pembukaan Program Studi

Program studi yang ditutup sebagian besar berasal dari bidang seni, humaniora, bahasa asing, dan manajemen, serta bidang-bidang lain yang dianggap sudah tidak relevan. Saat ini, lebih dari 16 persen pemuda di China mengalami pengangguran, dan pasar kerja sedang mengalami transformasi cepat akibat perkembangan kecerdasan buatan. Program-program baru yang diperkenalkan juga sejalan dengan tujuan pembangunan ekonomi di Beijing, ibu kota China.

Sebagai contoh, sembilan universitas telah menambah jurusan baru yang berkaitan dengan kecerdasan terwujud (embodied intelligence), yang bertujuan untuk mempercepat integrasi AI generasi berikutnya ke dalam ekonomi nyata. Universitas-universitas di China menghadapi tekanan untuk beradaptasi dengan perubahan cepat dalam ekonomi, di mana jumlah lulusan meningkat tajam namun banyak yang kesulitan menemukan pekerjaan yang sesuai dengan gelar mereka.

Contoh Kasus dan Pendapat Ahli

Contoh nyata dapat dilihat di China University of Shanghai for Science and Technology, yang mulai tahun ini menghentikan penerimaan mahasiswa untuk program studi desain produk. Seorang lulusan baru menyatakan bahwa keputusan tersebut diambil karena prospek pekerjaan yang buruk bagi mahasiswa di bidang tersebut. Menurutnya, perkembangan AI yang pesat telah berdampak negatif pada pasar desain produk, di mana banyak tugas utama kini dapat dilakukan oleh AI.

Communication University of China (CUC), yang merupakan perguruan tinggi terkemuka di bidang media di Beijing, juga melakukan restrukturisasi program-programnya, termasuk menggabungkan program sinematografi dengan produksi film dan televisi. Seorang alumnus dari CUC, Song Song, mengungkapkan bahwa perubahan dalam cara penyampaian media, seperti siaran langsung dan video pendek, telah mempengaruhi persyaratan untuk menjadi seorang juru kamera, yang berbeda dari pengambilan gambar berita televisi tradisional. Ia menekankan bahwa "perubahan dalam pendidikan mutlak diperlukan."

Chu Zhaohui, seorang peneliti senior di National Institute of Education Sciences China, berpendapat bahwa mengganti satu program studi dengan yang lain hanya merupakan solusi jangka pendek. Ia menekankan perlunya perubahan yang lebih mendalam dalam pendidikan tinggi di China agar dapat beradaptasi dengan cepatnya perkembangan teknologi. Banyak program baru yang didirikan beberapa tahun lalu juga telah dipangkas, sehingga tidak memiliki cukup waktu untuk berkembang dan meningkatkan kualitas.

Chu menyarankan agar universitas mengadopsi sistem yang lebih fleksibel, memberikan mahasiswa kebebasan lebih besar untuk memilih mata kuliah sesuai minat dan kebutuhan karier mereka. "Ini akan memungkinkan mereka untuk membangun profil intelektual yang unik," ujarnya.

Artikel Terkait