Universitas Negeri Jakarta (UNJ) belum memberikan keputusan terkait keterlibatannya dalam pendirian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berhubungan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal ini disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni UNJ, Prof. Dr. Ifan Iskandar, M.Hum., yang menjelaskan bahwa pihaknya masih melakukan kajian mengenai arahan "1 kampus 1 dapur MBG" yang diberikan oleh Kepala BGN, Dadan Hindayana.
"UNJ masih mempelajari terus. Pak Rektor minta kemarin kita melibatkan teman-teman dari prodi Kuliner untuk menyiapkan tim yang kuat mempelajari kasus-kasus keracunan dan lain-lain. Itu sudah ada tim kita," ungkap Prof. Ifan saat diwawancarai setelah Sidang Terbuka Dies Natalis ke-62 di kampus UNJ, Jakarta Timur, pada Senin (18/5/2026).
Pemahaman Mendalam tentang SPPG
UNJ juga sedang mempersiapkan tim untuk mengeksplorasi kemungkinan mendapatkan lokasi untuk membangun SPPG. Prof. Ifan menjelaskan, "Kan kita tidak mau juga terlibat. Kita enggak punya titik terus kita cari, ada orang yang mau kasih titik, tapi kan enggak kasihnya gratis. (Itu berarti) UNJ ikut mendukung dong praktik jual-beli titik yang katanya dilarang oleh Pak Presiden, kan gitu."
Dia menambahkan, "Jadi kehatian-kehatian kami di situ, untuk tidak tergesa-gesa gitu." Di sisi lain, Prof. Ifan juga mengungkapkan bahwa program MBG dapat menjadi wadah praktik bagi mahasiswa dari prodi Kuliner.
Peluang untuk Mahasiswa Prodi Kuliner
"Kami kan ada (prodi) Vokasi Kuliner dan kita ingin membuat yang namanya teaching factory. Teaching factory kan dengan ada SPPG malah lebih terbangun. Dari aspek itu sebenarnya SPPG bisa menjadi lab-nya kuliner. Lab-nya biologi dan kimia. Pada sisi itu," jelasnya. "Tapi kalau bicara kebijakan kan lain lagi," tambahnya.
UNJ memiliki dua program studi yang berhubungan dengan kuliner. Pada jenjang D4 atau Sarjana Terapan, program tersebut bernama Seni Kuliner dan Pengelolaan Jasa Makanan. Sedangkan untuk level S1, terdapat program Pendidikan Vokasional Seni Kuliner yang bertujuan untuk mencetak tenaga pendidik dan instruktur di bidang tata boga.
Pendirian dapur MBG pertama kali dilakukan oleh Universitas Hasanuddin (Unhas) di Makassar melalui yayasan internal, Yayasan Metavisi Akademika Nusantara. Langkah ini diikuti oleh IPB University Bogor yang berencana membuka dua dapur MBG melalui holding company PT Bogor Life Science and Technology (BLST).