Jakarta - Dalam penutupan Konferensi Sungai Indonesia (KSI) 2026 yang berlangsung di Mojokerto, Jawa Timur, Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat tidak dapat menahan tangisnya. Emosinya terpancar saat ia membahas program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang seharusnya tidak mendapatkan cercaan dari masyarakat.
"Orang yang lapar dikasih makan, Anda cerca, jangan dong, nggak boleh. Sorry saya kaya gini sangat sensitif karena saya tahu persis," ungkap Jumhur dengan penuh emosi di atas panggung KSI 2026.
Masalah Kelaparan di Indonesia
Menanggapi pertanyaan mengenai tangisannya, Jumhur menjelaskan bahwa saat ini terdapat sekitar 22 juta warga Indonesia yang mengalami kelaparan kronis. Angka tersebut diperoleh dari studi yang dilakukan oleh ADB bersama Bappenas antara tahun 2016 hingga 2018.
"Kelaparan kronis itu tahu apa? Artinya dia tuh sudah siap mati untuk lapar. Dan mohon maaf ya, banyak budaya kita yang tidak berani mengungkapkan, akhirnya dia mati. Itu banyak budaya kita. Tidak berani melawan, gitu ya," tambahnya.
Pentingnya Program Gizi
Jumhur menekankan bahwa kelaparan kronis perlu mendapatkan perhatian yang sama dengan masalah stunting. Berdasarkan informasi dari Badan Gizi Nasional (BGN) per Maret 2026, jumlah penerima manfaat program ini telah mencapai 61.239.037 orang, di mana 49.057.682 di antaranya adalah siswa sekolah. Ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan program makan sekolah terbesar di dunia.
"Tapi yang setengah kelaparan kronis kan ada juga. Yang tadi makannya mungkin seminggu cuman dua kali itu tiga kali. Tapi yang makannya 3 hari sekali atau 2 hari sekali juga ada, itu juga kurang makan juga. Itu mungkin bisa 50, 60, 70 juta orang. Dan itulah yang menjadi subjek bagi distribusi MBG sebetulnya," jelas Jumhur.
Dia juga mengakui adanya penyimpangan dalam pengelolaan program MBG dan menyatakan kesiapannya untuk menghadapi pihak-pihak yang menentang program prioritas Presiden Prabowo tersebut.