Kesehatan

--- Peningkatan Risiko Penyakit Jantung di Kalangan Anak Muda Usia 20-an ---

--- Penyakit jantung kini tidak hanya menyerang orang tua, tetapi juga semakin banyak anak muda di usia 20-an yang berisiko. Sebuah studi menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka telah memiliki fa...

A
Ananta Prana
01 September 2026 5 pembaca
Foto ilustrasi: Getty Images/PonyWang
Foto ilustrasi: Getty Images/PonyWang
---TITLEEXCERPT--- Penyakit jantung kini tidak hanya menyerang orang tua, tetapi juga semakin banyak anak muda di usia 20-an yang berisiko. Sebuah studi menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka telah memiliki faktor risiko kardiovaskular. ---CONTENT---

Jakarta - Penyakit jantung kini tidak lagi dianggap sebagai masalah kesehatan yang hanya menyerang orang lanjut usia. Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa delapan dari sepuluh orang dewasa muda berusia 20-an sudah memiliki setidaknya satu faktor risiko untuk penyakit kardiovaskular. Penelitian yang berjudul Future of Families, Cardiovascular Health Among Young Adults (FF-CHAYA) ini melibatkan hampir 1.300 peserta dengan rata-rata usia 23 tahun.

Dalam penelitian ini, para peneliti menggunakan pembaruan kriteria dari American Heart Association (AHA) pada tahun 2023, yang mencakup penyakit ginjal kronis (chronic kidney disease/CKD) sebagai salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular. Pembaruan tersebut juga memperkenalkan konsep sindrom kardiovaskular-ginjal-metabolik (cardiovascular-kidney-metabolic/CKM), yang menggambarkan hubungan antara gangguan metabolik, penyakit ginjal, dan penyakit kardiovaskular yang sering muncul bersamaan dan saling memengaruhi.

Hasil Penelitian Mengenai Risiko Kardiovaskular

Menurut laporan dari Eating Well, para peneliti mengevaluasi kondisi kesehatan peserta dengan berbagai metode, termasuk skor CKM (skala 0-4), indikator Life's Essential 8 (yang mencakup perilaku dan parameter kesehatan), serta pemeriksaan USG arteri karotis, yaitu pembuluh darah di leher yang mengalirkan darah ke otak. Hasilnya menunjukkan bahwa:

  • Tahap 0 (Aman): Hanya 21 persen peserta yang tidak memiliki faktor risiko CKM.
  • Tahap 1: Sekitar 40 persen berada di tahap ini karena kelebihan lemak tubuh.
  • Tahap 2: Sebanyak 36 persen teridentifikasi memiliki faktor risiko metabolik, seperti tekanan darah atau gula darah tinggi.
  • Tahap 3: Tiga persen sudah mengalami penyakit ginjal tingkat lanjut atau tanda awal penyakit kardiovaskular.

Para peneliti mencatat bahwa semakin tinggi tahap CKM seseorang, semakin rendah skor Life's Essential 8 mereka. Selain itu, hasil USG menunjukkan adanya penebalan arteri karotis, yang merupakan tanda awal aterosklerosis atau penyempitan pembuluh darah.

Perubahan Gaya Hidup dan Peningkatan Kasus Penyakit Jantung

Fenomena meningkatnya penyakit jantung di kalangan usia produktif juga sejalan dengan data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI). Kemenkes mengingatkan pentingnya mewaspadai pergeseran usia penderita gangguan kardiovaskular, yang disebabkan oleh perubahan gaya hidup. Data menunjukkan bahwa pola hidup yang tidak sehat, termasuk kebiasaan merokok sejak dini, konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak, serta kurangnya aktivitas fisik, menjadi faktor pendorong utama.

Kemenkes RI mencatat bahwa 39 persen penderita penyakit jantung di Indonesia berasal dari kelompok usia di bawah 44 tahun, dengan 22 persen di antaranya berada di rentang usia 15-35 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa usia muda tidak lagi kebal terhadap penyakit jantung.

Pentingnya Pencegahan Sejak Dini

Penyakit jantung sering kali berkembang secara diam-diam selama bertahun-tahun sebelum terdiagnosis. Mengingat tanda-tanda awalnya dapat muncul di usia 20-an, para ahli menekankan pentingnya melakukan pencegahan sedini mungkin. Beberapa langkah pencegahan yang direkomendasikan meliputi:

  • Memperbanyak konsumsi makanan utuh: Meningkatkan asupan buah, sayur, dan biji-bijian utuh yang kaya serat dan antioksidan untuk menjaga kestabilan kolesterol dan tekanan darah.
  • Pilih sumber protein tanpa lemak: Menggabungkan sumber protein nabati dan hewani yang rendah lemak.
  • Gunakan lemak sehat: Utamakan penggunaan minyak tak jenuh seperti minyak zaitun atau minyak alpukat.
  • Batasi konsumsi makanan olahan: Mengurangi asupan daging olahan dan makanan tinggi lemak jenuh, gula tambahan, serta natrium.
  • Perbaiki gaya hidup: Rutin berolahraga minimal 150 menit setiap minggu, tidur cukup 7-8 jam sehari, berhenti merokok, dan mengelola stres dengan baik.

Artikel Terkait