Kesehatan

Alasan Perbedaan Diagnosis Usus Buntu saat Pemeriksaan Ulang

Kasus selebgram Fahira Almira yang didiagnosis usus buntu di Indonesia tetapi tidak di Malaysia menjadi viral. Seorang ahli menjelaskan bahwa kondisi ini dapat berubah antara pemeriksaan.

A
Adhe Dharma
13 August 2026 19 pembaca
Foto: Ilustrasi usus buntu (Getty Images/sirawit99)
Foto: Ilustrasi usus buntu (Getty Images/sirawit99)

Jakarta - Selebgram Fahira Almira baru-baru ini membagikan pengalamannya yang menarik perhatian publik saat berobat ke Penang, Malaysia. Ia mengungkapkan bahwa dirinya didiagnosis mengalami usus buntu di rumah sakit Indonesia, namun hasil pemeriksaan di rumah sakit Malaysia menunjukkan sebaliknya.

Pemahaman tentang Apendisitis

Menurut Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, yang merupakan spesialis penyakit dalam dengan subspesialisasi Konsultan Gastroentologi dan Hepatologi, kondisi usus buntu atau apendisitis tidak selalu berada dalam fase akut ketika pasien melakukan pemeriksaan ulang. Gejala yang sebelumnya muncul dengan tiba-tiba dapat mereda setelah mendapatkan pengobatan, bahkan dalam waktu beberapa minggu.

"Bahkan, jangankan 3 bulan, mungkin dalam 2-3 minggu kalau kondisinya membaik, maka gejala akutnya sudah hilang. Tapi bisa saja pasien masih ada dalam fase apendisitis kronis," jelasnya.

Kondisi Pasien yang Berubah

Prof Ari menambahkan bahwa apendisitis kronis dapat mengalami kekambuhan akut sewaktu-waktu. Oleh karena itu, kondisi pasien saat pemeriksaan pertama tidak selalu sama dengan saat pemeriksaan berikutnya. "Jadi memang kurang pas juga kalau dibilang pasien bisa naik pesawat, kemudian bisa berobat ke rumah sakit di sana, jalan kaki, segala macam, dinyatakan sebagai kondisi yang akut. Jadi memang bisa saja pada saat datang sudah kondisinya tidak akut lagi," ungkapnya.

Dalam hal penanganan usus buntu, tidak semua kasus harus diakhiri dengan operasi. Dalam situasi tertentu, seperti ketika pasien menolak untuk dioperasi, dokter dapat memberikan antibiotik dan pereda nyeri untuk mengatasi peradangan. Namun, pilihan ini juga memiliki risiko dan tidak selalu menjamin penyembuhan.

"Bisa saja akhirnya pasien itu tidak jadi dioperasi," tambah Prof Ari. Jika pengobatan berhasil, kondisi pasien dapat membaik dan gejala mereda. Namun, jika tidak, peradangan dapat berlanjut hingga menyebabkan perforasi atau kebocoran pada usus buntu.

Artikel Terkait