Ekonomi

Amman Mineral Dikeluarkan dari Indeks MSCI, Namun Kinerja Fundamental Tetap Solid

Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi sorotan setelah dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index oleh Morgan Stanley Capital International. Meskipun mengalami penurunan harga, funda...

E
Eko Prasetyo
17 May 2026 11 pembaca
Amman Mineral Dikeluarkan dari Indeks MSCI, Namun Kinerja Fundamental Tetap Solid
Pergerakan saham AMMN setelah terdegradasi dari MSCI Global Standard Index pada evaluasi Mei 2026. (Foto: Dok. Amman Mineral Indonesia)

Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) kembali menarik perhatian pasar setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) memutuskan untuk mengeluarkan emiten tambang ini dari MSCI Global Standard Index dan menurunkannya ke MSCI Global Small Cap Index pada evaluasi yang dilakukan pada Selasa, 12 Mei 2026. Perubahan klasifikasi ini terjadi di tengah tekanan yang berkepanjangan pada saham AMMN. Pada perdagangan Jumat, 16 Mei 2026, saham AMMN ditutup pada level Rp3.700, mengalami penurunan sebesar 9,09 persen dalam sehari. Secara year to date (ytd), saham ini telah mengalami penurunan sebesar 42,41 persen dan terkoreksi 47,33 persen dalam satu tahun terakhir.

Analisis Fundamental Amman Mineral

Walaupun harga saham mengalami tekanan, fundamental AMMN tetap menunjukkan kinerja yang positif. Berdasarkan data keuangan trailing twelve months (TTM), perusahaan mencatatkan pendapatan sebesar Rp44,01 triliun dengan laba bersih mencapai Rp9,09 triliun dan EBITDA sebesar Rp24,42 triliun. Margin keuntungan perusahaan juga tetap tinggi, dengan gross profit margin sebesar 42,37 persen, operating profit margin 38,92 persen, dan net profit margin mencapai 19,83 persen.

Dari segi valuasi, AMMN saat ini diperdagangkan dengan price to earnings ratio (PER) tahunan sekitar 24,84 kali dan price to book value (PBV) 2,88 kali. Kapitalisasi pasar perusahaan saat ini mencapai sekitar Rp268,3 triliun dengan enterprise value sebesar Rp370,1 triliun. Kinerja kuartal I 2026 menunjukkan lonjakan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan pendapatan tercatat Rp13,62 triliun, meningkat dari Rp35 miliar pada kuartal I 2025. Laba bersih pada kuartal ini mencapai Rp2,7 triliun, berbanding terbalik dengan kerugian Rp2,27 miliar yang dialami sebelumnya.

Ekspansi Bisnis dan Struktur Kepemilikan

Pertumbuhan tersebut didorong oleh bisnis utama tambang tembaga dan emas Batu Hijau yang terletak di Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Tambang ini merupakan salah satu aset tembaga terbesar di Indonesia dan menyuplai konsentrat tembaga untuk kebutuhan smelter global. AMMN juga terus memperluas rantai bisnis hilirisasi melalui beberapa anak usaha, termasuk PT Amman Mineral Industri yang bergerak di bidang pengolahan logam dan smelter, PT Amman Mineral Energi, PT Amman Nusantara Gas, serta perusahaan infrastruktur dan logistik seperti PT Sumbawa Nusantara Infrastruktur dan PT Angkasa Nusa Sarana.

Dalam hal kepemilikan saham, struktur pengendali AMMN masih sangat terkonsentrasi. PT Sumber Gemilang Persada adalah pemegang saham terbesar dengan proporsi 32,17 persen, diikuti oleh PT Medco Energi Internasional Tbk sebesar 20,92 persen dan AP Investment sebesar 15,45 persen. Porsi free float AMMN berada di kisaran 19,06 persen, yang sudah melebihi ketentuan minimum Bursa Efek Indonesia sebesar 15 persen. Namun, pasar tetap memperhatikan terbatasnya likuiditas transaksi dan dominasi kepemilikan oleh pemegang saham strategis.

Evaluasi terbaru MSCI juga menunjukkan sorotan terhadap AMMN. Selain AMMN, sejumlah saham berkapitalisasi besar lainnya seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) juga terdegradasi dari MSCI Global Standard Index ke MSCI Global Small Cap Index. Perubahan klasifikasi ini banyak dikaitkan dengan isu free float yang efektif dan penurunan partisipasi investor asing dalam beberapa saham besar domestik. MSCI selama ini mempertimbangkan likuiditas, ukuran kapitalisasi pasar, dan aksesibilitas investor sebagai faktor utama dalam evaluasi indeks global mereka.

Perspektif Analis terhadap Saham AMMN

Meski demikian, konsensus analis terhadap AMMN masih cenderung positif. Dari sembilan analis yang memantau saham ini, delapan di antaranya memberikan rekomendasi beli, sementara satu analis merekomendasikan untuk menahan. Rata-rata target harga analis untuk AMMN berada di level Rp9.358 per saham, dengan estimasi tertinggi mencapai Rp11.000 dan terendah Rp7.100. Posisi ini masih jauh di atas harga pasar saat ini yang berada di kisaran Rp3.700 per saham.

(*) Disclaimer: Berita atau informasi yang disajikan membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber terpercaya lainnya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Artikel Terkait