Korea Selatan saat ini menghadapi peningkatan jumlah kasus kanker payudara, khususnya di kalangan wanita yang berusia antara 30 hingga 40 tahun. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa kanker payudara yang dialami oleh wanita muda mungkin memiliki karakteristik yang lebih agresif. Namun, apakah benar bahwa kanker payudara pada wanita muda cenderung lebih berbahaya?
Prof. Lee Ji-eun, seorang pakar Onkologi Medis dari Seoul St Mary's Hospital, The Catholic University of Korea, menyatakan bahwa usia muda bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan apakah kanker payudara yang diderita seseorang lebih agresif atau tidak. Dengan kata lain, diagnosis kanker payudara pada usia muda tidak selalu berarti bahwa penyakit tersebut lebih ganas. Ada berbagai faktor lain yang perlu dipertimbangkan untuk menilai karakteristik dan tingkat agresivitas kanker.
“Menjadi muda tidak secara otomatis berarti kanker yang diidap lebih agresif,” ungkap Prof. Lee dalam penjelasannya yang dilansir dari Korea Biomedical Review.
Faktor Subtipe Kanker
Meskipun demikian, Prof. Lee mengakui bahwa subtipe kanker payudara yang tergolong agresif lebih sering ditemukan pada wanita berusia 30-an dan 40-an. Data menunjukkan bahwa kanker payudara jenis triple-negative menyumbang 22,8 persen dari total kasus di kalangan pasien berusia 15 hingga 39 tahun. Angka ini hampir dua kali lipat dibandingkan dengan kelompok usia di atas 50 tahun yang hanya mencatat 11,7 persen.
Selain itu, proporsi kanker payudara jenis HER2-positif pada pasien muda juga lebih tinggi, mencapai 28,2 persen dibandingkan dengan 16,6 persen pada kelompok usia yang lebih tua. “Subtipe triple-negative dan HER2-positif yang cenderung lebih agresif memang ditemukan dengan proporsi lebih tinggi pada wanita muda. Hal inilah yang membuat kanker payudara pada wanita muda sering digambarkan agresif dan dianggap berkembang lebih cepat. Padahal, yang paling menentukan adalah subtipe dan stadium kankernya,” jelas Prof. Lee.
Pentingnya Pemahaman Subtipe Kanker
Prof. Kim Ji-hyung, seorang pakar onkologi dari Gangnam Severance Hospital, menanggapi kepanikan yang sering dialami oleh pasien muda saat pertama kali didiagnosis. Ia menekankan pentingnya bagi pasien untuk memahami subtipe spesifik dari kanker yang mereka derita. “Kanker payudara terbagi ke dalam beberapa jenis yang khas. Strategi paling krusial saat ini adalah menentukan secara akurat pengobatan apa yang benar-benar dibutuhkan oleh masing-masing pasien,” terang Prof. Kim.
Ia menambahkan bahwa bahkan pada stadium awal, ada pasien yang tidak memerlukan kemoterapi, sementara yang lain justru sangat membutuhkannya. “Keputusan terapi yang tepat adalah kuncinya,” lanjutnya. Prof. Kim juga mengingatkan pasien yang terdiagnosis subtipe agresif seperti triple-negative atau HER2-positif untuk tidak merasa putus asa, karena penanganan medis saat ini telah berkembang pesat.
“Untuk kanker yang agresif, strategi terapinya kini sudah berubah. Alih-alih langsung melakukan tindakan pembedahan, kami dapat menerapkan pendekatan seperti kemoterapi neoadjuvan terlebih dahulu untuk mengecilkan tumor,” jelas Prof. Kim.
Prof. Lee menambahkan bahwa respons pengobatan pada setiap pasien sangat bervariasi. Menurutnya, pasien dengan subtipe triple-negative maupun metastatik tetap memiliki peluang besar untuk mencapai kondisi stabil. Bahkan, mereka bisa bebas dari kekambuhan dalam jangka panjang berkat adanya terapi target.
Ia mengimbau pasien yang baru terdiagnosis untuk fokus memahami kondisi penyakitnya melalui diskusi dengan tim medis, alih-alih panik akibat membaca informasi yang belum tentu akurat di internet. “Saat terdiagnosis, orang-orang sering kali panik dan mencari informasi dalam jumlah sangat besar di internet. Padahal yang paling penting adalah memahami subtipe apa yang dimiliki, lalu mendiskusikan rencana pengobatan terbaik bersama tim dokter,” pungkas Prof. Lee.