Ekonomi

Archi Indonesia: Lonjakan Laba Dipicu oleh Efisiensi dan Kualitas Bijih Emas

PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) mengungkapkan bahwa kenaikan laba bersih hingga sepuluh kali lipat di tahun 2025 tidak hanya disebabkan oleh harga emas yang meningkat, tetapi juga oleh efisiensi biaya d...

E
Eko Prasetyo
13 May 2026 13 pembaca
Archi Indonesia: Lonjakan Laba Dipicu oleh Efisiensi dan Kualitas Bijih Emas
Perusahaan menilai efisiensi biaya dan peningkatan kadar bijih emas ikut menjadi faktor utama pengerek margin keuntungan. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)

PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) menyatakan bahwa peningkatan laba bersih yang mencapai sepuluh kali lipat sepanjang tahun 2025 tidak semata-mata disebabkan oleh kenaikan harga emas global. Perusahaan menilai bahwa efisiensi biaya serta peningkatan kadar bijih emas juga berkontribusi signifikan terhadap margin keuntungan.

Direktur Utama ARCI, Rudy Suhendra, mengungkapkan bahwa produksi perusahaan di tahun 2025 meningkat sebesar 31 persen dibandingkan tahun sebelumnya. “Jika hal ini linear, berarti kenaikan laba juga seharusnya meningkat sebesar 31 persen,” jelas Rudy dalam Paparan Publik Tahun Buku 2025, yang dilaksanakan pada Rabu, 13 Mei 2026. Namun, ia menambahkan bahwa ARCI berhasil mencatat pertumbuhan laba yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan produksi. Sebelumnya, perseroan telah menargetkan peningkatan laba minimal lima kali lipat dibandingkan tahun lalu.

Strategi Efisiensi dan Peningkatan Kualitas

Rudy menjelaskan bahwa perusahaan menerapkan strategi efisiensi biaya dan mengolah bijih dengan kadar emas yang lebih tinggi. Langkah-langkah ini membuat margin keuntungan meningkat lebih besar dibandingkan dengan kenaikan produksi. “Ditambah lagi dengan kenaikan harga emas dunia, sehingga pada tahun 2025 secara finansial laba bersih Perseroan meningkat sebesar 10x,” ungkap Rudy.

Kinerja ARCI tetap menunjukkan pertumbuhan yang kuat pada kuartal I tahun 2026. Berdasarkan informasi yang dipublikasikan, laba bersih perusahaan mencapai USD30,18 juta, yang melonjak hampir tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar USD10,48 juta. Pendapatan ARCI juga mengalami peningkatan menjadi USD136,9 juta dari sebelumnya USD90,7 juta, sementara laba usaha perusahaan meningkat signifikan menjadi USD55,87 juta.

Tekanan Biaya Pendanaan dan Likuiditas

Walaupun demikian, lonjakan laba tersebut masih tertekan oleh biaya pendanaan. Beban keuangan ARCI tercatat sebesar USD9 juta, yang menyerap porsi cukup besar dari laba sebelum pajak yang mencapai USD47,84 juta. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan laba perusahaan masih dibayangi oleh tekanan bunga yang relatif tinggi, sejalan dengan struktur pendanaan perusahaan yang masih agresif berbasis utang.

Dari sisi neraca, ARCI masih memiliki utang bank jangka panjang sebesar USD429,18 juta, dengan total liabilitas perusahaan mencapai USD668,26 juta, lebih besar dibandingkan total ekuitas yang sebesar USD392,93 juta. Data dari platform Stockbit menunjukkan bahwa rasio leverage perusahaan masih tergolong tinggi, dengan debt to equity ratio (DER) ARCI berada di kisaran 1,37 kali, sementara total liabilities to equity ratio mencapai 1,71 kali.

Meskipun demikian, kemampuan perusahaan dalam menanggung beban bunga masih terjaga. Interest coverage ratio tercatat sekitar 5,07 kali, yang menunjukkan laba operasional perusahaan masih mampu mendukung kewajiban bunga. Dari segi likuiditas, current ratio ARCI berada di level 1,02 kali, sedangkan quick ratio hanya sekitar 0,53 kali, menunjukkan likuiditas jangka pendek perusahaan masih cukup terbatas tanpa memperhitungkan persediaan.

Di tengah kenaikan harga emas global, manajemen menegaskan bahwa perusahaan tidak menjalankan strategi perdagangan harga emas. Fokus utama ARCI tetap pada produksi dan kesinambungan tambang. Rudy menyatakan bahwa pola produksi pada kuartal IV tahun 2025 dan kuartal I tahun 2026 yang terlihat lebih tertahan merupakan bagian dari sequence mining atau urutan penambangan jangka panjang. “Manajemen Perseroan tidak hanya fokus untuk pencapaian tahun 2025 saja, tetapi juga rencana kami ke depan,” ujarnya.

ARCI juga menekankan bahwa arus kas tetap menjadi perhatian utama perusahaan dalam menjaga kesinambungan proyek dan operasional. Dari sisi valuasi, saham ARCI saat ini diperdagangkan dengan price to earnings (PE) ratio sekitar 20 kali, lebih tinggi dibandingkan median IHSG yang berada di kisaran 9 kali. Price to book value (PBV) tercatat sekitar 6,08 kali, sementara price to cash flow dan price to free cash flow masing-masing berada di kisaran 30 kali. Meskipun demikian, PEG ratio yang rendah di level 0,12 menunjukkan bahwa saham ini masih memiliki daya tarik dari sisi pertumbuhan.

Pergerakan saham ARCI juga menunjukkan tren penguatan dalam jangka panjang. Dalam enam bulan terakhir, saham ARCI mengalami kenaikan sekitar 36,6 persen, sedangkan dalam satu tahun terakhir melonjak lebih dari 320 persen.

Artikel Terkait