PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) menegaskan bahwa strategi bisnis perusahaan tetap berorientasi pada produksi emas jangka panjang dan kesinambungan operasional tambang. Perusahaan menjelaskan bahwa pola produksi yang terlihat lebih konservatif pada akhir tahun 2025 hingga awal tahun 2026 merupakan bagian dari strategi penambangan yang berkelanjutan.
Direktur Utama ARCI, Rudy Suhendra, menegaskan bahwa perusahaan tidak sengaja menahan produksi untuk memanfaatkan kenaikan harga emas global. “PT Archi Indonesia adalah perusahaan tambang, bukan trader,” jelas Rudy dalam Paparan Publik Tahun Buku 2025 yang disampaikan pada Rabu, 13 Mei 2026.
Fokus pada Rencana Operasional
Menurut Rudy, fokus utama perusahaan adalah menjalankan produksi dan penjualan sesuai dengan rencana operasional yang telah disusun. Manajemen juga melakukan penyesuaian dalam urutan penambangan untuk memenuhi kebutuhan produksi baik jangka pendek maupun jangka panjang. Ia menambahkan bahwa kondisi produksi pada kuartal IV tahun 2025 dan kuartal I tahun 2026 bukan disebabkan oleh hambatan operasional, melainkan merupakan bagian dari tahapan penambangan yang telah direncanakan sebelumnya.
“Kami percaya bahwa dengan kondisi pasar saat ini, harga emas ke depan akan stabil dan ada potensi untuk mengalami kenaikan,” ungkap Rudy. Meskipun demikian, manajemen tetap mempertimbangkan arus kas sebagai faktor utama dalam menjaga keberlanjutan proyek dan ekspansi tambang.
Target Produksi dan Ekspansi Tambang
Di sisi lain, ARCI menargetkan peningkatan produksi sebesar 15 persen pada tahun 2026 dibandingkan dengan tahun 2025. Perusahaan saat ini juga tengah melaksanakan proyek peningkatan kapasitas pabrik pengolahan dari 4 Mtpa menjadi 6 Mtpa. Selain itu, ARCI mulai membuka tambang bawah tanah baru di kawasan Marawuwung untuk mendukung pertumbuhan produksi jangka panjang.
Dengan langkah-langkah ini, ARCI berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam industri pertambangan emas dan memastikan keberlanjutan operasionalnya di masa mendatang.