Ekonomi

Bach Multi Global Siap Melakukan IPO dengan Rencana Pembagian Dividen

PT Bach Multi Global Tbk (BACH) akan melaksanakan penawaran umum perdana saham (IPO) di Bursa Efek Indonesia, dengan harga saham berkisar antara Rp400 hingga Rp500. Perusahaan ini juga berencana untuk...

A
Adhe Dharma
23 June 2026 3 pembaca
Hall Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: Dok KabarBursa.com
Hall Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: Dok KabarBursa.com

PT Bach Multi Global Tbk (BACH) tengah mempersiapkan diri untuk melaksanakan penawaran umum perdana saham (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Masa penawaran awal (bookbuilding) dijadwalkan berlangsung dari 22 hingga 24 Juni 2026 dengan harga yang ditawarkan berkisar antara Rp400 hingga Rp500 per lembar saham.

Menurut jadwal yang tercantum dalam e-IPO, penawaran umum akan dilaksanakan pada 1 hingga 3 Juli 2026. Penjatahan efek direncanakan pada 3 Juli 2026, diikuti dengan distribusi saham kepada para investor pada 6 Juli 2026, dan pencatatan saham perdana di Bursa Efek Indonesia pada 7 Juli 2026.

Profil Perusahaan dan Lini Usaha

BACH adalah perusahaan yang bergerak di sektor solusi energi dan infrastruktur telekomunikasi. Perusahaan ini memiliki dua lini usaha utama, yaitu penjualan dan penyewaan generator set (genset) serta jasa konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi. Untuk memperkuat bisnis di bidang telekomunikasi, BACH mendirikan anak perusahaan BMI yang khusus menangani jasa konstruksi infrastruktur telekomunikasi.

Sejak Juli 2023, BACH juga bergabung dengan grup infrastruktur digital independen PT Sarana Menara Nusantara Tbk melalui GTP. Hingga September 2025, grup ini tercatat memiliki dan mengoperasikan sekitar 36.049 menara telekomunikasi di berbagai lokasi di Indonesia.

Visi dan Strategi Perusahaan

Dalam prospektusnya, manajemen BACH menetapkan visi untuk menjadi perusahaan terdepan dalam solusi energi dan telekomunikasi yang dapat diandalkan dan berkelanjutan. Untuk mencapai visi tersebut, perusahaan berfokus pada inovasi layanan, penguatan kemitraan strategis, pengembangan talenta, serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik.

Di segmen energi, BACH menyediakan layanan penjualan dan penyewaan genset untuk berbagai kebutuhan industri dan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD). Perusahaan ini merupakan agen tunggal genset merek Himoinsa di Indonesia dan juga memasarkan berbagai merek lain yang menggunakan mesin Cummins, Perkins, APC, Yanmar, Doosan, Mitsubishi, dan Kubota. Produk yang ditawarkan memiliki kapasitas mulai dari 7 kVA hingga 3.000 kVA dan digunakan di berbagai sektor seperti pertambangan, manufaktur, perbankan, perkebunan, perhotelan, pusat perbelanjaan, pendidikan, hingga sektor komersial lainnya.

Di bidang telekomunikasi, BACH menyediakan layanan pembangunan menara BTS, termasuk site acquisition (SITAC), pekerjaan sipil, mekanikal dan elektrikal (CME), kolokasi, relokasi, serta pembongkaran menara. Perusahaan ini juga mengelola layanan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi dengan cakupan sekitar 41.000 lokasi di seluruh Indonesia. Beberapa perusahaan telekomunikasi dan pengelola menara nasional menjadi pelanggan BACH, termasuk Protelindo Group, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk, Centratama Group, Indosat Hutchison, PT XL Axiata Tbk, Huawei, dan Telkomsel.

Prospek dan Rencana Pembagian Dividen

Dari sisi prospek usaha, BACH meyakini bahwa permintaan terhadap genset akan terus meningkat seiring dengan pembangunan infrastruktur nasional, ekspansi sektor industri, hilirisasi mineral, serta kebutuhan pasokan listrik cadangan di berbagai daerah di Indonesia. Pasar generator di Indonesia diperkirakan bernilai sekitar USD679,46 juta pada 2024 dan akan meningkat menjadi USD1,76 miliar pada 2035.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi digital dan kebutuhan konektivitas yang meningkat diperkirakan akan mendukung permintaan untuk pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi. Kebutuhan untuk mengembangkan jaringan 4G dan 5G, pembangunan pusat data, serta perluasan akses telekomunikasi di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) diperkirakan akan menjadi pendorong pertumbuhan bisnis BACH dalam jangka panjang.

BACH percaya bahwa sinergi antara bisnis energi dan telekomunikasi memberikan posisi strategis untuk memanfaatkan peluang pertumbuhan di kedua sektor tersebut secara berkelanjutan. Mengenai kebijakan dividen, setelah IPO, perusahaan berencana untuk membagikan dividen tunai maksimal 50 persen dari laba bersih mulai tahun buku 2026, yang akan dibayarkan pada 2027, dengan tetap mempertimbangkan kondisi keuangan, kebutuhan modal kerja, ekspansi usaha, serta persetujuan pemegang saham.

Sebelum IPO, BACH memiliki catatan pembagian dividen yang cukup konsisten. Pada 2025, perusahaan ini membagikan dividen tunai sebesar Rp50 miliar, setelah sebelumnya membagikan Rp17,7 miliar pada 2024 dan Rp129,1 miliar pada 2023.

Artikel Terkait