Ekonomi

Dividen Tinggi, Namun Saham DUTI Sepi Transaksi: Siapa yang Diuntungkan?

PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI) mengumumkan pembagian dividen tunai yang mengejutkan, meski sahamnya tidak aktif diperdagangkan. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai siapa yang sebenarnya mendapatkan ma...

I
Indriani Atmaja
23 June 2026 1 pembaca
Jumlah saham beredar DUTI mencapai sekitar 1,85 miliar lembar, namun free float perusahaan hanya sekitar 0,54 persen. (Foto: KabarBursa)
Jumlah saham beredar DUTI mencapai sekitar 1,85 miliar lembar, namun free float perusahaan hanya sekitar 0,54 persen. (Foto: KabarBursa)

PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI), yang merupakan bagian dari Grup Sinar Mas, dalam beberapa tahun terakhir terlihat lebih mirip sebagai "saham keluarga" daripada saham publik yang aktif diperdagangkan. Payout ratio DUTI mencapai lebih dari 200 persen, sementara neraca keuangannya hampir tanpa utang, namun transaksi di pasar sangat minim.

Pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan yang berlangsung pada 17 Juni 2026, DUTI memutuskan untuk membagikan dividen tunai sebesar Rp480 per saham, yang setara dengan total Rp888 miliar. Angka ini cukup mengejutkan jika dibandingkan dengan laba bersih yang hanya mencapai Rp422 miliar pada tahun 2025. Dengan demikian, payout ratio DUTI mencapai sekitar 210 persen. Meskipun harga saham berada di kisaran Rp4.360, yield dividen yang ditawarkan mencapai sekitar 11 persen, angka yang cukup menarik. Namun, pertanyaan muncul, mengapa sahamnya tidak bergerak?

Free Float yang Minim

Data menunjukkan bahwa jumlah saham yang beredar dari DUTI mencapai sekitar 1,85 miliar lembar, tetapi free float perusahaan hanya sekitar 0,54 persen. Ini berarti lebih dari 99 persen saham dikuasai oleh pemegang saham pengendali dan afiliasinya. Free float yang hanya 0,54 persen merupakan angka yang sangat kecil, sehingga hanya sekitar 10 juta lembar saham yang benar-benar beredar di publik.

Akibatnya, likuiditas saham DUTI sangat rendah. Pada perdagangan terakhir, hanya ada antrean beli dan jual masing-masing 40 lot di harga Rp4.420, dengan frekuensi transaksi yang sangat minim. Kondisi ini menjadikan saham DUTI memiliki karakter yang berbeda dibandingkan dengan mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia, di mana harga saham tidak bergerak karena hampir tidak ada saham yang berpindah tangan. Pertanyaan pun muncul, untuk siapa sebenarnya dividen sebesar Rp888 miliar itu dibagikan?

Dividen untuk Pemegang Saham Pengendali

Secara teori, dividen seharusnya dibagikan kepada semua pemegang saham. Namun, karena sebagian besar saham DUTI dimiliki oleh pemegang saham pengendali, maka sebagian besar dana dividen akan kembali ke pemilik utama perusahaan. Inilah yang menjelaskan mengapa beberapa emiten dengan free float yang sangat kecil sering kali terlihat royal dalam membagikan dividen. Dividen tidak hanya berfungsi sebagai penghargaan kepada investor publik, tetapi juga sebagai mekanisme distribusi kas kepada pemegang saham pengendali.

Meskipun demikian, kondisi fundamental DUTI tidak dapat dianggap buruk. Sebaliknya, perusahaan ini termasuk salah satu emiten properti dengan neraca yang paling sehat di Bursa. Total ekuitas DUTI mencapai Rp16,15 triliun pada akhir 2025, sementara saldo laba ditahan yang belum ditentukan penggunaannya mencapai Rp9,39 triliun. Ini menunjukkan bahwa perusahaan memiliki cadangan kas dan akumulasi keuntungan yang sangat besar dari tahun-tahun sebelumnya.

Dari sisi solvabilitas, current ratio DUTI mencapai 4,22 kali dan quick ratio sebesar 2,28 kali, yang menunjukkan bahwa aset lancar perusahaan jauh lebih besar dibandingkan kewajiban jangka pendeknya. Yang lebih menarik, rasio total liabilitas terhadap ekuitas hanya sekitar 0,23 kali, dan financial leverage hanya 1,49 kali. Dengan kata lain, DUTI bukanlah perusahaan yang agresif dalam menggunakan utang untuk membiayai operasionalnya. Kondisi ini membuat kesehatan finansial DUTI berada dalam kategori yang sangat aman. Altman Z-Score perusahaan bahkan mencapai 9,34, jauh di atas ambang batas risiko kebangkrutan, dan interest coverage ratio sebesar 6,29 kali menunjukkan kemampuan perusahaan dalam membayar beban bunga masih sangat kuat.

Perlambatan Pertumbuhan Bisnis

Namun, di balik neraca yang solid tersebut, terdapat tantangan yang mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir, yaitu perlambatan pertumbuhan bisnis. Pendapatan DUTI sepanjang 2025 hanya mencapai Rp2,73 triliun, turun tajam dibandingkan Rp4,42 triliun pada 2024 dan Rp3,86 triliun pada 2023. Penurunan yang sama juga terjadi pada laba bersih, yang setelah mencetak Rp1,07 triliun pada 2023 dan Rp852 miliar pada 2024, turun menjadi Rp422 miliar pada 2025. Ini menunjukkan bahwa secara operasional, perusahaan sedang menghadapi perlambatan penjualan dan pengakuan pendapatan dari proyek properti, tantangan yang juga dihadapi oleh banyak pengembang properti besar dalam beberapa tahun terakhir.

Meskipun demikian, margin keuntungan DUTI masih tergolong sehat. Dengan laba bersih Rp422 miliar dari pendapatan Rp2,73 triliun, perusahaan masih mampu mempertahankan profitabilitas di tengah siklus properti yang belum sepenuhnya pulih. Bagi investor yang mencari capital gain, DUTI mungkin bukan pilihan yang ideal. Likuiditas yang sangat tipis membuat saham ini sulit diperdagangkan dan pergerakan harga cenderung stagnan dalam waktu yang lama. Namun, bagi investor yang berorientasi pada pendapatan dividen, DUTI menawarkan daya tarik tersendiri. Yield dua digit, neraca yang sangat kuat, serta tradisi pembagian dividen yang konsisten menjadi alasan mengapa sebagian investor tetap mempertahankan saham ini meskipun aktivitas perdagangan hampir tidak ada.

Artikel Terkait