Bank Indonesia (BI) sedang mempertimbangkan penggunaan data transaksi dari Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai dasar penilaian kredit bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Gubernur BI, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa pemanfaatan data transaksi digital ini diharapkan dapat meningkatkan akses pembiayaan bagi pedagang kecil.
Peluang dari Data Transaksi QRIS
Destry menjelaskan bahwa data transaksi QRIS memiliki potensi untuk digunakan sebagai credit scoring atau penilaian kelayakan kredit bagi pelaku usaha. Dengan demikian, aktivitas transaksi digital dapat menjadi salah satu sumber informasi untuk menilai profil usaha calon debitur. “Jadi, kami sudah melakukan banyak hal. Paling tidak karena kami ingin pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, artinya pertumbuhannya harus inklusif,” ujarnya dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (TIIF) 2026 yang berlangsung di Jakarta pada Senin, 26 Oktober.
Ia juga menambahkan bahwa QRIS merupakan salah satu langkah BI untuk memperluas akses keuangan bagi masyarakat, termasuk para pedagang kecil. Saat ini, jumlah pengguna QRIS telah mencapai 71 juta, dengan 49,4 juta merchant yang menggunakan sistem pembayaran tersebut.
Manfaat untuk UMKM
Dalam kesempatan itu, Destry mengungkapkan bahwa sekitar 97% merchant QRIS adalah pelaku UMKM. Besarnya jumlah pedagang yang telah mengadopsi sistem pembayaran digital ini memberikan peluang untuk memanfaatkan data transaksi dalam mendukung akses pembiayaan. “Nah ini, paling tidak suatu keberhasilan kita memberikan akses keuangan kepada para merchant di bawah, merchant-merchant yang small juga, yang nantinya data ini bisa menjadi semacam credit scoring, ke depannya akan seperti itu,” jelasnya.
Destry menambahkan bahwa penggunaan data transaksi sebagai salah satu acuan penilaian kredit dapat membantu UMKM yang belum memiliki rekam jejak kredit yang memadai atau dokumentasi keuangan formal yang lengkap. Data transaksi tersebut dapat memberikan gambaran mengenai aktivitas usaha, meskipun kelayakan kredit tetap harus dinilai berdasarkan berbagai faktor lainnya.
Selain memperluas akses pembiayaan, BI juga berupaya memperkuat sistem pembayaran digital untuk mempermudah transaksi ekonomi. Destry menyatakan bahwa BI telah mengembangkan sistem pembayaran cepat yang dapat diakses selama 24 jam sehari, tujuh hari dalam seminggu. Ia menegaskan bahwa kelancaran transaksi dan akses keuangan merupakan elemen penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.