Ekonomi

BSDE Alokasikan Laba Rp2,54 Triliun untuk Memperkuat Modal Kerja

PT Bumi Serpong Damai Tbk memutuskan untuk menyisihkan sebagian besar laba bersih tahun 2025 sebagai laba ditahan guna memperkuat struktur permodalan dan mendukung pertumbuhan berkelanjutan.

A
Agus Wigati
20 June 2026 15 pembaca
PT Bumi Serpong Damai Tbk (BEI: BSDE) menempatkan mayoritas laba bersih tahun buku 2025 sebagai laba ditahan untuk memperkuat struktur permodalan perseroan. (Foto: Dok. BSD)
PT Bumi Serpong Damai Tbk (BEI: BSDE) menempatkan mayoritas laba bersih tahun buku 2025 sebagai laba ditahan untuk memperkuat struktur permodalan perseroan. (Foto: Dok. BSD)

PT Bumi Serpong Damai Tbk (BEI: BSDE) mengambil langkah untuk menempatkan mayoritas laba bersih tahun buku 2025 sebagai laba ditahan. Keputusan ini telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) untuk mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Strategi ini bertujuan untuk membiayai pengembangan proyek baru secara mandiri.

Strategi Untuk Pertumbuhan Bisnis

Direktur BSDE, Hermawan Wijaya, menjelaskan bahwa pencatatan sebagian besar laba bersih sebagai laba ditahan merupakan langkah strategis. Ia menekankan komitmen perseroan untuk memanfaatkan peluang pertumbuhan yang ada di sektor properti nasional. Kebijakan ini diambil untuk menciptakan nilai tambah jangka panjang yang optimal bagi pemegang saham. "Penguatan struktur permodalan melalui laba ditahan merupakan langkah strategis mendukung proyek baru dan memperkuat land bank," ungkap Hermawan.

Hermawan juga menambahkan bahwa alokasi dana internal ini akan difokuskan untuk meningkatkan fleksibilitas keuangan perusahaan. Dengan struktur modal yang kuat, langkah ekspansi korporasi akan lebih mudah dilakukan untuk menangkap berbagai peluang usaha baru. "Langkah ini untuk menjaga fleksibilitas keuangan BSDE dalam menangkap peluang usaha yang menciptakan nilai tambah berkelanjutan," ujarnya.

Rincian Laba dan Kinerja Keuangan

Rapat yang berlangsung di Green Office Park 9 Tangerang tersebut memutuskan penggunaan laba bersih sebesar Rp2,55 triliun. Pemegang saham sepakat untuk mengalokasikan Rp2,00 miliar dari laba bersih sebagai dana cadangan wajib perusahaan. Sisa keuntungan sebesar Rp2,54 triliun resmi dibukukan sebagai laba ditahan untuk memperkuat modal kerja. Sepanjang tahun 2025, pengembang kota mandiri BSD City ini berhasil meraih pendapatan usaha sebesar Rp12,79 triliun.

Performa positif emiten properti ini terlihat dari kenaikan total aset sebesar 4,27 persen menjadi Rp79,27 triliun. Jumlah ekuitas perusahaan juga mengalami pertumbuhan sebesar 11,31 persen, mencapai Rp52,67 triliun pada akhir tahun. Posisi kas dan setara kas perusahaan tercatat sangat likuid, mencapai Rp10,28 triliun, didukung oleh rasio utang bersih terhadap ekuitas yang terjaga rendah di level 8,68 persen.

Direktur BSDE tersebut menegaskan bahwa posisi keuangan yang solid menjadi modal utama untuk melanjutkan pertumbuhan. Perseroan menargetkan prapenjualan atau marketing sales sebesar Rp10,00 triliun untuk tahun 2026. "Didukung posisi keuangan solid dan portofolio aset berkualitas, kami berada dalam posisi baik untuk melanjutkan pertumbuhan berkelanjutan," jelas Hermawan.

Hermawan menjelaskan bahwa segmen residensial akan menjadi pendorong utama target prapenjualan tersebut, dengan sektor rumah tapak ditargetkan menyumbang Rp5,00 triliun atau sekitar 50 persen dari total sasaran. Target berikutnya akan didukung oleh segmen komersial sebesar Rp3,50 triliun dan sektor lainnya senilai Rp1,50 triliun. "Kami disiplin memanfaatkan peluang yang muncul sekaligus memberikan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan," tutup Hermawan.

Selain RUPST, perseroan juga mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk merombak susunan pengurus. Dalam rapat tersebut, pemegang saham menerima pengunduran diri Muktar Widjaja sebagai Presiden Komisaris perusahaan dan menyetujui pengunduran diri Michael J.P. Widjaja dari jabatan Wakil Presiden Direktur. Teky Mailoa kemudian diangkat sebagai Presiden Komisaris baru untuk masa jabatan hingga 2029.

Agenda RUPSLB juga mencakup persetujuan perubahan Anggaran Dasar terkait penyesuaian Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia 2025. Penyegaran struktur kepemimpinan diharapkan dapat mempercepat pelaksanaan program kemitraan strategis baik di tingkat nasional maupun internasional. Manajemen berkomitmen untuk terus memperkuat cadangan kas guna mengamankan peluang bisnis potensial di masa mendatang. Aksi korporasi, baik organik maupun anorganik, akan terus dilakukan untuk mempertahankan posisi BSDE sebagai pengembang terdepan.

Artikel Terkait