PT Bumi Resources Tbk (BUMI) telah memberikan informasi terbaru mengenai akuisisi tambang mineral yang mencakup emas dan tembaga dari Loyal Metals Ltd, sebuah perusahaan asal Australia. Direktur BUMI, RA Sri Dharmayanti, menyatakan bahwa perusahaan telah menandatangani skema perjanjian awal, yaitu scheme implementation deed (SID), dengan Loyal Metals untuk memulai proses akuisisi tersebut. Namun, hingga saat ini, transaksi masih dalam tahap pemenuhan berbagai persyaratan yang diperlukan.
Ia menegaskan bahwa belum ada pengalihan dana atau saham yang terjadi sampai saat ini. Penyelesaian akuisisi ini tergantung pada terpenuhinya sejumlah kondisi awal, termasuk persetujuan dari pemegang saham Loyal Metals serta pemenuhan seluruh proses hukum yang berlaku di Australia. Selama semua syarat tersebut belum dipenuhi, transaksi akuisisi belum dapat dianggap efektif secara hukum dan tidak akan menimbulkan akibat hukum apapun. “Belum terdapat transaksi yang mengikat final terkait perpindahan kepemilikan saham Loyal Metals kepada perusahaan,” tulis Sri dalam laporan keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia pada Selasa (4/8).
Target Penyelesaian dan Nilai Akuisisi
Sebelumnya, BUMI menargetkan agar aksi korporasi ini dapat diselesaikan pada pertengahan Agustus 2026. Dalam skema yang harus mendapatkan persetujuan dari pengadilan Australia berdasarkan Undang-Undang Korporasi 2001, BUMI berencana untuk mengambil alih 100% saham yang beredar dari Loyal Metals. Dalam transaksi ini, pemegang saham Loyal Metals akan menerima pembayaran tunai sebesar A$ 0,45 per saham, yang menempatkan valuasi ekuitas Loyal di kisaran A$ 79,11 juta. Penawaran BUMI ini tercatat 40,6% lebih tinggi dibandingkan dengan harga penutupan saham Loyal pada 24 April 2026 yang mencapai A$ 0,32 per saham.
Selain itu, harga yang ditawarkan juga lebih tinggi 47,4% dibandingkan dengan volume weighted average price (VWAP) selama lima hari terakhir dan 49,6% lebih tinggi dibandingkan dengan VWAP selama sepuluh hari perdagangan terakhir. Manajemen Loyal Metals mengungkapkan bahwa transaksi ini memberikan kepastian pembayaran tunai penuh kepada pemegang saham dengan nilai premium yang menarik. Skema ini juga dinilai dapat mengurangi risiko dalam pengembangan proyek-proyek tambang Loyal yang terletak di Australia dan Kanada.
Kinerja Keuangan BUMI
Dari sisi kinerja keuangan, BUMI mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 27,9% year-on-year menjadi US$ 866,8 juta, dibandingkan dengan US$ 677,9 juta pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan pendapatan ini diikuti oleh peningkatan beban pokok menjadi US$ 720,8 juta dari sebelumnya US$ 570,9 juta. Laba usaha juga mengalami lonjakan 50,3% year-on-year menjadi US$ 83,1 juta dari US$ 55,3 juta, sementara margin usaha meningkat menjadi 9,6% dari 8,2% pada tahun lalu. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak 188,4% year-on-year menjadi US$ 58,9 juta dari US$ 20,4 juta pada paruh pertama 2025.
Secara operasional, produksi batu bara BUMI meningkat 7,1% year-on-year menjadi 38,5 juta ton, sedangkan volume penjualan mengalami kenaikan yang lebih tinggi, yaitu 11,7% menjadi 38,8 juta ton. Penjualan yang melampaui produksi mencerminkan permintaan yang tetap kuat, sehingga persediaan batu bara turun menjadi 1,7 juta ton dari 2,7 juta ton setahun sebelumnya. Di sisi lain, harga jual rata-rata (FOB) juga menunjukkan perbaikan menjadi US$ 62,9 per ton dari sebelumnya US$ 61,3 per ton. Menurut perusahaan, pertumbuhan dalam volume produksi dan penjualan, perbaikan harga jual, serta peningkatan efisiensi penambangan menjadi faktor utama yang mendorong ekspansi margin.
Hal ini terlihat dari membaiknya strip ratio menjadi 7,5 kali dari 8,1 kali, menunjukkan bahwa perusahaan mampu memproduksi lebih banyak batu bara tanpa peningkatan signifikan pada volume pengupasan tanah penutup. Hingga akhir semester pertama 2026, realisasi penjualan batu bara BUMI telah mencapai sekitar separuh dari target tahunan yang ditetapkan sebesar 82–84 juta ton. Sementara itu, harga jual rata-rata sebesar US$ 62,9 per ton juga berada di kisaran atas proyeksi perusahaan untuk tahun ini, yaitu US$ 60–62 per ton. Perusahaan menargetkan biaya produksi tetap terjaga di kisaran US$ 42–44 per ton dan akan melanjutkan strategi diversifikasi, termasuk integrasi aset yang baru diakuisisi di Australia.