Kesehatan

Cedera Otak Dialami Wanita 26 Tahun Akibat Kesalahan Penggunaan Defibrillator

Seorang wanita berusia 26 tahun mengalami cedera otak setelah paramedis salah menekan tombol pada defibrillator saat ia mengalami serangan jantung. Insiden ini terjadi pada April 2019 di London Selata...

D
Darma Yudhistira
15 May 2026 13 pembaca
Cedera Otak Dialami Wanita 26 Tahun Akibat Kesalahan Penggunaan Defibrillator
Foto: Ilustrasi cedera otak (Getty Images/alvarez)

Seorang wanita mengalami cedera otak setelah terjadi kesalahan dalam penggunaan defibrillator oleh paramedis ketika ia mengalami serangan jantung. Defibrillator adalah perangkat medis yang memberikan kejutan listrik untuk mengembalikan detak jantung yang normal.

Menurut informasi yang diperoleh, Meg Fozzard, yang saat itu berusia 26 tahun, pingsan di kediamannya di Walworth, London Selatan. Ia mengalami kesulitan bernapas dan kejang-kejang akibat serangan jantung pada bulan April 2019. Pasangannya, Xander Font Freide, segera menghubungi layanan darurat dan diminta untuk melakukan CPR (Cardiopulmonary Resuscitation) hingga ambulans tiba.

Kesalahan Fatal dalam Penanganan Darurat

Setibanya di lokasi, petugas medis menggunakan kabel pemantau detak jantung biasa alih-alih menggunakan bantalan defibrillator yang seharusnya. Akibat kesalahan ini, alat tidak memberikan sinyal bahwa pasien memerlukan kejutan listrik segera. Situasi semakin buruk ketika petugas menekan tombol yang salah pada perangkat bernama LifePak, sehingga mode darurat baru aktif setelah empat menit berlalu. Hal ini menyebabkan keterlambatan selama delapan menit sebelum Meg akhirnya menerima kejutan listrik untuk jantungnya.

Akibat dan Pemulihan Meg

Akibat kekurangan oksigen yang dialaminya, Meg mengalami cedera otak dan kini kesulitan dalam berbicara, merasa cepat lelah, dan memerlukan kursi roda untuk mobilitasnya. Ia menyatakan, "Hampir tidak mungkin menemukan kata-kata untuk menggambarkan dampak fisik dan emosional dari upaya untuk menerima apa yang telah terjadi."

Awalnya, Meg tidak menyadari kesalahan yang terjadi, namun seiring waktu, ia mulai merasakan tingkat keparahan dari cederanya. Ia mengalami gejala tambahan seperti kabut otak, kurangnya ketangkasan, serta kejang yang tidak terkontrol pada anggota tubuhnya. Berkat dukungan dari pengacara, ia mendapatkan akses ke terapi wicara, fisioterapi, dan terapi okupasi.

Saat ini, Meg yang telah berusia 33 tahun menunjukkan kemajuan yang signifikan. Ia mampu berdiri hingga satu jam, kemampuan berbicara dan kognitifnya telah membaik, dan ia kini bekerja paruh waktu sebagai produser lepas dengan fokus pada hak-hak penyandang disabilitas. "Saya tahu perjalanan saya masih panjang, tetapi akhirnya saya merasa seperti kembali menjadi orang yang dulu," ungkapnya. Namun, ia juga menambahkan, "Saya akan selalu merasa kecewa dengan perawatan yang saya terima ketika saya sangat membutuhkan bantuan, jadi sangat penting untuk mengambil tindakan guna meningkatkan keselamatan pasien bagi orang lain."

Artikel Terkait