Jakarta - Seorang pria berusia 23 tahun di China dilarikan ke rumah sakit karena mengalami gagal ginjal akut yang disebabkan oleh olahraga yang terlalu ekstrem. Kasus ini bukanlah yang pertama, karena berbagai penelitian dan jurnal medis internasional menunjukkan bahwa diagnosis rabdomiolisis akibat olahraga semakin sering ditemukan di rumah sakit di seluruh dunia, seiring dengan meningkatnya popularitas tren kebugaran ekstrem di media sosial.
Penyebab Utama: Olahraga yang Tidak Biasa
Dr. Mark Tarnopolsky, yang menjabat sebagai Kepala Divisi Gangguan Neuromuskular dan Neurometabolik di McMaster University, Kanada, menjelaskan bahwa kondisi ini biasanya disebabkan oleh olahraga yang belum biasa dilakukan oleh tubuh. Hal ini berarti jenis atau intensitas olahraga yang dilakukan belum dapat diterima atau diadaptasi oleh otot.
"Ini biasanya terjadi jika melakukan sesuatu yang belum biasa dilakukan dan benar-benar memaksanya terlalu keras. Hal ini juga rentan terjadi ketika seseorang kembali berolahraga berat setelah mengambil waktu istirahat yang lama," ungkap Dr. Tarnopolsky.
Gejala dan Tanda Kerusakan Otot
Meskipun merasa kaku atau tegang setelah berolahraga adalah hal yang umum, penting untuk mengenali batasan kritis ketika kerusakan otot sudah memasuki fase yang berbahaya. "Jika kondisinya sudah sangat ekstrem hingga kaki nyaris tidak bisa ditekuk, lengan kaku dan tidak bisa diluruskan, atau mulai mengalami urine berwarna gelap, itu berarti otot mengalami kerusakan yang sangat parah hingga protein di dalamnya tumpah ke dalam urine," tambahnya.
Komplikasi Serius yang Mengancam Jiwa
Berdasarkan data dari jurnal kesehatan, kerusakan sel-sel otot secara masif dapat melepaskan komponen berbahaya seperti protein mioglobin dan enzim creatine kinase (CK) ke dalam aliran darah. Jika pasien tidak segera mendapatkan penanganan cairan infus di ruang gawat darurat, penumpukan zat racun ini dapat menyebabkan berbagai komplikasi fatal, antara lain:
- Gagal Ginjal Akut: Sumbatan protein mioglobin yang merusak organ penyaringan ginjal, sehingga pasien mungkin harus menjalani tindakan cuci darah (dialisis).
- Sindrom Kompartemen: Pembengkakan otot yang parah dapat menekan pembuluh darah dan saraf di sekitarnya. Dalam kasus darurat, dokter mungkin perlu melakukan pembedahan untuk mengurangi tekanan tersebut.
- Gangguan Irama Jantung: Ketidakseimbangan kadar elektrolit akibat kerusakan sel otot dapat memicu kejang hingga henti jantung mendadak.
Dengan meningkatnya popularitas olahraga ekstrem, kesadaran akan risiko-risiko ini menjadi sangat penting untuk mencegah terjadinya kasus serupa di masa depan.