Jakarta - Laporan terbaru mengungkapkan bahwa kesepian dan isolasi sosial berpotensi meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung dan stroke. Penelitian yang dilakukan oleh tim dari American Heart Association selama lebih dari empat dekade menunjukkan adanya hubungan yang jelas antara kondisi ini dengan kesehatan yang buruk.
"Mengingat tingginya prevalensi keterputusan sosial di seluruh Amerika Serikat, dampaknya terhadap kesehatan masyarakat sangat signifikan," ungkap Crystal Wiley Cene, ketua tim penyusun laporan tersebut.
Definisi Isolasi Sosial dan Kesepian
Dalam laporan tersebut, isolasi sosial dijelaskan sebagai keadaan di mana seseorang memiliki sangat sedikit interaksi sosial secara langsung. Sementara itu, kesepian terjadi ketika individu merasa terasing, yang dapat menimbulkan perasaan tertekan. Temuan menarik dari penelitian ini menunjukkan bahwa orang dewasa muda berusia 18 hingga 22 tahun kini menjadi kelompok yang paling merasakan kesepian, bukan hanya orang tua yang telah pensiun atau kehilangan pasangan. Hal ini disebabkan oleh kebiasaan mereka yang lebih banyak menghabiskan waktu di media sosial dan mengurangi aktivitas tatap muka dibandingkan generasi sebelumnya.
Dampak Pandemi dan Perilaku Sehat
Data menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 telah memperburuk kondisi kesepian, terutama di kalangan orang dewasa muda. Cene menambahkan, "Ada bukti kuat yang menghubungkan isolasi sosial dan kesepian dengan meningkatnya risiko kesehatan jantung dan otak yang buruk secara umum. Namun, data mengenai kaitannya dengan beberapa kondisi tertentu, seperti gagal jantung, demensia, dan gangguan kognitif, masih terbatas."
Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolasi sosial dan kesepian berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung atau kematian akibat penyakit jantung sebesar 29 persen, sedangkan risiko stroke meningkat sebesar 32 persen. Cene menegaskan bahwa kondisi ini juga dapat memperburuk prognosis kesehatan seseorang.
Orang yang mengalami isolasi sosial atau kesepian cenderung mengadopsi perilaku yang merugikan kesehatan jantung dan otak, seperti mengonsumsi lebih sedikit buah dan sayuran, kurang beraktivitas fisik, serta menjalani gaya hidup yang terlalu sedentari.