Ekonomi

--- Dampak Positif Suntikan Modal Besar Singaraja Putra ke Anak Usaha ---

--- Saham PT Singaraja Putra Tbk (SINI) mengalami lonjakan signifikan setelah perusahaan menginvestasikan Rp 1,18 triliun kepada dua anak usahanya di sektor pertambangan batu bara. Aksi ini diharapkan...

J
Jaya Abdi
25 August 2026 30 pembaca
Karunia Putri
Karunia Putri
---TITLEEXCERPT--- Saham PT Singaraja Putra Tbk (SINI) mengalami lonjakan signifikan setelah perusahaan menginvestasikan Rp 1,18 triliun kepada dua anak usahanya di sektor pertambangan batu bara. Aksi ini diharapkan dapat mempercepat pengembangan dan produksi tambang. ---CONTENT---

Saham PT Singaraja Putra Tbk (SINI) mencatat kenaikan sebesar 24,56% dalam waktu satu minggu. Lonjakan ini terjadi setelah perusahaan yang dipimpin oleh konglomerat nasional, Happy Hapsoro dan Prajogo Pangestu, menginvestasikan dana sebesar Rp 1,18 triliun kepada dua anak usahanya yang beroperasi di bidang pertambangan batu bara.

Dana tersebut dialokasikan untuk PT Pasir Bara Prima (PBP) dan PT Persada Kapuas Prima (PKP) sebagai modal kerja. Langkah ini merupakan bagian dari rencana penggunaan dana hasil penambahan modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue yang telah dilakukan sebelumnya. Dari total dana yang dipinjamkan, SINI memberikan Rp 633,25 miliar kepada PKP dengan suku bunga 10,95% per tahun, sementara PBP menerima maksimal Rp 547,03 miliar dengan suku bunga yang sama.

Penggunaan dana ini akan mendukung operasional kedua anak usaha, termasuk pembayaran jasa kontraktor pertambangan, pengangkutan, pembelian bahan bakar, serta biaya produksi batu bara. Seiring dengan langkah korporasi ini, saham SINI menunjukkan penguatan yang signifikan. Pada akhir perdagangan hari ini, Senin (24/8), saham SINI berada di level Rp 8.750, meningkat 8,36% dalam satu hari, dan telah mengalami kenaikan 28,68% dalam sebulan terakhir.

Transformasi Bisnis yang Signifikan

Peningkatan nilai saham SINI terjadi setelah perusahaan melakukan perubahan dalam profil bisnisnya, dari yang sebelumnya merupakan perusahaan jasa menjadi pemilik langsung dalam bisnis pertambangan batu bara. SINI awalnya didirikan sebagai penyedia layanan penginapan dan merupakan induk dari perusahaan yang bergerak di sektor kayu. Namun, perusahaan ini kemudian melakukan diversifikasi besar-besaran ke sektor pertambangan batu bara melalui akuisisi strategis, yang memungkinkan mereka menguasai cadangan batu bara yang besar di Kalimantan.

Saat ini, SINI mengelola tambang batu bara di Kalimantan Tengah melalui anak usahanya, PT Kemilau Mulia Sakti (KMS). Elandry Pratama, Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, menyatakan bahwa suntikan dana kepada PBP dan PKP menunjukkan keseriusan SINI dalam mempercepat pengembangan dan produksi tambang. PBP ditargetkan untuk memulai produksi pertama pada kuartal IV 2026. "Kalau eksekusinya berjalan sesuai target, potensi peningkatan revenue dan cash flow ke depan cukup besar," ungkap Elandry.

Proyeksi dan Risiko yang Perlu Diperhatikan

Walaupun terdapat potensi yang besar, Elandry juga mengingatkan investor untuk tetap waspada terhadap risiko eksekusi, karena sebagian besar ekspektasi terhadap kinerja SINI sudah tercermin dalam harga saham saat ini. Risiko tersebut mencakup aspek produksi, pembebasan lahan, dan fluktuasi harga batu bara. Untuk akhir 2026, Elandry memproyeksikan target harga saham SINI berada di kisaran Rp 9.000 hingga Rp 10.000, dengan estimasi dasar sekitar Rp 9.500 per saham.

Sementara itu, Azharys Hardian, Investment Specialist dari Korea Investment Sekuritas Indonesia, menilai bahwa SINI menunjukkan komitmen yang kuat untuk beralih fokus ke sektor batu bara, yang secara bertahap mulai memberikan kontribusi signifikan terhadap kinerja keuangannya. Transformasi ini dimulai dengan akuisisi PT Dwi Daya Swakarsa pada tahun 2023, dan operasional PBP serta PKP diperkirakan akan berjalan pada tahun 2024 hingga 2025, serta diperkuat pada tahun 2026 melalui akuisisi PT Kemilau Mulia Sakti dari PTRO.

Ekspansi ini mulai terlihat dalam kinerja semester I 2026, di mana penjualan batu bara menyumbang 56,3% dari total pendapatan SINI, melebihi kontribusi dari bisnis kayu. Dengan suntikan modal kepada anak usaha tambang dan harga batu bara yang masih tinggi, sekitar US$ 130 per ton pada akhir Agustus 2026, Azharys optimis bahwa pertumbuhan pendapatan dan laba bersih SINI akan terus berlanjut. Korea Investment Sekuritas Indonesia juga menetapkan target harga SINI hingga akhir tahun di level Rp 10.000 per saham.

Penafian: Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Artikel ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.

Artikel Terkait