Ekonomi

--- Dampak September Effect Terhadap Pasar Saham Indonesia: Analisis IHSG dan Rekomendasi Saham ---

--- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memasuki bulan September dengan tantangan dari fenomena September Effect, yang biasanya menyebabkan penurunan kinerja pasar. Investor perlu memperhatikan arah IH...

E
Eko Prasetyo
01 September 2026 6 pembaca
Nur Hana Putri Nabila
Nur Hana Putri Nabila
---TITLEEXCERPT--- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memasuki bulan September dengan tantangan dari fenomena September Effect, yang biasanya menyebabkan penurunan kinerja pasar. Investor perlu memperhatikan arah IHSG dan saham-saham yang berpotensi menarik. ---CONTENT---

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memasuki bulan ini dengan adanya fenomena September Effect, yang merupakan kondisi musiman di mana pasar saham sering kali menunjukkan kinerja yang lebih lemah pada bulan kesembilan. Hal ini menjadikan arah pergerakan IHSG selama September menjadi fokus perhatian bagi para investor. Sejak awal tahun, pasar saham domestik telah menghadapi berbagai sentimen, mulai dari perhatian lembaga penyedia indeks global hingga isu politik dalam negeri.

Selama sebulan terakhir, IHSG mengalami penguatan sebesar 5,67%. Namun, jika dilihat dari tahun ke tahun (year to date), indeks ini masih mengalami penurunan sebesar 23,83%. Kiwoom Sekuritas Indonesia Research memperkirakan bahwa kemungkinan IHSG akan ditutup lebih tinggi pada September 2026 berada di kisaran 40–45%. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata historis periode 2017–2026 yang mencapai 33%, meskipun pergerakan indeks diperkirakan akan tetap cenderung konsolidasi dengan potensi pelemahan dalam jangka pendek.

Proyeksi Pergerakan IHSG

Kiwoom memprediksi IHSG akan bergerak dalam rentang 6.300–6.650 sepanjang bulan September. Tekanan terhadap indeks diperkirakan akan meningkat antara 10 hingga 18 September, saat sejumlah bank sentral global mengadakan pertemuan, serta menjelang rebalancing indeks FTSE Russell yang berlangsung pada 18 hingga 21 September. Meskipun demikian, Kiwoom berpendapat bahwa konsolidasi ini dapat menjadi jeda yang sehat di tengah tren re-rating pasar saham Indonesia.

Kiwoom masih mempertahankan target IHSG pada akhir 2026 di kisaran 7.250–7.700. “Dengan syarat progres pada lima uji re-rating terus berlanjut menjelang review MSCI November 2026,” tulis Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, dalam analisisnya. Dia juga menambahkan bahwa fundamental domestik masih kuat, didukung oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,29% secara tahunan pada kuartal kedua 2026.

Liza mencatat bahwa BI rate yang tetap di level 5,75% memberikan ruang untuk pelonggaran kebijakan moneter jika didukung oleh stabilitas rupiah. Dari sisi eksternal, tren kenaikan harga beberapa komoditas utama ekspor Indonesia seperti minyak kelapa sawit mentah (CPO), nikel, dan emas juga memberikan sentimen positif bagi pasar. Selain itu, pasar domestik mendapatkan dorongan dari relief rally setelah adanya komitmen DPR terkait Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset.

Risiko dan Rekomendasi Saham

Namun, Liza mengingatkan bahwa investor perlu memperhatikan beberapa risiko, termasuk tren historis IHSG yang cenderung melemah pada bulan September dan potensi kebijakan hawkish dari The Fed, ECB, dan BOJ. Tekanan juga dapat muncul dari rebalancing FTSE Russell yang berpengaruh pada 39 saham Indonesia serta aksi jual bersih dari investor asing yang telah mencapai Rp 97,28 triliun sepanjang tahun ini.

Liza menyoroti pola historis di mana IHSG sering kali menunjukkan kinerja yang kuat pada bulan Agustus dan lemah pada bulan September, yang terjadi pada enam dari sembilan tahun terakhir. Namun, penurunan ini juga berpotensi membuka kesempatan akumulasi menjelang reli bulan Oktober hingga Desember, dengan rata-rata kenaikan sebesar 1,16% dan 2,41%, serta probabilitas kenaikan mencapai 78%. “Bagi investor dengan horizon menengah hingga panjang, volatilitas September bisa menjadi kesempatan untuk masuk kembali pada saham-saham dengan fundamental yang kuat, bukan sinyal untuk keluar dari pasar,” ungkap Liza.

Kiwoom Sekuritas Indonesia merekomendasikan sembilan saham untuk bulan September 2026, yaitu PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL). Selain itu, mereka juga merekomendasikan saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI).

Di sisi lain, Financial Educator Manager Sucor Sekuritas, Hendry Wijaya, menyatakan bahwa secara historis, bulan September menjadi bulan terlemah bagi IHSG. Dalam sepuluh tahun terakhir, IHSG mencatat rata-rata imbal hasil bulan September sebesar minus 0,94%, dengan peluang untuk menguat hanya 33%. Secara teknikal, Hendry memperkirakan level support IHSG berada di kisaran 6.400–6.500 dan resistance di 6.700. Dari segi valuasi, forward P/E IHSG berada di sekitar 9,8 kali, terendah sejak pandemi dan mendekati level krisis 2008.

Dalam skenario bullish, IHSG berpotensi bergerak di rentang 6.700–6.900 jika tekanan outflow MSCI dapat teratasi, terjadi technical rebound, dan The Fed memberikan sinyal dovish. Meski demikian, ia memperkirakan IHSG akan berkonsolidasi di rentang 6.350–6.600 dengan penurunan yang tertahan oleh valuasi yang relatif murah. “Pandangan bearish IHSG berada di 6.100 - 6.300 jika outflow berlanjut dari MSCI dan FTSE, serta jika rupiah tertekan dalam kondisi risk-off global,” tulis Hendry dalam analisisnya.

Hendry menambahkan bahwa pergerakan IHSG pada bulan September didorong oleh beberapa sentimen positif, termasuk valuasi pasar yang relatif murah dengan forward price to earnings ratio (P/E) sekitar 9,8 kali. BI rate yang tetap di 5,75% serta penguatan rupiah sebesar 1,11% dalam dua pekan terakhir juga menjadi faktor pendukung lainnya. Harapan akan kebijakan The Fed yang lebih dovish dan pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal gubernur Bank Indonesia juga dianggap dapat menjaga sentimen pasar.

Di sisi lain, Hendry juga memproyeksikan beberapa faktor yang dapat menekan IHSG. Secara historis, kinerja IHSG pada bulan September turun rata-rata 0,94%, dengan probabilitas kenaikan hanya 33% dalam sepuluh tahun terakhir. Rebalancing MSCI dan FTSE Russell juga berpotensi memicu dua gelombang penjualan paksa secara beruntun. Selain itu, pasar juga mencermati rilis PMI Manufaktur, neraca perdagangan, dan inflasi Indonesia pada 1 September 2026. Risiko lain berasal dari defisit transaksi berjalan kuartal kedua yang diperkirakan melebar menjadi US$ 11,72 miliar dari US$ 4 miliar, yang dapat menekan rupiah, serta ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

“Apakah rebalancing MSCI (efektif 1 September) akan memberatkan IHSG? Ya, ada tekanan teknis, tetapi dampaknya diperkirakan terbatas dan sebagian besar sudah dihitung sebelumnya,” tulis Hendry.

Sucor Sekuritas juga merekomendasikan saham-saham seperti PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET), PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), PT Timah Tbk (TINS), dan PT Petrosea Tbk (PTRO).

Penafian: Keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab investor. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.

Artikel Terkait