Ekonomi

Danantara Menanggapi Isu Merger Mitratel dan Tower Bersama

Dony Oskaria, COO Danantara, memberikan tanggapan terkait kabar merger antara PT Tower Bersama Infrastructure Tbk dan PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk, yang merupakan anak perusahaan PT Telkom Indonesi...

D
Darma Yudhistira
01 September 2026 9 pembaca
Ade Rosman
Ade Rosman

Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan pendapatnya mengenai rumor merger antara PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dan PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL), yang merupakan anak perusahaan dari PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. Dalam pernyataannya kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada hari Senin (31/8), Dony mengatakan, "Nanti saya cek bagaimana karena itu kan aksi korporasi kan, bukan aksi pemegang saham, jadi kami mesti cek ke mereka apakah itu bagian daripada corporate strategy-nya mereka ya, nanti akan kami cek."

Dony menjelaskan bahwa merger antara perusahaan swasta dan badan usaha milik negara (BUMN) adalah hal yang mungkin terjadi, namun ia masih perlu memverifikasi informasi tersebut. "Nanti coba ditanyakan ke Telkom ya, nanti bagaimana prosesnya, kan mereka punya hierarkinya. Hingga saat ini, masih di level mereka itu," tambahnya.

Kabar Merger yang Mencuat Kembali

Kabar mengenai rencana penggabungan usaha antara dua perusahaan menara telekomunikasi, yaitu PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), kembali menjadi sorotan. MTEL dilaporkan telah meminta bantuan dari beberapa penasihat keuangan untuk menyusun proposal terkait rencana merger tersebut. Menurut laporan Bloomberg pada Senin (24/8), MTEL berencana untuk memilih salah satu bank yang akan membantu proses transaksi dalam waktu dekat. Langkah ini semakin memperkuat spekulasi mengenai konsolidasi antara kedua perusahaan yang beroperasi di sektor menara telekomunikasi.

Sampai berita ini diturunkan, pihak MTEL belum memberikan konfirmasi mengenai isu tersebut.

Pandangan Analis Terhadap Potensi Merger

Elandry Pratama, Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, menilai bahwa potensi merger antara MTEL dan TBIG sangat strategis bagi industri menara telekomunikasi. Ia berpendapat bahwa penggabungan kedua perusahaan dapat menciptakan entitas dengan skala bisnis yang lebih besar. "Secara industri, saya melihatnya cukup strategis karena dapat menciptakan pemain menara dengan skala yang jauh lebih besar, sehingga berpotensi menghasilkan economies of scale, efisiensi capex dan operasional, serta bargaining power yang lebih kuat terhadap operator telekomunikasi," ujarnya.

Elandry juga menekankan bahwa beberapa faktor penting seperti struktur transaksi, valuasi, komposisi kepemilikan pasca-merger, potensi dilusi, dan persetujuan regulator akan menentukan keberhasilan aksi korporasi tersebut. Ia menambahkan bahwa jika dilakukan dengan valuasi yang wajar dan sinergi dapat diwujudkan, merger ini berpotensi memberikan dampak positif bagi kedua perusahaan dalam jangka menengah hingga panjang.

Di sisi lain, Azharys Hardian, Investment Specialist dari Korea Investment Sekuritas Indonesia, menyatakan bahwa wacana merger ini menjadi perhatian yang menarik di industri telekomunikasi. Menurutnya, merger ini akan mempertemukan dua raksasa menara, satu yang dikelola oleh grup BUMN dan satu lagi oleh grup swasta, dalam hal ini Saratoga. Ia menjelaskan bahwa keterikatan bisnis antara kedua emiten semakin kuat, terlihat dari kontribusi pendapatan TBIG yang berasal dari ekosistem Telkom Indonesia yang meningkat dari 33% pada 2025 menjadi 63% pada semester pertama 2026.

"Jika merger jumbo ini terealisasi, sinergi tersebut tidak hanya memperkokoh ekosistem menara Telkom Group secara efisien, tetapi juga secara otomatis melahirkan pemain menara terbesar dan utama di Indonesia yang menguasai porsi penyewaan besar dari operator non-sistem seperti Indosat dan XL Smart," ungkap Azharys.

Artikel Terkait