Ekonomi

Danantara Siapkan Dana Rp 456 Miliar untuk Selesaikan Proyek LRT City yang Terhambat

Danantara akan menyalurkan dana sebesar Rp 456 miliar kepada PT Adhi Karya untuk menyelesaikan proyek LRT City yang terhenti selama bertahun-tahun.

A
Adhe Dharma
28 August 2026 16 pembaca
Nur Hana Putri Nabila
Nur Hana Putri Nabila

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, atau Danantara, berencana menginvestasikan dana mencapai Rp 456 miliar kepada anak perusahaan PT Adhi Karya (Persero) Tbk. Suntikan dana ini ditujukan untuk menyelesaikan proyek LRT City yang telah mengalami penundaan selama bertahun-tahun.

Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa dana tersebut akan disalurkan melalui Danantara Asset Management (DAM) dengan cara menginvestasikan langsung ke proyek PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP). Besaran dana ini ditentukan berdasarkan jumlah unit yang belum diserahterimakan kepada konsumen, yang diperkirakan sekitar 2.000 unit. “Saya membutuhkan penyelesaian itu Rp 456 miliar, itu akan kami lakukan, jelas ya,” ungkap Dony setelah menghadiri pembukaan Danantara Housing Expo 2026 di NICE, PIK 2, Jakarta Utara, pada Kamis (27/8).

Komitmen untuk Penyelesaian Proyek

Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) juga menegaskan bahwa Danantara akan memantau penyelesaian proyek LRT City agar tidak merugikan masyarakat yang sudah membeli unit. Dony menekankan bahwa konsumen tidak seharusnya menanggung kerugian akibat masalah yang terjadi di proyek ini. “Bayangkan orang menyisihkan uangnya, menempatkan uangnya, itu uang tabungannya. Apalagi itu uang untuk rumah pertama. Itu zalim namanya,” kata Dony.

Masalah Likuiditas dan Keterlambatan

Proyek LRT City yang mengalami keterlambatan pembangunan terletak di beberapa lokasi, termasuk Tebet (Jakarta Selatan), Ciracas (Jakarta Timur), dan Cibubur (Depok, Jawa Barat). Terhambatnya proyek ini menyebabkan penyerahan unit kepada konsumen juga tertunda. Dalam laporan keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), ADCP mengakui bahwa mereka sedang menghadapi masalah likuiditas. Selain itu, model bisnis perusahaan yang berfokus pada pengembangan kawasan berbasis transit oriented development (TOD) mengharuskan ADCP menyediakan lahan di sekitar stasiun transportasi umum, seperti Commuter Line, LRT, dan BRT, serta membangun infrastruktur pendukungnya.

Sebelumnya, Dony telah mengadakan rapat dengan jajaran Direksi PT Adhi Karya (Persero) Tbk pada 11 Agustus 2026 untuk membahas perkembangan dan berbagai keluhan masyarakat terkait LRT City. Dony menekankan pentingnya tindak lanjut dari Adhi Karya terhadap keluhan yang disampaikan oleh masyarakat. Menurutnya, penyelesaian masalah harus dilakukan dengan cepat sambil tetap menjaga komunikasi yang baik dengan para penghuni. “Semua keluhan masyarakat perlu segera ditindaklanjuti. Komunikasi dengan penghuni juga perlu diperkuat, agar persoalan yang ada bisa segera diselesaikan,” ujar Dony, mengutip dari akun Instagram resmi BP BUMN.

BP BUMN dan Danantara mendorong Adhi Karya untuk memastikan bahwa pengelolaan kawasan dilakukan dengan tanggung jawab. Pembangunan tidak hanya perlu diselesaikan secara fisik, tetapi juga harus memberikan rasa aman, nyaman, dan kepastian bagi masyarakat.

Artikel Terkait