Ekonomi

Dilema Likuiditas Saham GOTO dan Tantangan bagi Investor

Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menghadapi paradoks likuiditas setelah dikeluarkan dari MSCI Global Standard Indexes, sementara tetap dipertahankan dalam indeks LQ45 oleh Bursa Efek Indonesia...

J
Jarot Kusna
13 August 2026 19 pembaca
Karunia Putri
Karunia Putri

Posisi saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kini menjadi sorotan setelah lembaga pengelola indeks global MSCI memutuskan untuk mengeluarkan GOTO dari MSCI Global Standard Indexes pada hari Kamis (13/8) karena masalah likuiditas. Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) justru mempertahankan saham perusahaan teknologi ini dalam indeks LQ45, yang menunjukkan bahwa bursa masih menganggap likuiditas saham GOTO cukup besar. Keputusan yang saling bertentangan ini membuat para investor berada dalam kebingungan mengenai bagaimana seharusnya mereka menyikapi situasi likuiditas saham GOTO.

Pertanyaan yang muncul adalah jika saham GOTO dianggap tidak cukup likuid untuk memenuhi kriteria MSCI, mengapa harga saham yang berada di level Rp 50 masih dapat bertahan di LQ45? Dilema ini dirasakan oleh Kirana (29), seorang investor yang merasa bingung dengan likuiditas saham GOTO, meskipun ia sepakat dengan keputusan MSCI. Menurutnya, keputusan tersebut tidak mengejutkan, mengingat antrean jual saham GOTO yang cukup banyak, sementara investor yang ingin menjual mengalami kesulitan dalam menentukan harga. Data bursa menunjukkan ada 272,15 juta lot yang mengantre untuk dijual dari saham GOTO.

“Ya wajar aja didepaklah likuiditasnya enggak sehat, antrean jualnya aja kalo dilihat sangat tebal. Tandanya investor banyak yang mau keluar tapi enggak bisa,” ungkap Kirana. Ia telah menjadi investor GOTO sejak 2025 dan membeli saham tersebut pada harga Rp 86 per unit. Kirana tertarik berinvestasi setelah membaca analisis yang memperkirakan harga GOTO dapat mencapai Rp 100. Namun, harapan tersebut tidak terwujud, dan harga saham GOTO terus merosot hingga kini berada di level Rp 50. Meskipun demikian, ia memutuskan untuk tetap mempertahankan saham GOTO dengan harapan harga dapat kembali ke Rp 87.

Harapan dan Realitas Saham GOTO

Pernyataan senada juga disampaikan oleh Putri (31), yang mulai berinvestasi di GOTO setelah melihat perbaikan kinerja keuangan perusahaan. GOTO mencatat laba bersih pada kuartal pertama 2026 setelah mengalami kerugian selama bertahun-tahun. Namun, ekspektasi Putri tidak terwujud, dan harga saham GOTO tetap di Rp 50. Setelah melakukan analisis mendalam, ia menilai bahwa masalah GOTO bukan hanya terkait kinerja keuangan, tetapi juga mengenai likuiditas saham yang tidak memadai.

“Dari sisi market cap memang besar, tapi tidak likuid. Masa harganya tetap di Rp 50? Itu kan aneh. Kalau lihat order book, lebih banyak yang jual daripada beli,” jelas Putri. Ia juga menyoroti bahwa manajemen GOTO perlu menunjukkan langkah yang lebih jelas untuk meningkatkan likuiditas saham, termasuk rencana pembelian kembali saham yang sempat dibahas tetapi tidak dilanjutkan.

Analisis Pasar dan Perbaikan Fundamental

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa keputusan MSCI untuk menghapus GOTO dari indeks Indonesia pada review Agustus 2026 memang disebabkan oleh masalah likuiditas. Sejak pertengahan Mei 2026, saham GOTO bertahan di level Rp 50, yang mengganggu proses penemuan harga dan kemampuan investor untuk melakukan transaksi. Namun, Nafan menambahkan bahwa GOTO masih dapat bertahan dalam LQ45 karena indeks tersebut menggunakan metode yang berbeda dari MSCI.

“LQ45 adalah indeks yang metodologinya ditentukan oleh BEI, sedangkan MSCI mempunyai metodologi, universe, dan liquidity screen sendiri,” jelas Nafan. Dengan demikian, status GOTO di LQ45 dan MSCI tidak saling bertentangan, karena sebuah saham dapat memenuhi kriteria BEI untuk masuk LQ45, tetapi tidak memenuhi persyaratan likuiditas MSCI.

Menariknya, masalah ini muncul di saat fundamental GOTO mulai menunjukkan perbaikan. Pada kuartal kedua 2026, GOTO mencatat laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 607,49 miliar, dengan pendapatan melonjak 28,4% secara tahunan menjadi Rp 10,9 triliun. Segmen layanan on-demand (Gojek) mencatat EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp 464 miliar, naik 41% didorong oleh pendapatan bersih yang mencapai Rp 3,6 triliun. Nafan menekankan bahwa terdapat kesenjangan antara perbaikan fundamental dan kondisi pasar saham yang tidak menguntungkan.

Oleh karena itu, harga Rp 50 tidak serta-merta menjadikan saham GOTO sebagai pilihan yang menarik. Bagi investor, persoalannya bukan hanya sekadar valuasi, tetapi juga seberapa likuid saham tersebut untuk diperdagangkan secara efisien. Pengamat pasar modal dan Pendiri Republik Investor, Hendra Wardana, menilai bahwa keluarnya GOTO dari MSCI Global Standard Indexes merupakan sinyal peringatan bagi pasar modal Indonesia.

Hendra menekankan bahwa masalah di pasar modal bukan hanya terletak pada jumlah emiten atau besar kapitalisasi pasar, tetapi juga pada kualitas likuiditas dan investabilitas. MSCI tidak mengambil keputusan tersebut tanpa alasan yang jelas. Ketika sebuah saham tidak memenuhi parameter yang dibutuhkan oleh investor institusi global, termasuk likuiditas, konsekuensinya dapat berupa penurunan kelas indeks atau bahkan dikeluarkan dari indeks.

Kasus GOTO menunjukkan bahwa kapitalisasi pasar yang besar tidak otomatis menjadikan sebuah saham investable. Investor global tidak hanya mempertimbangkan ukuran perusahaan, tetapi juga seberapa banyak saham yang tersedia untuk publik dan seberapa mudah saham tersebut diperdagangkan dalam jumlah besar tanpa memengaruhi harga secara signifikan. Hendra menegaskan bahwa meskipun GOTO memiliki kapitalisasi pasar yang besar dan merupakan nama penting dalam ekosistem pasar modal Indonesia, hal ini tidak menjamin investabilitas yang kuat.

Masalah ini semakin relevan di tengah upaya pasar modal Indonesia untuk meningkatkan kepercayaan investor global melalui berbagai reformasi, termasuk peningkatan free float, transparansi pemegang saham, dan penguatan tata kelola. Meskipun reformasi tersebut bertujuan untuk membuat pasar Indonesia lebih terbuka bagi investor global, beberapa saham justru kehilangan tempat dalam indeks global. Hendra menambahkan bahwa perbaikan aturan di atas kertas belum tentu menghasilkan pasar yang lebih dalam dan likuid.

Artikel Terkait