Ekonomi

Dominasi Grup Djarum atas Saham Bakrie Telecom (BTEL)

Grup Djarum kini menguasai saham PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) melalui konversi Obligasi Wajib Konversi (OWK), yang berdampak pada jumlah saham yang beredar di pasar.

D
Dinda Mughni
25 August 2026 23 pembaca
Nur Hana Putri Nabila
Nur Hana Putri Nabila

Grup Djarum, yang merupakan konglomerat milik keluarga Hartono, telah mengambil alih saham PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) melalui beberapa entitas bisnis yang bergerak di bidang menara telekomunikasi. Langkah ini dilakukan dengan mengonversi Obligasi Wajib Konversi (OWK) menjadi saham BTEL. Berdasarkan data kepemilikan saham per 20 Agustus 2026, PT Profesional Telekomunikasi Indonesia atau Protelindo memiliki sekitar 4,84 miliar saham, yang setara dengan 10,86% dari total saham BTEL.

Konversi OWK tersebut dilaksanakan pada harga Rp 200 per saham pada tanggal 20 Agustus 2026, di saat saham BTEL terpantau di level Rp 50 per saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak tahun 2019. Dalam keterbukaan informasi yang dirilis BEI, dinyatakan bahwa ini merupakan penerimaan hasil konversi kepemilikan obligasi wajib konversi.

Penambahan Saham Melalui Konversi

Seiring dengan pelaksanaan konversi OWK, PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) mencatatkan penambahan 6,31 miliar saham baru pada 20 Agustus 2026. Proses konversi ini melibatkan enam perusahaan afiliasi dari Grup Djarum, di antaranya PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) yang menyumbang 250,80 juta saham, PT Profesional Telekomunikasi Indonesia dengan 4,84 miliar saham, dan PT Komet Infra Nusantara sebanyak 47,35 juta saham. Selain itu, PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) menambah 888,12 juta saham, PT Sarana Inti Persada sebanyak 35,50 juta saham, serta PT Reka Jasa Akses yang menyuplai 247,49 juta saham.

Akibat dari konversi ini, total jumlah saham BTEL yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) meningkat dari 38,33 miliar menjadi 44,64 miliar saham. Data pemegang saham BTEL per 31 Juli 2026 menunjukkan perubahan signifikan dalam struktur kepemilikan perusahaan.

Risiko Delisting di Depan Mata

Di sisi lain, saham BTEL kini berada dalam situasi yang berisiko, karena otoritas BEI telah mengumumkan kemungkinan delisting untuk emiten telekomunikasi ini. Saat ditanyakan mengenai rencana pemulihan yang dapat mengakhiri suspensi saham, Corporate Secretary Bakrie Telecom, Purwoko Suatmadji, menyatakan bahwa perusahaan terus berupaya untuk memperbaiki kinerja keuangan.

Purwoko menambahkan bahwa laporan keuangan BTEL dari periode 30 September 2020 hingga tahun buku Desember 2024 telah mendapatkan opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP) dari auditor. Sebelumnya, perdagangan saham perusahaan ini telah dihentikan sementara sejak 27 Mei 2019, setelah laporan keuangan auditan BTEL untuk tahun buku 2017 dan 2018 menerima opini Tidak Menyatakan Pendapat (Disclaimer of Opinion) selama dua tahun berturut-turut.

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id. Nikmati pengalaman membaca yang lebih nyaman dan fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Artikel Terkait