Kesehatan

Enam Jenis Makanan yang Dapat Meningkatkan Risiko Kanker Menurut Dokter Harvard

Kanker menjadi salah satu penyebab utama kematian di Indonesia, dengan jumlah kasus yang terus meningkat. Dokter spesialis gastroenterologi dari Harvard, dr Saurabh Sethi, mengidentifikasi enam jenis...

I
Indriani Atmaja
29 June 2026 29 pembaca
Ilustrasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/urfinguss)
Ilustrasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/urfinguss)

Kanker merupakan salah satu penyebab kematian yang signifikan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Jumlah kasus kanker terus mengalami peningkatan, dan diperkirakan akan terus bertambah jika tidak ada langkah pencegahan serta deteksi dini yang lebih baik. Menurut data dari Kementerian Kesehatan RI, setiap tahun terdapat sekitar 400 ribu kasus baru kanker yang terdeteksi, dengan sekitar 240 ribu kematian akibat penyakit ini. Meskipun tidak semua jenis kanker dapat dicegah, perubahan gaya hidup dapat membantu menurunkan risiko. Selain menghindari rokok, berolahraga secara teratur, dan menjaga berat badan ideal, pola makan juga berperan penting dalam hal ini.

dr Saurabh Sethi, seorang dokter spesialis gastroenterologi lulusan Harvard, menyampaikan bahwa ada beberapa jenis makanan yang sebaiknya dibatasi konsumsinya karena dapat meningkatkan risiko terkena beberapa jenis kanker. Berikut adalah enam makanan yang perlu diperhatikan, seperti yang dilansir dari Times of India.

1. Daging Olahan

Daging olahan sering dipilih sebagai sumber protein yang praktis. Namun, dr Sethi menyarankan agar makanan ini tidak dikonsumsi terlalu sering. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan daging olahan sebagai karsinogen Grup 1, yang berarti ada bukti kuat bahwa konsumsi daging olahan dapat meningkatkan risiko kanker, terutama kanker kolorektal. Menurut Sethi, kandungan nitrat dan bahan pengawet dalam daging olahan dapat merusak sel-sel yang melapisi usus, sehingga memicu perubahan yang berpotensi menjadi kanker. Sebagai alternatif, disarankan untuk mengonsumsi daging ayam tanpa lemak yang dimasak sendiri, kacang-kacangan, atau lentil, yang kaya akan serat dan antioksidan baik untuk kesehatan usus.

2. Minuman Manis

Minuman manis, seperti soda dan minuman berpemanis, sering dianggap sebagai cara cepat untuk mengembalikan energi. Namun, dr Sethi menjelaskan bahwa konsumsi minuman tinggi gula tidak hanya menyebabkan lonjakan kadar gula darah, tetapi juga dapat memicu peradangan kronis yang berhubungan dengan risiko kanker. Kebiasaan mengonsumsi minuman manis juga dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas, yang merupakan faktor risiko untuk beberapa jenis kanker, termasuk kanker payudara, pankreas, dan usus besar. Sebagai alternatif, disarankan untuk mengonsumsi air kelapa, air putih dengan irisan buah, atau teh herbal tanpa tambahan gula.

3. Makanan yang Digoreng

Makanan yang digoreng, seperti kentang goreng dan camilan renyah lainnya, memang sangat digemari. Namun, proses penggorengan, terutama dengan minyak yang digunakan berulang kali, dapat menghasilkan akrilamida, senyawa yang terkait dengan peningkatan risiko kanker. dr Sethi menambahkan bahwa konsumsi makanan yang digoreng secara rutin dapat meningkatkan stres oksidatif dan peradangan kronis, kondisi yang mendukung pertumbuhan sel kanker. Sebagai alternatif, disarankan untuk memilih makanan yang dipanggang atau dimasak menggunakan air fryer, yang menggunakan lebih sedikit minyak.

4. Daging yang Gosong

Daging yang dibakar hingga gosong memiliki aroma yang khas, namun dr Sethi memperingatkan bahwa memasak daging pada suhu yang terlalu tinggi dapat menghasilkan senyawa heterocyclic amines (HCA) dan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH), yang diketahui dapat merusak DNA. Kerusakan DNA yang terjadi berulang kali dapat meningkatkan risiko pembentukan sel kanker. Sebagai alternatif, disarankan untuk memasak daging pada suhu yang lebih rendah, seperti dengan cara dikukus, dipanggang perlahan, atau direbus. Jika ingin memanggang, sebaiknya daging dimarinasi terlebih dahulu untuk mengurangi pembentukan senyawa berbahaya.

5. Alkohol

dr Sethi menjelaskan bahwa konsumsi alkohol, bahkan dalam jumlah yang moderat, tetap berhubungan dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker, terutama yang berkaitan dengan hormon, seperti kanker payudara dan kanker hati. Alkohol dapat memengaruhi kadar hormon estrogen dan mengganggu penyerapan folat, yang merupakan vitamin penting untuk perbaikan DNA. Sebagai alternatif, disarankan untuk mengonsumsi jus delima atau minuman fermentasi nonalkohol.

6. Makanan Ultra Proses

Makanan ultra proses, seperti mi instan, makanan siap saji, dan camilan kemasan, seringkali menjadi pilihan karena kepraktisannya. Namun, makanan ini umumnya mengandung banyak gula, lemak tidak sehat, garam, serta berbagai bahan tambahan. Menurut dr Sethi, konsumsi berlebihan terhadap makanan ultra proses dapat memicu peradangan kronis tingkat rendah, yang diyakini berperan dalam proses terbentuknya kanker. Sebagai alternatif, disarankan untuk mengonsumsi biji-bijian utuh, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian, yang dapat membantu mengurangi peradangan sekaligus memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh.

Artikel Terkait