Nasional

Evaluasi Kebijakan Naturalisasi Pemain Pasca Kegagalan Timnas di Piala AFF 2026

Kegagalan Timnas Indonesia lolos dari fase grup Piala AFF 2026 memicu anggota DPR untuk meminta evaluasi terhadap kebijakan naturalisasi pemain sepak bola.

D
Dinda Mughni
08 August 2026 27 pembaca
Evaluasi Kebijakan Naturalisasi Pemain Pasca Kegagalan Timnas di Piala AFF 2026
Sumber gambar: nasional.kompas.com

JAKARTA - Anggota Komisi XIII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Franciscus Sibarani, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kebijakan naturalisasi pemain sepak bola setelah Timnas Indonesia tidak berhasil melanjutkan ke babak selanjutnya di Piala AFF 2026. Sibarani berpendapat bahwa kegagalan ini seharusnya dijadikan sebagai kesempatan untuk mengevaluasi arah pengembangan sepak bola di tanah air, termasuk dalam hal kebijakan naturalisasi.

“Kekalahan ini harus menjadi momentum evaluasi. Bukan hanya soal hasil pertandingan, tetapi juga bagaimana kita membangun sepak bola Indonesia ke depan, termasuk kebijakan naturalisasi,” kata Sibarani kepada wartawan pada Sabtu (8/7/2026).

Pentingnya Pembinaan Pemain Lokal

Ia menekankan bahwa kebijakan naturalisasi tidak boleh mengesampingkan potensi pemain lokal yang ada. Sibarani juga menilai bahwa pengembangan bakat anak bangsa harus tetap menjadi dasar utama dalam pembangunan sepak bola nasional. “Kalau naturalisasi terus menjadi solusi, lalu bagaimana dengan pembinaan pemain lokal? Indonesia tidak kekurangan anak-anak berbakat. Kita harus percaya diri dengan kemampuan anak bangsa sendiri,” tegasnya.

Transparansi dalam Proses Naturalisasi

Politikus dari Partai Golkar ini juga meminta Kementerian Hukum sebagai mitra kerja Komisi XIII untuk memastikan bahwa proses naturalisasi dilakukan dengan cara yang jelas, transparan, dan terukur, serta mempertimbangkan kepentingan nasional. Menurutnya, pemberian status kewarganegaraan kepada pemain Timnas bukan hanya masalah administratif, melainkan juga harus memperhatikan dampaknya terhadap perkembangan olahraga di Indonesia.

“Kita ingin Tim Nasional menang, tetapi jangan sampai demi kemenangan hari ini kita mengorbankan masa depan sepak bola Indonesia. Yang harus kita bangun adalah sistem yang mampu melahirkan pemain-pemain hebat dari anak bangsa sendiri,” ujarnya.

Lebih lanjut, Sibarani mengungkapkan bahwa sepak bola memiliki peran penting dalam membangun rasa bangga dan kecintaan generasi muda terhadap Indonesia. Oleh karena itu, ia mendorong dilakukannya evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan naturalisasi sekaligus memperkuat pembinaan pemain lokal agar keduanya dapat berjalan seimbang. “Negara harus hadir memberikan kesempatan, pembinaan, dan ruang bagi talenta muda Indonesia berkembang, sehingga mereka memiliki kebanggaan bahwa suatu hari dapat membela Merah Putih,” tegasnya.

Timnas Indonesia sendiri harus mengakhiri harapan untuk meraih gelar juara di Piala AFF. Alih-alih meraih trofi, skuad Garuda justru terhenti di fase grup Piala AFF untuk kelima kalinya dalam sejarah mereka.

Kegagalan ini dipastikan setelah Timnas Indonesia tidak berhasil meraih kemenangan dalam pertandingan terakhir melawan Timnas Singapura di Stadion Jalan Besar, Singapura, pada Jumat (7/8/2026), yang berakhir dengan skor 1-1, sehingga langkah Indonesia terhenti di fase grup.

Artikel Terkait