Saham yang dimiliki oleh konglomerat Low Tuck Kwong, yaitu PT Bayan Resources Tbk (BYAN), serta saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) milik pengusaha Haji Isam dari Kalimantan Selatan, menunjukkan pergerakan yang tidak stabil hingga perdagangan hari ini, Selasa (18/8). Kenaikan harga kedua saham ini terjadi di tengah beredarnya isu di media sosial yang menyatakan bahwa Haji Isam berencana untuk mengakuisisi sekitar 62,2% saham BYAN. Namun, hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari kedua perusahaan mengenai rumor tersebut.
Pada perdagangan intraday hari ini, tepatnya pukul 14.53 WIB, harga saham BYAN melonjak hingga 19,97%, mencapai Rp 17.275 per saham, dengan kapitalisasi pasar yang meningkat pesat menjadi Rp 575,83 triliun. Dalam lima hari terakhir, harga saham perusahaan tambang batu bara ini mengalami kenaikan sebesar 43,66%. Sementara itu, saham JARR juga mengalami lonjakan hingga batas atas atau auto reject atas (ARA) sebesar 24,88%, mencapai level Rp 2.510, dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 23,17 triliun. Dalam periode yang sama, saham perusahaan perkebunan sawit ini terangkat hingga 31,41%.
Peringatan dari Ahli Ekonomi
Rully Arya Wisnubroto, Kepala Riset dan Ekonom Utama Mirae Asset Sekuritas Indonesia, mengingatkan akan lonjakan harga saham yang dianggap tidak wajar tersebut. Ia menekankan pentingnya bagi investor untuk bersikap hati-hati, mengingat sebelumnya terdapat sejumlah transaksi serupa yang berakhir mengecewakan bagi para investor. Rully juga menyayangkan bahwa isu yang beredar seharusnya disertai dengan informasi yang lebih transparan dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Ia berpendapat bahwa bursa perlu lebih komunikatif dan aktif dalam memberikan penjelasan kepada investor terkait pergerakan saham yang tidak biasa.
Walaupun demikian, ia mencatat bahwa situasi ini cenderung menarik bagi kalangan investor ritel yang gemar mengambil posisi pada saham-saham spekulatif. “Tapi kembali lagi, harus tetap dilindungi (investor) juga kan? Jangan sampai mereka akhirnya rugi. Jadi Mirae Asset kan juga kasih edukasi kan setiap minggu, tapi tetap saja mereka (sebagian investor ritel) pada dasarnya senang yang kayak gitu (saham naik cepat),” ujar Rully di Jakarta pada Selasa (18/8).
Konfirmasi dari Manajemen JARR
Katadata.co.id telah berupaya untuk mendapatkan konfirmasi dari manajemen PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), yang merupakan bagian dari Jhonlin Group milik Haji Isam. Namun, hingga berita ini ditayangkan, manajemen JARR belum memberikan tanggapan resmi terkait isu yang beredar.
Rumor mengenai akuisisi ini semakin menguat setelah terjadinya pertemuan antara Low Tuck Kwong dan Norman Joesoef di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Norman merupakan pendiri sekaligus ketua Republikorp, sebuah perusahaan swasta Indonesia yang bergerak di bidang industri pertahanan strategis dan teknologi militer.
Saat ini, struktur kepemilikan saham BYAN terdiri dari Low Tuck Kwong yang memiliki 40,25%, Elaine Low (putri Low Tuck Kwong) sebesar 22%, PT Sumber Suryadaya Prima sebesar 10%, dan Korea East-West Power sebesar 4%. Selain itu, terdapat juga Korea Western Power, Korea Southern Power, Korea Midland Power, dan Korea South-East Power masing-masing sebesar 4%, serta Lim Chai Hock sebesar 3,26% dan Jenny Quantero sebesar 2,98%. Jika dijumlahkan, kepemilikan saham Low dan putrinya mencapai 62,25%.