Ekonomi

Harapan Pemerintah untuk Meningkatkan Aktivitas IPO di Pasar Modal Indonesia

Pemerintah optimis bahwa penawaran umum perdana saham (IPO) di pasar modal Indonesia pada semester kedua 2026 dapat mengejar ketertinggalan dari semester pertama. Peningkatan ini diharapkan dapat menj...

A
Adhe Dharma
11 August 2026 26 pembaca
Karunia Putri
Karunia Putri

Pemerintah Indonesia berharap bahwa aktivitas penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) pada semester kedua tahun 2026 dapat mengatasi ketertinggalan yang terjadi pada paruh pertama tahun ini. Namun, untuk mencapai peningkatan jumlah IPO, diperlukan upaya untuk menjaga kepercayaan investor serta kinerja pasar modal.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa pemerintah tetap optimis terhadap prospek pasar modal Indonesia. Ia menjelaskan bahwa fundamental ekonomi nasional masih menunjukkan kekuatan yang relatif baik, yang tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,29% pada kuartal kedua 2026, meskipun mengalami penurunan dibandingkan kuartal pertama.

Status Peringkat Investasi yang Stabil

Airlangga menambahkan bahwa status sovereign rating Indonesia tetap berada di level investment grade dari beberapa lembaga pemeringkat. Misalnya, S&P Global Ratings dan Fitch Ratings masing-masing memberikan peringkat BBB, sedangkan Moody’s memberikan peringkat Baa2. Ia menilai bahwa Indonesia tidak perlu terlalu khawatir terhadap penilaian dari satu atau dua lembaga pemeringkat selama fundamental perusahaan tetap terjaga.

“Yang penting kita outlook perusahaannya itu baik, kemudian transparan dan juga free float juga semakin meningkat, maka kita tidak perlu takut kepada negara ataupun rating agency,” ungkap Airlangga dalam acara Musyawarah Anggota Asosiasi Emiten Indonesia 2026 yang berlangsung pada Selasa (11/8).

Peningkatan Aktivitas IPO dan Pertumbuhan Sektor

Menurut Airlangga, fundamental yang kuat harus dijaga agar kredibilitas Indonesia di mata investor tetap terpelihara. Ia juga menekankan bahwa kondisi fiskal Indonesia relatif baik jika dibandingkan dengan negara maju lainnya, dengan defisit anggaran yang masih di bawah 3% dari produk domestik bruto (PDB).

Walaupun demikian, Airlangga mengakui bahwa aktivitas pasar modal pada semester pertama 2026 masih tertinggal. Ia berharap kinerja tersebut dapat dikejar dengan peningkatan aktivitas IPO pada semester kedua. “Perusahaan tercatat bulan Juli kemarin ada tujuh. Jadi itu walaupun kita kemarin semester pertama agak lagging, tapi mudah-mudahan semester kedua bisa mengejar dengan IPO,” kata Airlangga.

Hingga bulan Juli, nilai IPO yang terealisasi mencapai sekitar Rp 2,16 triliun. Pemerintah berharap agar aktivitas pencatatan saham baru dapat meningkat seiring dengan perkembangan pasar modal Indonesia. Airlangga juga menyoroti pertumbuhan laba dari beberapa sektor yang menjadi andalan pasar saham, di mana sektor bahan dasar mencatat pertumbuhan laba sebesar 258,9%, diikuti oleh sektor transportasi dan logistik sebesar 103,4%, serta sektor keuangan sebesar 39,8%.

Menurutnya, pertumbuhan laba tersebut menunjukkan adanya fundamental positif di pasar modal Indonesia. Namun, untuk meningkatkan jumlah perusahaan yang tercatat dan aktivitas IPO, diperlukan upaya untuk menjaga kredibilitas pasar. Selain itu, Airlangga juga menyarankan agar perusahaan tercatat tidak hanya memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan, tetapi juga harus menjaga kepercayaan investor.

Ia menekankan pentingnya menjaga kinerja, tata kelola, transparansi, serta meningkatkan free float saham. Menurut Airlangga, pasar modal merupakan cerminan kondisi perekonomian nasional, sehingga kredibilitas pasar harus dijaga agar investor tetap yakin terhadap perusahaan yang terdaftar di bursa. “Karena kepercayaan investor ini menjadi modal penting bagi investasi dan ekspansi usaha,” tutup Airlangga.

Artikel Terkait