Identitas sosok yang diduga sebagai 'pasien nol' dalam wabah hantavirus mematikan di kapal pesiar MV Hondius akhirnya terungkap. Pria tersebut adalah Leo Schilperoord, seorang warga Haulerwijk, Belanda, yang juga merupakan seorang ornitolog. Ia dilaporkan mengalami sakit saat pelayaran di Atlantik Selatan pada bulan April 2026. Kasus yang melibatkan Schilperoord kini tengah diselidiki oleh otoritas kesehatan internasional untuk melacak penyebaran hantavirus langka, yaitu Andes virus, di antara para penumpang kapal tersebut.
Leo Schilperoord yang berusia 70 tahun dan istrinya, Mirjam Schilperoord yang berusia 69 tahun, dikenal sebagai pengamat burung yang berpengalaman. Sebelum berlayar di MV Hondius pada 1 April, pasangan ini telah melakukan perjalanan ke berbagai lokasi di Amerika Selatan, termasuk Argentina, Chile, dan Uruguay. Dalam laporan terbaru, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengidentifikasi pasangan ini sebagai kasus pertama dalam wabah di kapal, dengan suami sebagai 'kasus probable' dan infeksi istrinya telah terkonfirmasi melalui tes PCR.
Investigasi Penyebaran Wabah
WHO saat ini bekerja sama dengan otoritas kesehatan di Argentina dan Chile untuk menyelidiki asal mula wabah tersebut, dengan Argentina menjadi salah satu fokus karena peningkatan kasus hantavirus di negara tersebut. Penyelidikan awal menunjukkan bahwa pasangan ini mungkin terpapar virus dari hewan pengerat saat melakukan aktivitas pengamatan burung. "Kemungkinan terpapar hewan pengerat selama kegiatan pengamatan burung," demikian tertulis dalam laporan WHO.
Keluarga Schilperoord dikenal aktif dalam berbagai kegiatan pengamatan burung internasional dan pernah mendokumentasikan perjalanan birdwatching di Sri Lanka pada tahun 2013 serta berkontribusi dalam penelitian tentang angsa berkaki merah muda di Belanda pada tahun 1984.
Kondisi Kesehatan dan Gejala
WHO melaporkan bahwa Leo Schilperoord mulai mengalami gejala pada 6 April dan meninggal dunia di atas kapal pada 11 April. Sementara itu, Mirjam tetap berada di kapal hingga turun di Saint Helena pada 24 April dengan keluhan gangguan pencernaan. "Kondisinya kemudian memburuk dalam penerbangan ke Johannesburg, Afrika Selatan, pada tanggal 25 April," ungkap WHO. "Ia meninggal pada tanggal 26 April di sebuah klinik di Johannesburg," tambahnya.
Gejala yang dialami Leo muncul kurang dari seminggu setelah pelayaran dimulai, termasuk demam, sakit kepala, dan gangguan pencernaan sebelum akhirnya meninggal. Pada saat itu, hantavirus belum dicurigai karena gejalanya mirip dengan penyakit pernapasan lainnya. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa kematian Leo awalnya tidak dapat dijelaskan dan tidak ada sampel yang diambil pada saat itu. Tak lama setelah turun di Saint Helena, kondisi Mirjam juga memburuk hingga akhirnya meninggal di Afrika Selatan.
Pasangan ini kini diyakini menjadi kasus paling awal dalam kluster wabah di kapal pesiar MV Hondius, dan Leo Schilperoord diperlakukan sebagai "pasien nol" dalam wabah tersebut.
Potensi Penularan Virus
Pihak berwenang menduga bahwa pasangan ini terinfeksi virus saat mengunjungi lokasi pembuangan sampah di luar Ushuaia, Patagonia, yang dikenal sebagai tempat favorit bagi pengamat burung untuk melihat spesies langka seperti Caracara Darwin. Namun, area tersebut juga diduga menjadi habitat bagi hewan pengerat yang membawa virus Andes hantavirus, yang dapat menular melalui partikel dari urine atau kotoran tikus yang terhirup manusia.
Wabah di MV Hondius melibatkan virus Andes hantavirus, yang merupakan jenis langka yang diketahui dapat menular antarmanusia melalui kontak dekat dan berkepanjangan, berbeda dengan sebagian besar hantavirus lainnya yang biasanya hanya menular dari hewan pengerat ke manusia. Munculnya wabah di kapal pesiar ini membuat otoritas kesehatan di berbagai negara melakukan pelacakan kontak secara internasional. Sejumlah penumpang dari Amerika Serikat dan Eropa yang telah kembali ke negara masing-masing kini masih dalam pemantauan untuk mendeteksi kemungkinan gejala infeksi lebih lanjut.