Ekonomi

Indosat Tegaskan Tidak Ada Gelembung AI, Pendapatan Naik 30%

Indosat Ooredoo Hutchison menegaskan bahwa industri kecerdasan buatan (AI) tidak mengalami gelembung finansial, dengan pendapatan yang meningkat 30% setelah penerapan teknologi AI.

I
Indriani Atmaja
14 August 2026 21 pembaca
Andi M. Arief
Andi M. Arief

PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk mengungkapkan bahwa sektor kecerdasan buatan (AI) tidak mengalami gelembung finansial. Pernyataan ini disampaikan seiring dengan peningkatan kinerja keuangan yang dialami oleh emiten dengan kode ISAT setelah mengimplementasikan teknologi AI.

Menurut laporan dari McKinsey, pendapatan ISAT mengalami pertumbuhan sebesar 30% secara tahunan setelah perusahaan ini mengolah 2,5 triliun data setiap bulan pada tahun 2025. Dalam periode yang sama, lebih dari 2.000 pegawai, atau sekitar 75% dari total karyawan ISAT, telah memperoleh sertifikasi dalam bidang AI.

Strategi Penggunaan AI untuk Pertumbuhan

Vikram Sinha, CEO ISAT, menjelaskan bahwa keberhasilan integrasi AI di perusahaan ini terletak pada tujuan penggunaan teknologi tersebut untuk mendorong pertumbuhan perusahaan melalui peningkatan nilai bagi konsumen. "Alasan kami sukses dalam integrasi AI adalah tujuan penggunaan AI untuk pertumbuhan perusahaan melalui peningkatan nilai konsumen," ujarnya saat berbicara di Universitas Gadjah Mada pada Kamis (13/8).

Vikram menambahkan bahwa kunci dalam memanfaatkan AI bagi perusahaan adalah bagaimana cara teknologi tersebut digunakan untuk mengembangkan bisnis masing-masing. Ia menekankan bahwa dampak dari penggunaan AI saat ini sangat nyata dan bahwa saat ini adalah era pemanfaatan AI. "Secara historis, siklus investasi terhadap AI tidak pernah terjadi seperti saat ini," ungkapnya.

Perkembangan Pasar AI dan Investasi ISAT

Meski demikian, Vikram mengakui bahwa industri AI saat ini belum sepenuhnya menjangkau konsumen ritel. Ia menyatakan bahwa dampak positif dari penggunaan AI masih lebih terasa bagi perusahaan. Namun, ia mencatat bahwa target pasar AI mulai berkembang dalam dua tahun terakhir. "AI baru mulai digunakan secara menguntungkan oleh 10 pengguna hyperscalers pada 2024," jelasnya.

Selama setahun terakhir, Vikram melihat pergeseran pasar utama AI menuju perusahaan besar. Ia mencatat bahwa konsumen ritel belum sepenuhnya memanfaatkan AI dan masih dalam tahap eksplorasi. Hal ini menjadi pertimbangan bagi ISAT untuk melakukan investasi sekitar Rp 105 miliar dalam pengembangan sumber daya manusia melalui proyek NVIDIA AI Technology Center (NVIDIATC), yang merupakan kolaborasi antara ISAT, Nvidia Corporation, dan Universitas Gadjah Mada.

Vikram menjelaskan bahwa investasi dalam NVIDIATC terdiri dari kredit GPU senilai Rp 35 miliar dan pengembangan SDM senilai Rp 70 miliar. Kredit GPU ini berfungsi sebagai kupon untuk mengakses GPU milik Nvidia dari jarak jauh. Ia juga berkomitmen untuk menambah investasi dalam NVIDIATC sebesar Rp 100 miliar dalam bentuk kredit GPU setelah melihat tiga produk awal dari NVIDIATC, yaitu aplikasi pendeteksi tuberkulosis (e-Nose), solusi mitigasi bencana berbasis AI (Tech4Disaster), dan aplikasi pertanian pintar berbasis AI (SmartAgri).

Vikram menargetkan investasi dalam pengembangan SDM tersebut dapat meningkatkan jumlah tenaga kerja yang mampu menggunakan AI hingga 2 juta orang pada tahun 2030. Saat ini, Nvidia mencatat bahwa total pengguna AI di Indonesia baru mencapai sekitar 500.000 orang.

Chief Economist Apollo Torsten Slok menyoroti bahwa industri layanan AI saat ini masih sangat bergantung pada pendanaan dari investor. Hal ini terlihat dari margin yang dihasilkan oleh empat jenis industri dalam ekosistem AI, yaitu model dan aplikasi AI, komputasi dan komputasi awan, energi dan jaringan, serta silikon dan peralatan. Slok menjelaskan bahwa pasar utama untuk industri model dan aplikasi AI adalah konsumen ritel, sementara pasar utama untuk silikon dan peralatan adalah industri infrastruktur AI.

Dalam laporan kuartal kedua tahun ini, Slok menemukan bahwa industri model dan aplikasi AI masih mengalami kerugian dengan margin negatif hingga 59%, sedangkan industri silikon dan peralatan memiliki margin tertinggi hingga 41%. Ia menegaskan bahwa ledakan pendapatan yang dialami oleh industri layanan AI sebagian besar didorong oleh investor, bukan oleh konsumen. Oleh karena itu, Slok menilai bahwa industri layanan AI akan dihadapkan pada dua pilihan: apakah adopsi konsumen ritel akan terjadi cukup cepat sebelum investor menarik dananya dari pasar. "Bagian paling menguntungkan dari rantai pasok AI bergantung pada bagian yang paling tidak menguntungkan untuk terus menumbuhkan pendapatan atau modal," tutupnya.

Artikel Terkait