Ekonomi

InfraNexia Siap Kuasai 90% Aset Infrastruktur Telkom Mulai Oktober

PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menargetkan InfraNexia untuk beroperasi secara mandiri pada 1 Oktober 2026 setelah pemisahan aset fiber connectivity. Proses spin off ini merupakan bagian dari transform...

A
Agus Wigati
26 August 2026 17 pembaca
Karunia Putri
Karunia Putri

PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mengumumkan bahwa PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF), yang dikenal sebagai InfraNexia, ditargetkan dapat beroperasi secara mandiri pada 1 Oktober 2026. Target ini akan tercapai setelah TLKM menyelesaikan pemisahan seluruh aset fiber connectivity ke TIF. Direktur Strategic Business Development Portfolio Telkom, Seno Soemadji, menjelaskan bahwa proses spin off untuk Wholesale Fiber Connectivity atau InfraCo saat ini masih berlangsung, dengan harapan pemisahan tahap kedua dapat selesai pada akhir September 2026.

Seno menyatakan, “Targetnya akhir September hingga 1 Oktober itu sudah full operation,” saat ditemui di acara BATIC 2026 yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, pada Rabu (26/8). Ia menambahkan bahwa spin off ini merupakan bagian dari transformasi bisnis TelkomGroup, dengan fokus untuk melakukan delayering dan memisahkan pengelolaan aset infrastruktur dari bisnis utama Telkom.

Proses Pemisahan Aset yang Berkelanjutan

Menurut Seno, proses carve out InfraCo telah memasuki tahap berikutnya setelah fase pertama yang dilakukan pada 2025. TLKM menargetkan proses carve out lanjutan dapat rampung pada akhir September. “Targetnya insyaallah kalau semuanya lancar, akhir September itu kita akan carve out lagi. Setelah itu carve out berikutnya adalah enterprise,” ujarnya.

Sebelumnya, Telkom mengungkapkan bahwa nilai transaksi untuk spin off tahap kedua InfraCo mencapai Rp 49,86 triliun. Langkah ini merupakan kelanjutan dari pemisahan InfraCo tahap pertama yang telah dilakukan pada Januari 2026. Dalam transaksi tahap kedua, Telkom akan mengalihkan segmen usaha Wholesale Fiber Connectivity kepada InfraCo melalui pemisahan tidak murni (spin off) dengan skema non-tunai.

Sebagai kompensasi atas pengalihan tersebut, TIF akan menerbitkan 498,58 juta saham baru kepada Telkom dengan nilai konversi Rp 100.000 per saham. Setelah transaksi, kepemilikan Telkom di InfraCo akan menjadi 99,9999999%, sedangkan PT Multimedia Nusantara akan memiliki 0,0000001% saham. Rencana pemisahan ini akan diajukan untuk mendapatkan persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Telkom pada 30 September 2026. Pengalihan aset dan bisnis yang bernilai total Rp 85,7 triliun ini diharapkan dapat memperkuat InfraNexia dalam mengelola lebih dari 90% aset jaringan Telkom.

Strategi Transformasi Bisnis Telkom

Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menjelaskan bahwa spin off InfraCo tahap kedua merupakan langkah untuk mempercepat transformasi bisnis TelkomGroup. Langkah ini juga sejalan dengan agenda Danantara Asset Management (DAM) untuk mengonsolidasikan aset-aset BUMN. Dian menambahkan bahwa pemisahan ini akan memungkinkan Telkom untuk lebih fokus pada pengelolaan bisnis utamanya, sementara aset infrastruktur digital dapat dikelola lebih terfokus melalui InfraNexia. Dengan cara ini, perusahaan dapat lebih cepat merespons peluang pasar, memperluas kerja sama, dan menciptakan nilai jangka panjang.

Langkah ini juga mendukung strategi TLKM 30, khususnya melalui pilar unlock value, yang mencakup percepatan monetisasi aset infrastruktur bernilai tinggi, seperti data center, menara, dan jaringan fiber, untuk membuka sumber pertumbuhan baru bagi Telkom. “Spin-Off InfraCo Tahap 2 sebagai langkah strategis dalam perjalanan transformasi TLKM 30 untuk memperkuat InfraNexia sebagai mesin pertumbuhan baru,” ujar Dian.

Setelah seluruh portofolio bisnis dan aset dialihkan, InfraNexia akan menguasai lebih dari 90% aset infrastruktur jaringan yang sebelumnya dimiliki Telkom. Portofolio ini mencakup jaringan akses pelanggan, core backbone, serta berbagai infrastruktur pendukung lainnya. Dengan tambahan aset tersebut, InfraNexia akan mengelola sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optik, termasuk 26.000 kilometer Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik yang membentang di seluruh Indonesia. Panjang jaringan ini setara dengan hampir tiga kali keliling bumi.

Penguasaan aset ini akan memperkuat posisi InfraNexia sebagai penyedia layanan wholesale connectivity yang berfokus pada pengembangan infrastruktur konektivitas digital nasional. Dian menambahkan bahwa spin off InfraCo tahap kedua juga bertujuan untuk meningkatkan pengalaman pelanggan. “Spin-Off InfraCo Tahap 2 merupakan strategic initiative dari TelkomGroup yang tidak hanya bertujuan untuk menghadirkan bisnis infrastruktur yang lebih fokus, agile, dan berdaya saing,” ucap Dian.

Artikel Terkait