TEHERAN, iNews.id - Iran menyatakan bahwa mereka tidak akan memulai kembali negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) jika negara tersebut terus menggunakan pendekatan ancaman. Kedua negara sebelumnya dijadwalkan untuk melanjutkan pembicaraan dalam upaya mencapai kesepakatan damai final dalam waktu 60 hari setelah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) gencatan senjata pada 17 Juni lalu.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa negosiasi tidak akan dimulai selama ancaman dari AS masih ada. Dalam pernyataannya di media sosial X, Araghchi merujuk pada Paragraf 13 dari MoU yang ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. "Paragraf 13 dari MoU jelas, negosiasi untuk mencapai kesepakatan akhir tidak akan dimulai jika ancaman terus berlanjut. Hormati tanda tangan Anda," tulis Araghchi, mengacu pada Trump.
Detail MoU dan Isu Sensitif
Pendandatanganan MoU yang terdiri dari 14 poin tersebut menandai dimulainya proses negosiasi lanjutan dalam waktu 60 hari. Negosiasi ini akan membahas beberapa isu sensitif yang belum disepakati sebelumnya, termasuk program nuklir Iran.
Peringatan dari AS
Pernyataan Araghchi muncul beberapa jam setelah Trump memberikan peringatan bahwa AS siap untuk menggunakan kekuatan militer jika upaya diplomasi tidak berhasil. Trump juga mengulangi pendapatnya bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.