Kesehatan

Kaitan Antara Lingkungan Kerja dan Kanker Ovarium

Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa paparan zat tertentu di tempat kerja dapat meningkatkan risiko kanker ovarium pada perempuan, dengan beberapa profesi menunjukkan risiko yang lebih tinggi.

J
Jarot Kusna
10 July 2026 20 pembaca
Foto: Ilustrasi Kanker Ovarium (Getty Images/iStockphoto/Chinnapong)
Foto: Ilustrasi Kanker Ovarium (Getty Images/iStockphoto/Chinnapong)

Kanker ovarium sering kali dikaitkan dengan usia, riwayat keluarga, dan kondisi kesehatan tertentu. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa faktor lingkungan kerja juga berperan dalam peningkatan risiko penyakit ini.

Studi Mengenai Profesi dan Kanker Ovarium

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Occupational and Environmental Medicine dan dipimpin oleh akademisi dari University of Montreal, Kanada, menganalisis hubungan antara jenis pekerjaan dan risiko kanker ovarium. Penelitian ini melibatkan 491 perempuan Kanada yang didiagnosis menderita kanker ovarium dan membandingkannya dengan 897 perempuan yang tidak mengidap penyakit tersebut.

Data yang digunakan dalam penelitian ini dicocokkan dengan Canadian Job-Exposure Matrix untuk menilai kemungkinan paparan di tempat kerja. Setelah mempertimbangkan berbagai faktor, peneliti menemukan bahwa beberapa jenis pekerjaan berhubungan dengan peningkatan risiko kanker ovarium, antara lain:

  • Perempuan yang pernah bekerja sebagai penata rambut, tukang cukur, atau ahli kecantikan memiliki risiko sekitar tiga kali lebih tinggi terkena kanker ovarium.
  • Perempuan yang bekerja di bidang akuntansi selama 10 tahun memiliki kemungkinan dua kali lebih besar.
  • Pekerja di sektor konstruksi tercatat memiliki risiko hampir tiga kali lipat.
  • Asisten toko dan tenaga penjualan mengalami peningkatan risiko sebesar 45 persen.
  • Pekerja yang membuat atau memperbaiki pakaian memiliki risiko 85 persen lebih tinggi.

Paparan Zat Berbahaya di Tempat Kerja

Para peneliti juga mencatat bahwa kelompok pekerjaan dengan risiko lebih tinggi cenderung terpapar berbagai zat berbahaya, seperti bedak kosmetik, amonia, hidrogen peroksida, debu rambut, serat sintetis, pewarna organik, dan bahan pemutih. Penelitian ini menunjukkan bahwa profesi seperti akuntansi, tata rambut, penjualan, dan menjahit mungkin berkaitan dengan peningkatan risiko kanker ovarium.

Masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengevaluasi potensi bahaya bagi pekerja perempuan serta berbagai jenis pekerjaan yang umumnya mereka jalani. Akademisi dari National Cancer Institute di Maryland, Amerika Serikat, menyoroti bahwa perempuan masih kurang terwakili dalam penelitian mengenai kanker akibat faktor pekerjaan.

Beberapa faktor risiko kanker ovarium lainnya meliputi usia, genetika, kondisi medis, serta riwayat kehamilan dan menyusui. Penelitian ini menjadi pengingat penting akan perlunya perhatian lebih terhadap risiko kesehatan yang dihadapi perempuan di tempat kerja.

Artikel Terkait