Jakarta - Gaya hidup yang cenderung praktis, atau convenience-driven lifestyle, diidentifikasi sebagai salah satu faktor penyebab meningkatnya angka kasus diabetes tipe 2 serta penyakit ginjal kronis di kalangan usia muda. Para ahli mengingatkan bahwa kebiasaan makan yang tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik menyebabkan penyakit yang sebelumnya lebih umum terjadi pada orang tua kini banyak dijumpai pada individu berusia 20-an tahun, bahkan remaja.
Associate Professor Dr Do Dinh Tung, yang menjabat sebagai Direktur Rumah Sakit Umum Duc Giang di Hanoi, Vietnam, menyatakan bahwa diabetes kini tidak lagi menjadi masalah yang hanya dialami oleh pasien di atas 40 tahun. "Diabetes semakin banyak ditemukan pada kelompok usia yang lebih muda. Saat ini penyakit tersebut sering didiagnosis pada usia 20-30 tahun, bahkan remaja," ungkapnya.
Perubahan Gaya Hidup yang Mengkhawatirkan
Rumah sakit yang dipimpin oleh Dr Tung saat ini merawat sekitar 6.000 pasien diabetes, dengan penyakit ini menyumbang sekitar 50 hingga 60 persen dari total konsultasi harian, yang setara dengan 700 hingga 900 pasien setiap harinya. Menurut para ahli, perubahan pola hidup menjadi penyebab utama meningkatnya kasus diabetes pada usia muda. Konsumsi makanan cepat saji yang berlebihan, kurangnya aktivitas fisik, serta waktu yang terlalu lama di depan layar menjadi faktor yang menyebabkan banyak anak muda mengalami kelebihan berat badan hingga obesitas.
Selain itu, pola tidur yang tidak teratur, stres yang berkepanjangan, dan penggunaan perangkat elektronik secara berlebihan juga dapat berdampak negatif pada kesehatan metabolik. Kondisi ini pada akhirnya meningkatkan risiko terkena diabetes tipe 2 beserta berbagai komplikasinya.
Diabetes dan Risiko Gagal Ginjal
Dr Nguyen Thi Thanh Hai dari Hospital 19-8 Vietnam mengingatkan bahwa sekitar 30 hingga 40 persen pasien diabetes mengalami komplikasi pada ginjal. Diabetes juga merupakan penyebab utama penyakit gagal ginjal kronis secara global. Sayangnya, banyak pasien muda yang meremehkan penyakit ini, cenderung hanya memperhatikan kadar gula darah tanpa melakukan pemeriksaan rutin terhadap kondisi ginjal.
Salah satu kasus yang ditangani melibatkan seorang pria berusia 45 tahun yang telah hidup dengan diabetes selama lebih dari 10 tahun tanpa pemeriksaan rutin. Meskipun merasa sehat, ia mulai merasakan kelelahan dan pembengkakan ringan, sehingga memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kerusakan ginjal yang parah disertai dengan protein dalam urine yang berlangsung lama. Pria tersebut akhirnya didiagnosis mengalami gagal ginjal stadium akhir dan kini harus menjalani cuci darah seumur hidup.
Kerusakan ginjal akibat diabetes umumnya berkembang secara perlahan dan hampir tanpa gejala pada tahap awal. Ketika gejala seperti bengkak, urine berbusa, frekuensi buang air kecil yang meningkat pada malam hari, atau kelelahan muncul, fungsi ginjal biasanya sudah mengalami penurunan yang signifikan. Oleh karena itu, banyak pasien baru menyadari kondisi ginjal mereka setelah kerusakan cukup parah terjadi.
Para ahli menekankan pentingnya deteksi dini untuk mempertahankan fungsi ginjal. Pengidap diabetes disarankan untuk menjalani pemeriksaan fungsi ginjal setidaknya satu hingga dua kali dalam setahun. Pemeriksaan ini meliputi tes urine untuk memeriksa kadar albumin dan tes darah untuk mengukur kreatinin serta estimasi laju filtrasi glomerulus (eGFR).
Selain pemeriksaan rutin, pasien juga dianjurkan untuk menjaga kadar gula darah tetap terkendali, mengontrol tekanan darah dan kolesterol, mengurangi konsumsi garam, serta menghindari penggunaan obat-obatan tanpa anjuran dokter, terutama obat pereda nyeri yang digunakan dalam jangka panjang. "Deteksi dini berarti masih ada kesempatan untuk melindungi fungsi ginjal," tegas Dr Hai.
Para pakar mengingatkan bahwa tanpa adanya perubahan gaya hidup dan peningkatan kesadaran masyarakat, semakin banyak anak muda yang berisiko mengalami komplikasi permanen akibat diabetes dan harus menjalani pengobatan seumur hidup.