Kesehatan

Kecanduan AI Berujung Fatal, Pria Ini Terdiagnosis Kanker Stadium 4

Seorang pria asal Irlandia terpaksa berjuang melawan kanker adenokarsinoma esofagus stadium 4 setelah mengandalkan AI untuk diagnosis kesehatan. Ia mengalami keterlambatan dalam mendapatkan perawatan...

D
Darma Yudhistira
08 August 2026 17 pembaca
Ilustrasi pemanfaatan AI. Foto: Getty Images/alexsl
Ilustrasi pemanfaatan AI. Foto: Getty Images/alexsl

Jakarta - Penggunaan kecerdasan buatan (AI) semakin meluas dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam bidang kesehatan. Meskipun teknologi ini menawarkan kemudahan, AI seharusnya tidak dijadikan sumber utama dalam pengambilan keputusan medis. Hal ini terbukti dari pengalaman seorang pria asal Irlandia yang mengalami kesalahan diagnosis setelah berkonsultasi dengan ChatGPT.

Konsultasi Kesehatan Melalui ChatGPT

Warren Tierney, pria yang bersangkutan, mengalami sakit tenggorokan dan kesulitan menelan cairan pada awal tahun 2025. Alih-alih mencari bantuan medis dari dokter, ia memilih untuk berkonsultasi dengan ChatGPT. Saat menjelaskan keluhannya, AI tersebut menyatakan bahwa kemungkinan Warren menderita kanker sangat kecil. "Kanker? Sangat tidak mungkin. Tidak ada gejala yang mengkhawatirkan, stabil, dan membaik," ujar ChatGPT.

Diagnosis Kanker Adenokarsinoma Esofagus Stadium 4

Walaupun Warren tidak segera pergi ke dokter, gejala yang terus berlanjut membuat istrinya, Evelyn, mendorongnya untuk mengunjungi unit gawat darurat pada Agustus 2025. Di sanalah ia didiagnosis mengidap kanker adenokarsinoma esofagus stadium 4, jenis kanker yang sering kali terdeteksi pada tahap lanjut dan memiliki harapan hidup rata-rata hanya lima tahun.

ChatGPT kemudian mengklarifikasi bahwa perangkat tersebut tidak dirancang untuk menggantikan nasihat medis profesional. "Pada akhirnya ini benar-benar menjadi masalah, karena ChatGPT mungkin menunda saya mendapatkan perhatian serius," ungkap Warren. Ia menyadari bahwa kepercayaan yang diberikan oleh AI tidak selalu akurat, dan dalam kasusnya, hal tersebut terbukti salah.

Warren juga mengingatkan agar masyarakat lebih berhati-hati dalam menggunakan AI untuk masalah kesehatan, karena pengalaman pribadinya menunjukkan dampak negatif dari ketergantungan pada teknologi tersebut. "Saya adalah contoh nyatanya sekarang dan saya dalam masalah besar karena mungkin saya terlalu bergantung padanya," tambahnya.

Setelah menjalani serangkaian pengobatan, termasuk perjalanan ke Jerman, hasil PET Scan menunjukkan bahwa Warren kini dalam kondisi remisi total dari penyakitnya.

Pentingnya Konsultasi Medis yang Tepat

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Springer Nature pada 1 Desember 2025 menunjukkan bahwa AI gagal mendeteksi hampir sepertiga kasus kanker payudara. Penelitian tersebut melibatkan 414 wanita yang baru didiagnosis menderita kanker payudara dan menemukan bahwa 30,7 persen dari seluruh kasus tidak terdeteksi oleh sistem diagnosis berbasis AI.

Studi lain yang dipublikasikan di BMJ Open pada 14 April 2026 juga mengungkapkan bahwa beberapa respons dari chatbot dapat membahayakan nyawa pasien. Peneliti dari Lundquist Institute for Biomedical Innovation mengevaluasi bagaimana chatbot AI menangani informasi ilmiah dan menemukan bahwa hampir setengah dari respons yang diberikan bermasalah.

Oleh karena itu, penting bagi individu yang mengalami gejala kesehatan yang tidak kunjung membaik untuk segera berkonsultasi dengan tenaga medis profesional, dan menggunakan AI hanya sebagai sumber informasi tambahan, bukan sebagai dasar utama dalam pengambilan keputusan kesehatan.

Artikel Terkait