Kesehatan

--- Kehilangan Empati di Kalangan Tenaga Kesehatan Akibat Burnout ---

--- Kasus pasien BPJS Kesehatan yang harus menunggu delapan jam untuk mendapatkan ruang rawat inap mengundang perhatian, terutama setelah munculnya komentar merendahkan dari beberapa dokter dan tenaga...

V
Vina Maharani
06 August 2026 22 pembaca
Ilustrasi (Foto: Getty Images/lusia599)
Ilustrasi (Foto: Getty Images/lusia599)
---TITLEEXCERPT--- Kasus pasien BPJS Kesehatan yang harus menunggu delapan jam untuk mendapatkan ruang rawat inap mengundang perhatian, terutama setelah munculnya komentar merendahkan dari beberapa dokter dan tenaga kesehatan di media sosial. ---CONTENT---

Jakarta - Kasus seorang pasien BPJS Kesehatan yang mengeluhkan penantian selama delapan jam untuk mendapatkan ruang rawat inap menjadi sorotan publik. Hal ini semakin diperparah dengan komentar merendahkan yang dilontarkan oleh beberapa dokter dan tenaga kesehatan di media sosial.

Psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menyatakan bahwa situasi ini perlu dianalisis dari berbagai perspektif. Di satu sisi, pasien mengalami kesulitan karena harus menunggu lama untuk mendapatkan pelayanan. Namun, di sisi lain, tenaga kesehatan juga menghadapi tekanan yang signifikan dalam menjalankan tugas mereka.

Tekanan dalam Sistem Kesehatan

“Rumah sakit menghadapi keterbatasan tempat tidur, tingginya jumlah pasien, beban administrasi, serta sistem pembiayaan yang sering kali menimbulkan frustrasi bagi para petugas di lapangan,” ungkapnya saat dihubungi oleh detikcom pada Rabu (5/8/2026).

Lahargo menambahkan bahwa baik pasien maupun tenaga kesehatan dapat menjadi korban dari sistem pelayanan kesehatan yang belum optimal. Ia juga menyoroti bahwa tekanan pekerjaan yang terus-menerus dapat berdampak negatif pada kesehatan mental tenaga kesehatan, yang dapat mengalami kondisi burnout, compassion fatigue, hingga moral injury.

Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental

Menurutnya, jika kondisi ini tidak dikenali dan ditangani dengan baik, maka dapat mengurangi kemampuan seseorang untuk berempati. Oleh karena itu, menjaga kesehatan mental tenaga kesehatan sangat penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien.

Namun, Lahargo menegaskan bahwa tekanan yang dialami oleh tenaga kesehatan tidak bisa dijadikan alasan untuk mengeluarkan komentar yang merendahkan martabat pasien atau mendorong tindakan bunuh diri. Ia mengingatkan bahwa kata-kata yang diucapkan kepada orang lain dapat memberikan dampak besar, terutama bagi mereka yang tengah menghadapi situasi sulit.

“Namun, seberat apa pun tekanan yang dihadapi, tidak ada situasi yang dapat membenarkan komentar yang merendahkan martabat seseorang atau mendorong orang lain untuk bunuh diri. Kata-kata bukan sekadar rangkaian huruf. Kata-kata dapat menjadi obat, tetapi juga dapat menjadi luka yang memperdalam penderitaan seseorang,” tegasnya.

Sebelumnya, sebuah unggahan di Threads oleh pasien BPJS Kesehatan yang mengeluhkan belum mendapatkan ruang rawat inap meskipun telah menunggu selama delapan jam menjadi viral. Unggahan tersebut memicu berbagai komentar, termasuk dari akun-akun yang diduga milik dokter dan tenaga kesehatan, yang dianggap tidak menunjukkan empati dan cenderung merundung pasien.

Setelah sembilan hari sejak unggahan tersebut, pasien bernama Yurizal Tri Chaerawan dilaporkan meninggal dunia pada 31 Juli 2026, menurut seorang yang mengaku sebagai kerabatnya. Komentar tidak empati dari dokter dan tenaga kesehatan kembali diangkat dan mendapat kecaman dari netizen.

Artikel Terkait