Ekonomi

--- Kekhawatiran Pasar Meningkat Setelah Mundurnya Gubernur BI Perry Warjiyo ---

--- Mundurnya Perry Warjiyo dari jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia memicu kekhawatiran di kalangan investor terkait kepemimpinan baru yang akan menggantikannya. ---

A
Agus Wigati
27 July 2026 17 pembaca
Karunia Putri
Karunia Putri
---TITLEEXCERPT--- Mundurnya Perry Warjiyo dari jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia memicu kekhawatiran di kalangan investor terkait kepemimpinan baru yang akan menggantikannya. ---CONTENT---

Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia (BI), mengundurkan diri dari jabatannya pada hari Senin, 27 Juli, yang membuat pelaku pasar menjadi lebih berhati-hati dalam melakukan investasi. Pasca pengunduran dirinya, investor kini menunggu siapa yang akan menggantikan Perry dan diharapkan mampu menjaga independensi bank sentral di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi baik di dalam negeri maupun global. Sementara itu, posisi gubernur BI untuk sementara diisi oleh Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, sebagai pelaksana tugas.

Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menyatakan bahwa reaksi awal pasar menunjukkan sikap waspada. Hal ini terlihat dari penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), pelemahan nilai tukar rupiah, dan meningkatnya kehati-hatian di kalangan investor. "Reaksi tersebut lebih didorong oleh ketidakpastian mengenai transisi kepemimpinan Bank Indonesia dibanding perubahan fundamental ekonomi," jelas Elandry.

Harapan Investor Terhadap Pengganti Perry

Elandry menambahkan bahwa pasar berharap pengganti Perry memiliki kredibilitas yang kuat dan mampu menjaga independensi bank sentral serta memastikan kesinambungan kebijakan moneter. Dengan demikian, kepercayaan investor diharapkan tetap terjaga di tengah ketidakpastian yang ada. Tantangan terbesar bagi gubernur BI selanjutnya, menurutnya, adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, dan mempertahankan koordinasi kebijakan dengan pemerintah tanpa mengurangi independensi bank sentral.

Investor juga khawatir akan terjadinya koreksi pada saham-saham perbankan. Namun, Elandry berpendapat bahwa sentimen negatif tersebut hanya akan menekan harga saham perbankan dalam jangka pendek. Ia menilai bahwa investor tidak perlu bereaksi berlebihan. "Strategi wait and see masih cukup bijak hingga ada kepastian mengenai kepemimpinan BI dan arah kebijakan ke depan,” ungkapnya.

Kekhawatiran Terhadap Penunjukan Thomas Djiwandono

Pasar sangat menantikan siapa yang akan menjadi pengganti Perry. Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas, mengungkapkan bahwa pasar akan mencermati siapa yang akhirnya ditunjuk sebagai gubernur BI definitif. Ia menilai kekhawatiran investor bisa meningkat jika Deputi Gubernur BI, Thomas Djiwandono, ditunjuk sebagai pengganti Perry. Thomas baru menjabat sebagai deputi gubernur BI sejak Februari 2026 setelah sebelumnya menjadi wakil menteri keuangan.

"Thomas baru masuk ke Dewan Gubernur BI beberapa bulan lalu. Jadi, apabila dalam waktu yang sangat singkat ia langsung naik jadi gubernur BI, menurut saya pasar akan sulit melihatnya hanya sebagai proses suksesi yang normal," kata Liza. Ia menegaskan bahwa secara hukum penunjukan Thomas dimungkinkan jika diusulkan oleh presiden dan mendapat persetujuan DPR, namun legalitas saja belum cukup untuk membangun kepercayaan pasar.

Liza juga menyoroti hubungan keluarga Thomas dengan presiden, pengalaman yang masih minim di bank sentral, serta potensi mengesampingkan Destry Damayanti dapat menimbulkan persepsi bahwa hubungan antara pemerintah dan BI beralih dari koordinasi kebijakan menjadi kontrol politik. Hal ini, menurutnya, berpotensi memunculkan fiscal dominance, di mana kebijakan moneter lebih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan fiskal pemerintah.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menilai pengunduran diri Perry menjadi pukulan bagi kredibilitas kebijakan moneter, mengingat masa jabatannya seharusnya berakhir pada Mei 2028. Ia menduga ada tekanan politik di balik keputusan tersebut, yang terlihat dari tekanan terhadap nilai tukar rupiah pada akhir 2025. Namun, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi membantah adanya tekanan politik terkait pengunduran diri Perry, yang dinyatakan sebagai alasan pribadi.

Bhima juga menyoroti masalah fiskal sebagai persoalan utama, di mana pelebaran defisit APBN dan melemahnya penerimaan pajak meningkatkan persepsi risiko Indonesia di mata investor. Ia menambahkan bahwa perubahan prospek peringkat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap tata kelola fiskal. "Tapi yang disalahkan adalah Bank Indonesia dianggap gagal melakukan stabilitas kurs dan menjaga kepercayaan investor," ujarnya.

Dengan mundurnya Perry, tantangan terbesar yang dihadapi adalah memastikan independensi BI tetap terjaga. "Selama masalah tekanan politik ke BI tidak berhenti, pengganti Perry dari internal tidak akan bertahan lama," tutup Bhima.

Artikel Terkait