Ekonomi

Kenaikan Saham ADRO, ADMR, dan AADI Setelah Ekspor Perdana Smelter Aluminium

Saham perusahaan yang dipimpin Garibaldi Thohir mengalami lonjakan setelah smelter aluminium mencatatkan ekspor perdana ke AS dan Korea Selatan.

I
Indriani Atmaja
22 July 2026 2 pembaca
Nur Hana Putri Nabila
Nur Hana Putri Nabila

Saham yang dimiliki konglomerat Garibaldi Thohir atau Boy Thohir mengalami lonjakan setelah mencatatkan ekspor perdana ke Amerika Serikat dan Korea Selatan. Berdasarkan laporan Reuters, smelter aluminium milik PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) mulai melakukan ekspor perdana pada Juni 2026.

Data dari platform perdagangan komoditas Export Genius menunjukkan bahwa PT Kalimantan Aluminium Industry mengirimkan 31.494 ton aluminium primer ke Amerika Serikat dan 3.569 ton ke Korea Selatan. PT Kalimantan Aluminium Industry merupakan anak usaha ADRO melalui PT Alamtri Minerals Indonesia (ADMR).

Seiring dengan perkembangan ini, saham ADRO naik 1,18% menjadi Rp 2.570 pada perdagangan intraday hari ini, Rabu (22/7) pukul 09.31 WIB, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 74,02 triliun. Dalam sebulan terakhir, saham ADRO melonjak 14,22% dan mengalami kenaikan 41,99% secara year to date (ytd).

Sementara itu, saham anak usahanya ADMR juga tumbuh 1,62% menjadi Rp 1.570 dengan kapitalisasi pasar Rp 64,19 triliun. Dalam sebulan terakhir, saham ADMR naik 9,03% dan tumbuh 0,64% secara ytd. Anak usaha lainnya yang bergerak di bidang batu bara, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), juga terangkat 0,83% menjadi Rp 9.075 dengan kapitalisasi pasar Rp 70,67 triliun. Saham AADI melesat 13,79% dalam sebulan dan melonjak 30,11% secara ytd.

Laporan Reuters juga menyebutkan bahwa juru bicara ADRO mengungkapkan proyek smelter aluminium tersebut telah menarik minat yang kuat dari calon pelanggan. Perseroan menargetkan penjualan ingot aluminium mencapai hingga 350.000 ton sepanjang 2026, baik untuk pasar domestik maupun ekspor.

Ekspor perdana ini terjadi di tengah upaya Amerika Serikat dan Korea Selatan mencari sumber pasokan aluminium alternatif akibat gangguan pengiriman dari pemasok utama di Timur Tengah menyusul perang AS-Iran. Kondisi ini mendorong premi aluminium di AS mencapai level tertinggi sepanjang masa pada bulan lalu.

Artikel Terkait